Gejala Awal Keracunan Makanan pada Anak dan Tanda yang Harus Diwaspadai Keracunan makanan pada anak dapat bermula dari keluhan yang terlihat ringan seperti mual, sakit perut, muntah, atau diare. Pada banyak kasus, kondisi tersebut membaik setelah tubuh memperoleh cairan yang cukup dan beristirahat. Namun, anak lebih mudah kehilangan cairan dibandingkan orang dewasa sehingga perubahan kondisi dapat berlangsung cepat, terutama pada bayi dan anak berusia kecil.
Keracunan makanan merupakan infeksi atau iritasi pada saluran pencernaan setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang tercemar. Penyebabnya dapat berupa bakteri, virus, parasit, maupun zat tertentu dalam makanan. Gejala yang paling sering muncul adalah diare, nyeri atau kram perut, mual, muntah, serta demam.
Keluhan tidak selalu muncul segera setelah anak makan. Sebagian penyebab dapat menimbulkan gejala dalam beberapa jam, sementara lainnya baru menunjukkan keluhan setelah beberapa hari. Kondisi inilah yang membuat orang tua terkadang kesulitan menentukan makanan mana yang menjadi sumber masalah.
Mual dan Sakit Perut Sering Menjadi Keluhan Awal
Perubahan pertama dapat berupa anak mengatakan perutnya tidak nyaman. Anak yang lebih kecil mungkin belum mampu menjelaskan rasa mual atau kram dengan jelas. Mereka dapat menjadi rewel, memegang perut, menolak makan, atau terlihat lebih diam dari biasanya.
CDC memasukkan sakit atau kram perut, mual, muntah, diare, dan demam sebagai gejala yang paling umum pada penyakit akibat makanan yang tercemar. Tingkat keparahannya sangat beragam, bergantung pada penyebab, jumlah kuman atau zat yang masuk, usia anak, dan kondisi kesehatannya.
Pada tahap awal, orang tua perlu mengamati apakah keluhan hanya terjadi sekali atau berkembang menjadi muntah dan diare berulang.
Riwayat makanan juga dapat dicatat. Perhatikan makanan yang dikonsumsi anak sebelumnya, tempat makanan diperoleh, serta apakah anggota keluarga atau orang lain yang menyantap makanan sama mengalami keluhan serupa.
Informasi tersebut dapat membantu dokter apabila anak akhirnya membutuhkan pemeriksaan.
Muntah Bisa Muncul dalam Waktu Singkat
Muntah merupakan salah satu cara tubuh merespons iritasi atau infeksi pada saluran pencernaan. Pada keracunan makanan tertentu, keluhan tersebut dapat muncul relatif cepat setelah makanan dikonsumsi.
IDAI menjelaskan keracunan makanan dapat menjadi salah satu penyebab muntah pada anak. Dalam beberapa kasus, keluhan dapat muncul beberapa jam setelah konsumsi makanan tertentu dan orang lain yang mengonsumsi makanan sama juga dapat mengalami keluhan serupa.
Satu atau dua kali muntah belum tentu menyebabkan dehidrasi berat. Persoalan menjadi lebih serius ketika anak muntah berulang dan setiap cairan yang diminum langsung keluar kembali.
Tubuh terus membutuhkan cairan untuk menjalankan sirkulasi darah dan menjaga fungsi organ. Bila anak sekaligus mengalami diare, kehilangan air dan elektrolit berlangsung dari dua arah.
NIDDK menyarankan cairan diberikan sedikit demi sedikit apabila muntah menjadi masalah. Tujuannya mengganti air dan elektrolit yang hilang tanpa membuat lambung menerima volume besar sekaligus.
Diare Menjadi Gejala yang Sangat Sering Ditemukan
Buang air besar menjadi lebih cair dan lebih sering merupakan tanda yang banyak ditemukan pada penyakit yang berasal dari makanan.
Sebagian kasus hanya menimbulkan beberapa kali diare kemudian membaik. Namun, diare yang sangat sering dapat dengan cepat mengurangi cairan tubuh anak.
Orang tua sebaiknya memperhatikan jumlah buang air besar, bentuk tinja, apakah terdapat lendir atau darah, serta perubahan aktivitas anak.
NIDDK menempatkan diare dan diare berdarah sebagai gejala yang dapat ditemukan pada keracunan makanan. Tinja berwarna hitam, mengandung darah, atau nanah termasuk tanda yang memerlukan pertolongan dokter dengan segera pada anak.
Darah pada tinja tidak boleh langsung dianggap sebagai diare biasa.
Penyebabnya perlu dinilai tenaga kesehatan karena sejumlah infeksi usus dapat menimbulkan peradangan yang lebih berat.
Demam Bisa Menyertai Infeksi dari Makanan
Anak juga dapat mengalami peningkatan suhu tubuh.
Demam dapat muncul ketika tubuh menghadapi infeksi bakteri atau virus yang masuk melalui makanan. Besarnya suhu dan usia anak menjadi pertimbangan penting dalam menentukan langkah berikutnya.
NIDDK menyarankan bayi dengan gejala keracunan makanan dan demam segera memperoleh penilaian tenaga kesehatan. Demam tinggi pada anak yang lebih besar juga perlu segera dikonsultasikan.
Orang tua sebaiknya mengukur suhu menggunakan termometer daripada hanya menilai panas dengan menyentuh dahi.
Catat suhu tertinggi serta waktu pengukurannya. Informasi tersebut dapat membantu saat berkonsultasi dengan dokter.
Demam yang disertai anak sangat lemas, sulit minum, muntah terus, nyeri perut berat, atau perubahan kesadaran memerlukan perhatian lebih cepat.
Bahaya Terbesar pada Anak Adalah Kehilangan Cairan
Komplikasi paling umum dari keracunan makanan adalah dehidrasi. Kondisi tersebut terjadi ketika cairan dan elektrolit yang keluar melalui diare serta muntah tidak berhasil digantikan.
Anak, terutama bayi, dapat mengalami dehidrasi jauh lebih cepat daripada orang dewasa.
NIDDK bahkan mengingatkan diare pada bayi dan anak berusia kecil dapat berkembang menjadi dehidrasi berat dalam waktu sangat singkat. Karena itu, kemampuan anak untuk minum menjadi salah satu hal utama yang perlu diamati orang tua.
Tanda awal dapat berupa rasa haus dan mulut mulai kering. Produksi urine kemudian berkurang.
Ketika kondisi semakin berat, anak dapat terlihat lemas, mata menjadi cekung, tidak mengeluarkan air mata ketika menangis, dan responsnya tidak seperti biasanya.
“Menurut penulis, jumlah muntah memang penting dicatat, tetapi kemampuan anak mempertahankan cairan jauh lebih menentukan. Anak yang terus kehilangan cairan tanpa mampu menggantinya membutuhkan perhatian lebih cepat.”
Popok Kering Bisa Menjadi Petunjuk Dehidrasi
Pada bayi, orang tua tidak dapat bertanya berapa kali anak buang air kecil. Kondisi popok menjadi salah satu petunjuk yang paling mudah diamati.
NIDDK menyebut tidak adanya popok basah selama tiga jam atau lebih sebagai salah satu tanda dehidrasi pada bayi dan anak kecil. Tanda lain meliputi mulut kering, tidak keluar air mata ketika menangis, kurang bertenaga, serta mata atau pipi terlihat cekung.
Kementerian Kesehatan juga menekankan anak dapat kehilangan cairan dengan cepat ketika mengalami muntah atau diare. Mulut kering, mata cekung, perubahan perilaku, banyak tidur, dan sulit dibangunkan termasuk keluhan yang perlu diperhatikan.
Pada anak yang sudah menggunakan toilet sendiri, orang tua dapat memperhatikan apakah frekuensi kencing jauh berkurang dan warna urine menjadi lebih pekat.
Anak yang sudah sangat lemas terkadang tidak lagi meminta minum meskipun mengalami kekurangan cairan. Karena itu, rasa haus bukan satu satunya ukuran.
Oralit Membantu Mengganti Air dan Elektrolit
Ketika anak mengalami diare, tubuh bukan hanya kehilangan air. Elektrolit ikut keluar sehingga penggantian cairan perlu dilakukan dengan tepat.
IDAI menjelaskan cairan rehidrasi oral atau oralit mengandung air dan elektrolit yang dibuat untuk membantu mencegah serta mengatasi dehidrasi akibat diare.
Pemberian dapat dilakukan secara bertahap.
Apabila anak mual atau baru muntah, cairan dapat diberikan dalam jumlah sedikit tetapi berulang. IDAI menegaskan muntah bukan alasan untuk menghentikan oralit sepenuhnya. Pemberiannya dapat dilakukan perlahan dan terus dievaluasi.
Bayi yang masih menyusu juga sebaiknya tetap mendapat ASI. NHS dan NIDDK sama sama menyarankan pemberian ASI atau susu yang biasa digunakan tetap dilanjutkan sesuai kemampuan anak.
Bila anak terus muntah dan sama sekali tidak mampu menahan cairan, pertolongan medis perlu dicari.
Jangan Mengandalkan Minuman Bersoda untuk Rehidrasi
Anak yang sakit terkadang lebih mudah dibujuk minum minuman manis. Namun, tidak semua cairan mempunyai komposisi yang tepat untuk mengganti cairan akibat diare.
NHS menyarankan menghindari jus buah dan minuman bersoda karena keduanya dapat membuat diare menjadi lebih berat pada sebagian anak.
IDAI juga menjelaskan sejumlah minuman dengan kadar karbohidrat tinggi dan kadar natrium rendah tidak ideal digunakan sebagai cairan rehidrasi. Oralit mempunyai komposisi yang dibuat khusus untuk mengganti kehilangan air dan elektrolit.
Air putih tetap dapat diberikan sesuai kebutuhan, tetapi ketika kehilangan cairan cukup banyak akibat diare, oralit mempunyai peran penting.
Formula bayi juga tidak perlu dibuat lebih encer dengan tujuan menambah cairan. NHS menyarankan susu formula tetap dibuat dengan konsentrasi seperti biasanya.
Anak Tidak Perlu Dipuasakan
Ketika muntah dan diare, sebagian orang tua memilih menghentikan seluruh makanan karena takut kondisi semakin parah.
Pendekatan tersebut tidak selalu diperlukan.
NIDDK menyebut ketika nafsu makan kembali, anak umumnya dapat kembali mengonsumsi makanan seperti biasa. Bayi dapat tetap menerima ASI atau formula.
IDAI juga tidak menyarankan anak dengan diare akut dipuasakan. Makanan serta ASI tetap diteruskan sesuai kemampuan karena tubuh membutuhkan zat gizi selama proses pemulihan.
Pada saat mual masih kuat, anak mungkin hanya mampu makan sedikit.
Tidak perlu memaksa satu porsi besar. Prioritas awal berada pada kecukupan cairan, kemudian makanan dapat diberikan kembali ketika anak mulai ingin makan.
Makanan dengan lemak tinggi atau sangat pedas dapat terasa lebih berat bagi sebagian orang ketika saluran pencernaan sedang sensitif. NIDDK mencatat makanan tinggi lemak dapat memperberat keluhan pada beberapa kasus.
Obat Penghenti Diare Tidak Boleh Diberikan Sembarangan
Orang tua dapat tergoda memberikan obat agar frekuensi buang air besar segera berkurang.
Namun, obat yang digunakan orang dewasa tidak otomatis aman bagi anak.
NHS secara khusus menyatakan obat penghenti diare tidak diberikan kepada anak di bawah usia 12 tahun.
Antibiotik juga bukan obat yang harus diberikan setiap kali anak diare setelah makan.
IDAI menjelaskan antibiotik tidak diberikan rutin pada diare akut. Penggunaan harus berdasarkan indikasi dan penilaian tenaga kesehatan.
Memberikan obat yang tersisa dari resep lama atau obat milik anggota keluarga lain dapat menghasilkan dosis yang tidak sesuai dan berisiko menutupi gejala yang sebenarnya perlu diperiksa.
Tinja Berdarah Harus Segera Mendapat Perhatian
Tinja yang mengandung darah merupakan salah satu tanda yang tidak sebaiknya hanya dipantau di rumah.
CDC memasukkan diare berdarah sebagai tanda penyakit akibat makanan yang dapat bersifat berat.
NIDDK juga meminta orang tua segera mencari pertolongan bila tinja anak berwarna hitam seperti aspal atau mengandung darah maupun nanah.
Beberapa jenis bakteri dapat menimbulkan kerusakan lebih berat pada saluran pencernaan.
Infeksi tertentu bahkan dapat diikuti komplikasi hemolytic uremic syndrome, suatu kondisi yang dapat mengganggu fungsi ginjal. NIDDK mencatat sindrom tersebut sebagai salah satu komplikasi serius penyakit akibat makanan tertentu.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya mencoba menghentikan diare ketika darah terlihat.
Pemeriksaan diperlukan untuk menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.
Muntah Hijau Bukan Tanda yang Boleh Diabaikan
Warna muntah juga dapat memberikan informasi penting.
NHS menyarankan anak yang mengeluarkan muntahan berwarna kuning kehijauan atau hijau segera dibawa untuk memperoleh penilaian medis.
IDAI juga memasukkan muntah berwarna hijau sebagai salah satu keadaan yang membutuhkan evaluasi dokter karena dapat berkaitan dengan persoalan saluran pencernaan yang lebih serius.
Artinya, tidak seluruh muntah pada anak setelah makan harus langsung dianggap sebagai keracunan makanan biasa.
Nyeri perut berat, perut membesar, muntah hijau, atau anak tampak sangat kesakitan dapat menunjukkan kondisi lain yang membutuhkan pemeriksaan.
Inilah alasan diagnosis melalui gejala saja memiliki keterbatasan.
Gangguan Kesadaran Termasuk Tanda Darurat
Keracunan makanan yang memburuk dapat membuat anak sangat lemas. Namun, terdapat perbedaan antara anak yang ingin tidur karena kelelahan dan anak yang sulit dibangunkan atau tidak memberikan respons seperti biasa.
NIDDK memasukkan perubahan keadaan mental seperti sangat lemah, kurang bertenaga, atau perilaku yang berubah sebagai tanda yang membutuhkan pertolongan dokter.
NHS menyarankan pertolongan darurat ketika anak kebingungan, tidak merespons seperti biasanya, mengalami gangguan pernapasan berat, atau warna kulit, bibir, maupun lidah berubah menjadi sangat pucat, kebiruan, atau keabu abuan.
Tanda seperti ini tidak sebaiknya ditunggu sampai keesokan hari.
Anak memerlukan evaluasi segera di fasilitas kesehatan.
“Ketika anak tidak lagi berinteraksi seperti biasanya, sulit dibangunkan, atau terlalu lemah untuk minum, fokus keluarga harus bergeser dari mencari penyebab makanan menuju memperoleh pertolongan medis secepat mungkin.”
Gejala pada Sistem Saraf Memerlukan Pemeriksaan Cepat
Sebagian kecil jenis keracunan makanan dapat memengaruhi sistem saraf.
NIDDK menyebut keluhan seperti penglihatan kabur, kelemahan, mati rasa, kesemutan, hingga kelumpuhan dapat ditemukan pada beberapa jenis keracunan yang lebih jarang. Orang dengan gejala sistem saraf disarankan segera mencari pertolongan medis.
Gejala semacam itu berbeda dari gangguan pencernaan yang umum.
Orang tua tidak perlu mencoba menunggu sampai diare atau muntah berhenti terlebih dahulu.
Keluhan neurologis setelah mengonsumsi makanan tertentu membutuhkan evaluasi dokter karena penyebab dan penanganannya dapat berbeda dari gastroenteritis biasa.
Bayi Memerlukan Ambang Kewaspadaan Lebih Rendah
Usia anak sangat menentukan seberapa cepat orang tua sebaiknya mencari bantuan.
NIDDK menyarankan orang tua tidak ragu menghubungi dokter ketika bayi atau anak mengalami gejala keracunan makanan. Bayi, anak yang lahir prematur, serta anak dengan kondisi kesehatan tertentu membutuhkan perhatian lebih cepat.
NHS juga memberikan perhatian khusus pada bayi berusia di bawah 12 bulan yang mengalami muntah atau diare.
Tubuh bayi mempunyai cadangan cairan yang lebih kecil dibandingkan orang dewasa.
Beberapa episode diare dan muntah dapat menghasilkan perubahan kondisi lebih cepat, terutama apabila bayi mulai menolak ASI atau susu.
Jumlah popok basah, kemampuan menyusu, aktivitas, suhu tubuh, serta kondisi mulut dan mata perlu diamati.
Catat Makanan yang Dikonsumsi Anak
Ketika gejala baru dimulai, orang tua dapat membuat catatan sederhana mengenai makanan yang dikonsumsi anak dalam beberapa hari terakhir.
Catat pula waktu mulai muntah, diare, demam, serta apakah anggota keluarga lain mengalami keluhan serupa.
Informasi tersebut dapat berguna ketika dokter menilai kemungkinan penyebab.
Gejala keracunan makanan tidak selalu muncul pada jam yang sama dengan makanan terakhir. CDC menjelaskan sebagian kuman menyebabkan keluhan dalam beberapa jam, sedangkan lainnya membutuhkan beberapa hari sebelum gejala muncul.
Karena itu, menyalahkan makanan terakhir yang dimakan belum tentu tepat.
Dokter mungkin meminta informasi perjalanan, konsumsi makanan tertentu, kondisi kesehatan anak, penggunaan obat, serta pola buang air besar.
Pada kasus ringan yang berlangsung singkat, pemeriksaan laboratorium belum tentu diperlukan. Namun, tes tinja atau darah dapat dilakukan pada keadaan tertentu.
Jangan Memaksa Anak Pergi Sekolah Saat Masih Diare
Anak dengan muntah dan diare membutuhkan kesempatan beristirahat sekaligus berpotensi menularkan penyebab infeksi kepada orang lain.
NHS menyarankan orang dengan keracunan makanan tetap berada di rumah selama sakit.
Kebersihan tangan menjadi sangat penting.
Orang tua perlu mencuci tangan setelah mengganti popok atau membantu anak menggunakan toilet. Peralatan makan dan area yang terkena muntahan atau tinja juga perlu dibersihkan dengan baik.
Anak sebaiknya tidak membantu menyiapkan makanan untuk anggota keluarga lain selama masih sakit.
Langkah tersebut membantu mengurangi penyebaran apabila penyebabnya berupa virus atau bakteri yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.
Tanda Darurat Harus Dikenali Sebelum Kondisi Memburuk
Banyak kasus keracunan makanan memang dapat membaik dengan istirahat dan penggantian cairan. Namun, anak tidak sebaiknya hanya dipantau di rumah apabila sudah menunjukkan tanda kekurangan cairan atau keluhan berat.
Orang tua perlu segera mencari pertolongan medis bila anak mengalami muntah berulang sampai tidak mampu mempertahankan cairan, diare sangat sering, darah pada tinja, nyeri perut berat, demam tinggi, perubahan perilaku atau kesadaran, gejala pada sistem saraf, atau tanda dehidrasi.
Pertolongan darurat diperlukan apabila anak sulit dibangunkan, tidak merespons seperti biasa, mengalami kesulitan bernapas berat, muntah hijau, atau menunjukkan perubahan warna kulit dan bibir yang mengkhawatirkan.
Sambil mengamati anak, orang tua dapat terus memperhatikan kemampuan minum, jumlah urine, air mata ketika menangis, kondisi mulut, aktivitas, serta frekuensi muntah dan diare. Perubahan pada tanda tanda tersebut dapat membantu menunjukkan apakah kehilangan cairan mulai menjadi persoalan yang lebih serius.






