Kabupaten Bima tidak hanya dikenal melalui bentang alam Pulau Sumbawa, pacuan kuda, kain tenun, dan tradisi masyarakat Mbojo. Di Kecamatan Wawo, terdapat deretan bangunan beratap runcing yang berdiri di atas tiang kayu. Bangunan itu dikenal sebagai Uma Lengge Wawo, peninggalan arsitektur tradisional yang masih digunakan untuk menyimpan hasil pertanian warga.
Kompleks Uma Lengge di Desa Maria menjadi salah satu tujuan wisata budaya penting di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Bentuknya yang sederhana menyimpan pengetahuan panjang tentang pembangunan rumah, pengamanan bahan pangan, pengaturan hasil panen, hingga pembagian tanggung jawab dalam keluarga.
Keberadaan bangunan tersebut juga memperlihatkan hubungan erat antara masyarakat Wawo dan pertanian. Padi serta palawija tidak hanya dipandang sebagai hasil kerja musiman, tetapi juga sebagai persediaan yang harus dirawat dengan perhitungan matang.
Deretan Atap Runcing di Dataran Tinggi Wawo
Uma Lengge berada di Desa Maria, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima. Kawasan ini terletak di wilayah dataran tinggi dengan perbukitan yang membentuk pemandangan khas bagian timur Pulau Sumbawa. Dari Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin, perjalanan menuju Desa Maria menempuh jarak sekitar 40 kilometer dengan waktu perjalanan kurang lebih satu jam.
Pengunjung yang tiba di kawasan Uma Lengge akan melihat bangunan tradisional tersusun dalam satu kompleks. Atapnya menjulang tinggi dengan bentuk mengerucut, sementara bagian bawahnya ditopang tiang kayu. Susunan yang rapat menjadikan kawasan tersebut tampak seperti perkampungan kecil, walaupun sebagian besar bangunannya kini berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan pangan.
Desa Maria dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan masyarakat Mbojo di Wawo. Selain Uma Lengge, pengunjung juga dapat menemukan Jompa, bangunan panggung yang digunakan sebagai lumbung. Kedua jenis bangunan itu berada dalam satu kawasan, tetapi mempunyai bentuk dan susunan atap yang berbeda.
Suasana pedesaan di sekitar kompleks turut memperkuat daya tariknya. Hamparan lahan pertanian, jalan desa, perbukitan, serta aktivitas warga membuat Uma Lengge tidak berdiri sebagai benda pameran yang terpisah dari kehidupan sehari hari.
Nama Uma Lengge Berasal dari Bentuk Bangunannya
Dalam bahasa Mbojo, kata uma berarti rumah. Kata lengge merujuk pada bentuk bangunan yang tinggi dan mengerucut. Penyebutan Uma Lengge kemudian digunakan untuk menjelaskan rumah tradisional dengan atap menjulang dan ruang penyimpanan yang ditempatkan pada bagian atas.
Masyarakat Donggo mengenal bangunan serupa dengan sebutan Uma Leme. Perbedaan penyebutan tersebut mengikuti pelafalan masyarakat setempat. Bentuk Uma Leme umumnya tampak lebih runcing, tetapi kegunaannya memiliki persamaan sebagai tempat tinggal pada masa lalu sekaligus ruang penyimpanan hasil pertanian.
Uma Lengge diperkirakan telah digunakan masyarakat Wawo selama beberapa abad. Sebuah penelitian mengenai peran warga dalam mempertahankan budaya Desa Maria menyebut keberadaannya dapat ditelusuri hingga sekitar abad kedelapan. Penentuan usia bangunan tentu tidak hanya berkaitan dengan struktur yang masih berdiri, sebab bahan kayu, bambu, dan alang alang harus diganti secara berkala. Usia tersebut lebih mengarah pada perjalanan pengetahuan membangun yang diwariskan antargenerasi.
“Uma Lengge menarik bukan karena kemegahan ukurannya, melainkan karena setiap bagian bangunan memiliki alasan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan warga.”
Rumah Tinggal yang Berubah Menjadi Lumbung
Pada masa terdahulu, Uma Lengge digunakan sebagai tempat tinggal oleh masyarakat Wawo. Sebagian bangunan juga dimanfaatkan untuk menyimpan padi dan hasil kebun. Perubahan bentuk hunian membuat fungsi tempat tinggal perlahan menghilang, sedangkan kegunaannya sebagai lumbung tetap dipertahankan.
Perubahan tersebut tidak menghilangkan kedudukan Uma Lengge dalam kehidupan warga. Ketika masyarakat mulai menggunakan rumah panggung dan rumah berdinding lebih luas, bangunan lama tetap dirawat karena ruang di bagian atasnya mampu melindungi persediaan pangan.
Padi, jagung, gandum lokal, serta berbagai jenis palawija dapat disimpan di dalam lumbung. Letaknya yang terangkat dari permukaan tanah membantu melindungi bahan pangan dari kelembapan tanah dan gangguan binatang. Ruang penyimpanan yang tertutup juga membuat hasil panen lebih mudah diawasi.
Informasi yang diterbitkan Indonesia Travel menyebut hasil panen di dalam Uma Lengge dapat disimpan hingga sekitar satu tahun. Kemampuan tersebut menjadikan lumbung sebagai bagian penting dalam pengaturan konsumsi keluarga, terutama saat musim tanam berikutnya belum menghasilkan panen.
Persediaan Pangan Diatur Sesuai Kebutuhan Keluarga
Pengambilan padi dari lumbung secara adat lebih banyak dilakukan oleh perempuan. Kebiasaan tersebut berhubungan dengan tanggung jawab mereka dalam menghitung kebutuhan bahan makanan rumah tangga. Jumlah yang diambil disesuaikan dengan keperluan keluarga agar persediaan tidak habis sebelum musim panen berikutnya.
Cara itu menunjukkan bahwa lumbung bukan sekadar tempat meletakkan karung padi. Uma Lengge menjadi bagian dari sistem pengelolaan pangan keluarga. Setiap hasil pertanian disimpan, dihitung, dan digunakan secara bertahap.
Kebiasaan menyimpan hasil panen juga memberikan perlindungan ketika produksi menurun. Keluarga masih mempunyai cadangan beras atau jagung yang dapat digunakan sambil menunggu hasil pertanian berikutnya.
Konstruksi Kayu yang Bertumpu di Atas Batu
Uma Lengge dibangun menggunakan bahan yang tersedia di sekitar permukiman, seperti kayu, bambu, rumbia, dan alang alang. Pemilihan bahan tersebut memerlukan pengetahuan mengenai kekuatan, kelenturan, serta kemampuan menghadapi perubahan cuaca.
Bangunan umumnya disangga empat tiang utama. Masing masing tiang diletakkan di atas batu yang berada langsung pada permukaan tanah. Tiang tidak ditanam secara permanen ke dalam tanah, sehingga struktur mempunyai kelenturan ketika menerima getaran. Susunan tersebut juga membantu bangunan bertahan menghadapi angin yang cukup kuat di wilayah perbukitan.
Tiang utama dikenal dengan nama Ri’i Uma. Bentuk susunannya menyerupai huruf A dan diperkuat memakai pasak yang disebut Wole. Penggunaan sambungan kayu memungkinkan bagian tertentu diperbaiki tanpa membongkar seluruh bangunan.
Di atas tiang terdapat empat potongan kayu yang disebut lengge. Ukurannya sekitar 40 sentimeter kali 40 sentimeter dan berfungsi menopang struktur bagian atas. Susunan tersebut sekaligus menjadi penghalang bagi tikus yang berusaha mencapai ruang penyimpanan.
Atap Alang Alang Menjadi Pelindung Utama
Bagian paling mencolok dari Uma Lengge adalah atapnya. Alang alang disusun rapat mulai dari puncak hingga menutupi sebagian besar badan bangunan. Bentuk curam membuat air hujan cepat mengalir ke bawah dan tidak mudah meresap ke ruang penyimpanan.
Atap tersebut sekaligus berfungsi sebagai dinding. Karena permukaannya lebar dan turun mendekati lantai panggung, bagian dalam terlindungi dari panas matahari, hujan, dan tiupan angin.
Ukuran Uma Lengge umumnya tidak terlalu besar. Indonesia Travel mencatat bangunan tersebut memiliki luas sekitar dua meter kali dua meter dengan tinggi mencapai lima meter. Perbandingan antara bagian dasar yang kecil dan atap yang tinggi menghasilkan bentuk ramping yang mudah dikenali.
Perawatan atap menjadi pekerjaan yang harus dilakukan secara berkala. Alang alang yang menua perlu diganti agar air tidak masuk ke ruang penyimpanan. Pekerjaan tersebut membutuhkan orang yang memahami susunan ikatan dan tingkat kerapatan bahan.
Tangga Lepas Menjadi Bagian dari Sistem Pengamanan
Ruang penyimpanan Uma Lengge tidak dapat dicapai langsung dari tanah. Pemilik harus menggunakan tangga kayu atau bambu untuk naik ke bagian atas. Setelah kegiatan memasukkan atau mengambil hasil panen selesai, tangga diturunkan dan disimpan di tempat lain.
Cara sederhana itu berfungsi sebagai pengamanan. Tanpa tangga, ruang lumbung sulit dijangkau oleh orang yang tidak berkepentingan. Binatang juga tidak mudah mencapai bagian penyimpanan karena harus melewati tiang, papan penghalang, dan lantai panggung.
Lokasi kompleks lumbung secara tradisional dipisahkan dari rumah warga. Pemisahan dilakukan untuk mengurangi risiko seluruh persediaan pangan ikut terbakar apabila terjadi kebakaran di kawasan permukiman. Meskipun letaknya terpisah, kompleks tidak dibiarkan tanpa pengawasan. Dahulu terdapat penjaga yang secara adat dikenal sebagai Wadu Pamali.
Penempatan lumbung dalam satu kawasan juga memudahkan warga melakukan pengawasan bersama. Setiap keluarga memiliki bangunannya sendiri, tetapi keamanan kawasan menjadi tanggung jawab yang melibatkan masyarakat.
Uma Lengge dan Jompa Memiliki Bentuk Berbeda
Pengunjung kerap menganggap semua bangunan di kompleks Desa Maria sebagai Uma Lengge. Padahal, terdapat dua jenis bangunan utama, yakni Uma Lengge dan Jompa. Perbedaannya terlihat jelas pada bentuk atap serta bagian dinding.
Uma Lengge mempunyai atap mengerucut yang terbuat dari alang alang. Atap tersebut menutupi hampir seluruh bagian ruang atas. Jompa menyerupai rumah panggung terbuka dengan atap genteng atau seng. Bangunan Jompa biasanya tidak mempunyai dinding pada bagian bawah dan lebih jelas memperlihatkan ruang penyimpanan yang terangkat.
Jompa secara khusus digunakan untuk menyimpan padi, gabah, dan palawija. Berbeda dengan Uma Lengge yang dahulu pernah menjadi tempat tinggal, Jompa sejak awal lebih dekat dengan fungsi lumbung pertanian.
Data yang pernah diterbitkan Indonesia Travel mencatat sekitar 13 Uma Lengge dan 103 Jompa milik warga di Desa Maria. Jumlah tersebut dapat berubah mengikuti perbaikan, kerusakan bahan, dan pendataan terbaru, tetapi catatan itu memperlihatkan bahwa Jompa lebih banyak dijumpai di dalam kompleks.
Ampa Fare Mengiringi Padi Masuk ke Lumbung
Hubungan masyarakat dengan Uma Lengge terlihat jelas dalam tradisi Ampa Fare. Dalam bahasa setempat, kegiatan tersebut merujuk pada proses mengangkat padi ke lumbung setelah panen.
Sebelum padi disimpan, warga mengumpulkan dan menghitung hasil pertanian. Prosesi diawali dengan doa Salama sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan agar padi yang disimpan tetap aman. Setelah itu, kepala desa atau tetua adat melemparkan ikatan padi menuju ruang lumbung. Seorang warga yang berada di bagian atas menerima padi dan menyusunnya secara teratur.
Anggota keluarga dan masyarakat kemudian mengikuti proses tersebut. Kegiatan ini mempertemukan warga dalam suasana gotong royong. Hasil pertanian yang sebelumnya dikerjakan di sawah dipindahkan ke tempat penyimpanan dengan aturan yang dipahami bersama.
Ampa Fare juga mengajarkan cara menghitung persediaan. Padi yang masuk harus diperkirakan cukup untuk kebutuhan makan, benih, kegiatan adat, serta keperluan tidak terduga.
“Prosesi Ampa Fare memperlihatkan bahwa ketahanan pangan dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana, yaitu menyimpan hasil kerja secara tertib dan menggunakannya dengan penuh perhitungan.”
Perawatan Bergantung pada Keahlian Warga
Bangunan berbahan alami tidak dapat bertahan tanpa pemeliharaan. Kayu harus diperiksa dari serangan rayap, pasak perlu dikencangkan, sedangkan alang alang harus diganti ketika mulai rapuh.
Keahlian memperbaiki Uma Lengge diwariskan melalui keterlibatan langsung. Generasi muda dapat belajar dengan mengamati pemilihan bahan, penyusunan rangka, pemasangan atap, dan pengikatan setiap bagian. Proses tersebut penting karena tidak semua tukang bangunan modern memahami susunan rumah tradisional Mbojo.
Penelitian mengenai pelestarian Uma Lengge di Desa Maria mencatat sejumlah langkah yang dilakukan warga, mulai dari penyelenggaraan Ampa Fare, pengenalan sejarah dalam kegiatan desa, kerja sama dengan pemerintah, pelaksanaan festival, hingga perbaikan bangunan.
Perawatan juga membutuhkan ketersediaan bahan alami. Alang alang berkualitas harus cukup panjang, kering, dan kuat. Kayu penyangga perlu dipilih dengan ukuran yang sesuai agar mampu menahan beban hasil panen dalam waktu lama.
Wisata Budaya yang Tetap Menjadi Ruang Kerja Warga
Kompleks Uma Lengge kini banyak dikunjungi wisatawan, pelajar, peneliti, dan fotografer. Bentuk atap yang seragam, jalur di antara lumbung, serta latar perbukitan membuat kawasan ini menarik sebagai lokasi dokumentasi.
Meski telah menjadi tujuan wisata, Uma Lengge bukan sekadar latar foto. Beberapa bangunan masih berkaitan dengan kegiatan penyimpanan hasil pertanian warga. Pengunjung perlu memahami bahwa karung, ikatan padi, tangga, dan peralatan yang berada di sekitar bangunan merupakan bagian dari aktivitas pemilik lumbung.
Desa Maria juga menawarkan pengalaman budaya lain, seperti melihat pembuatan Tembe Nggoli, mengenakan busana tradisional Bima, serta menyaksikan kesenian masyarakat apabila tersedia sesuai jadwal. Kehadiran kegiatan tersebut membuat kunjungan ke Uma Lengge dapat berlangsung lebih lama dan memberikan penghasilan bagi pemandu, perajin, pengelola desa wisata, serta pelaku usaha lokal.
Pengunjung sebaiknya meminta izin sebelum menaiki tangga, memasuki ruang tertentu, atau memindahkan benda di sekitar lumbung. Sikap tersebut penting karena setiap bangunan mempunyai pemilik dan masih berada dalam pengawasan masyarakat.
Jejak Pengetahuan Pertanian di Balik Bentuk Sederhana
Uma Lengge memperlihatkan cara masyarakat Wawo menyesuaikan bangunan dengan keadaan alam dan kebutuhan pertanian. Tiang yang berdiri di atas batu memberikan kelenturan, lantai panggung menjauhkan bahan pangan dari tanah, atap curam mengalirkan hujan, sedangkan tangga lepas membantu menjaga keamanan.
Penempatan lumbung jauh dari permukiman menunjukkan adanya perhitungan terhadap risiko kebakaran. Penyimpanan hasil panen dalam jumlah terukur membantu keluarga menghadapi jarak waktu antara satu musim panen dengan musim berikutnya.
Bentuknya boleh jadi terlihat kecil dibandingkan gudang pertanian modern. Namun, Uma Lengge menyatukan fungsi penyimpanan, pengawasan, pembagian tanggung jawab keluarga, pelaksanaan upacara adat, dan kerja bersama masyarakat.
Di antara deretan atap runcing Desa Maria, warga masih dapat menunjukkan bangunan milik keluarga mereka. Nomor atau tanda kepemilikan menjadi pembeda, sementara ruang di dalamnya menyimpan hasil ladang yang diperoleh melalui pekerjaan panjang sejak pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, hingga panen.






