UNESCO Rilis 12 Geopark Global Baru, Indonesia Masuk Daftar?

Travel83 Views

UNESCO Rilis 12 Geopark Global Baru, Indonesia Masuk Daftar? UNESCO kembali memperluas jaringan UNESCO Global Geoparks dengan menetapkan 12 taman bumi baru pada April 2026. Pengumuman ini langsung menarik perhatian dunia pariwisata dan lingkungan karena jumlah UNESCO Global Geoparks kini menjadi 241 kawasan yang tersebar di 51 negara. Pertanyaan yang kemudian muncul dari publik Indonesia cukup wajar, apakah ada geopark baru dari Indonesia dalam daftar 2026 tersebut. Jawabannya, untuk penetapan 12 geopark baru tahun ini, tidak ada nama Indonesia yang masuk. Meski begitu, posisi Indonesia tetap kuat karena sudah memiliki 12 UNESCO Global Geoparks dan berada di kelompok negara dengan jumlah geopark dunia terbanyak.

UNESCO Tambah 12 Geopark Global Baru

Penetapan 12 UNESCO Global Geoparks baru diumumkan UNESCO pada 22 April 2026. Kawasan baru itu berada di China, Prancis, Yunani, Irlandia, Jepang, Malaysia, Portugal, Federasi Rusia, Tunisia, dan Uruguay. Tunisia untuk pertama kalinya memiliki UNESCO Global Geopark melalui Dahar UNESCO Global Geopark, sedangkan Malaysia mendapat dua tambahan penting melalui Lenggong dan Sarawak Delta.

Apa Itu UNESCO Global Geopark

UNESCO Global Geopark adalah kawasan geografis tunggal yang memiliki warisan geologi bernilai internasional dan dikelola dengan pendekatan perlindungan, pendidikan, serta pembangunan berkelanjutan. Dalam sistem ini, batuan, gunung, gua, fosil, lembah, kawasan vulkanik, dan bentang alam kuno tidak hanya dipandang sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai ruang belajar tentang sejarah bumi dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Geopark berbeda dari taman nasional biasa karena unsur masyarakat lokal mendapat tempat besar. UNESCO menilai bagaimana kawasan tersebut menjaga warisan bumi, menggerakkan edukasi, melibatkan warga, serta menghubungkan alam dengan budaya setempat. Karena itu, sebuah geopark tidak cukup hanya indah. Kawasan tersebut harus punya pengelolaan yang rapi, manfaat untuk warga, dan program edukasi yang hidup.

Jaringan Kini Mencakup 241 Kawasan

Dengan tambahan 12 nama baru, jaringan UNESCO Global Geoparks kini mencakup lebih dari 882.000 kilometer persegi, kira kira setara dengan luas Venezuela. Angka ini memperlihatkan bahwa taman bumi sudah menjadi bagian penting dalam agenda pelestarian alam dunia. UNESCO juga menekankan bahwa geopark bukan hanya soal formasi batuan, tetapi juga tentang cara komunitas mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Bagi negara yang mendapat pengakuan baru, status UNESCO dapat memperkuat posisi destinasi di mata wisatawan, peneliti, pelajar, dan pengelola pariwisata. Namun, pengakuan tersebut juga membawa tanggung jawab besar karena status geopark tetap dievaluasi secara berkala.

Daftar 12 Geopark Global Baru UNESCO 2026

Daftar baru 2026 memperlihatkan keragaman bentang alam dari berbagai benua. Ada kawasan karst, pulau vulkanik, lembah, delta, pegunungan tua, sampai kawasan gurun yang menyimpan jejak sejarah bumi ratusan juta tahun.

NoGeopark BaruNegaraDaya Tarik Utama
1Changshan UNESCO Global GeoparkChinaFosil, stratigrafi, dan sejarah geologi lebih dari satu miliar tahun
2Mt. Siguniang UNESCO Global GeoparkChinaLanskap alpine, puncak tinggi, dan budaya Tibet Jiarong
3Terres d’Hérault UNESCO Global GeoparkPrancisNgarai, batuan merah, dan jejak geologi 540 juta tahun
4Nisyros UNESCO Global GeoparkYunaniPulau vulkanik, kaldera, dan kawah hidrotermal
5Joyce Country and Western Lakes Global GeoparkIrlandiaFjord, karst, dan kawasan Gaeltacht berbahasa Irlandia
6Miné Akiyoshidai Karst Plateau UNESCO Global GeoparkJepangPlato karst, gua kapur, dan catatan ekosistem laut purba
7Lenggong UNESCO Global GeoparkMalaysiaLembah arkeologi, bukit kapur, dan jejak letusan Toba
8Sarawak Delta UNESCO Global GeoparkMalaysiaDelta sungai, sejarah Borneo, dan budaya Kuching
9Algarvensis UNESCO Global GeoparkPortugalTebing pesisir, tambang garam, dan jejak gempa Lisbon 1755
10Toratau UNESCO Global GeoparkFederasi RusiaPegunungan Shikhany dan sisa karang purba
11Dahar UNESCO Global GeoparkTunisiaLanskap gurun, fosil Permian, dan hunian troglodit
12Manantiales Serranos UNESCO Global GeoparkUruguayBatuan metamorf, mata air pegunungan, dan lanskap perbukitan

Tidak Ada Nama Indonesia dalam Daftar Baru 2026

Dalam daftar 12 penetapan baru tahun 2026, tidak ada geopark Indonesia yang masuk. Nama Indonesia juga tidak tercantum sebagai negara lokasi geopark baru dalam pengumuman resmi UNESCO. Negara Asia Tenggara yang masuk daftar tahun ini adalah Malaysia, melalui Lenggong UNESCO Global Geopark dan Sarawak Delta UNESCO Global Geopark.

Bukan Berarti Indonesia Tertinggal

Tidak masuknya Indonesia dalam daftar baru 2026 bukan berarti posisi geopark Indonesia melemah. Indonesia sudah mencatat pencapaian besar pada 2025 ketika Geopark Kebumen dan Geopark Meratus masuk daftar UNESCO Global Geoparks. Dengan tambahan tersebut, jumlah UNESCO Global Geoparks Indonesia menjadi 12.

Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah geopark terbanyak di dunia. Indonesia memiliki kekuatan alami karena berada di jalur Cincin Api Pasifik, memiliki banyak gunung api, kaldera, kawasan karst, pulau tua, dan bentang alam laut yang sangat beragam.

Indonesia Tetap Disorot Lewat Revalidasi

Pada 2026, kabar baik dari Indonesia datang dari proses revalidasi. Tiga UNESCO Global Geoparks Indonesia, yaitu Rinjani, Toba Caldera, dan Ciletuh Pelabuhanratu, berhasil mendapat status Green Card setelah melewati proses revalidasi 2025. Sertifikatnya diberikan dalam seremoni UNESCO di Paris pada 30 April 2026.

Green Card menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih dinilai memenuhi standar UNESCO. Ini penting karena status UNESCO Global Geopark tidak diberikan untuk selamanya. Pengelola harus terus membuktikan bahwa perlindungan alam, edukasi, penguatan masyarakat, dan pengembangan wisata berjalan sesuai prinsip UNESCO.

12 UNESCO Global Geoparks yang Sudah Dimiliki Indonesia

Indonesia saat ini memiliki 12 UNESCO Global Geoparks. Daftarnya mencakup kawasan vulkanik, karst, kaldera, pulau granit, pegunungan purba, dan lanskap laut. Kementerian Pariwisata mencatat daftar tersebut terdiri dari Batur, Belitong, Ciletuh, Gunung Sewu, Rinjani Lombok, Kaldera Toba, Raja Ampat, Maros Pangkep, Merangin, Ijen, Kebumen, dan Meratus.

Batur dan Gunung Sewu sebagai Pelopor

Geopark Batur di Bali menjadi geopark pertama Indonesia yang mendapat pengakuan UNESCO. Kawasan ini dikenal dengan kaldera Gunung Batur, Danau Batur, dan lanskap vulkanik yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekitar. Setelah itu, Gunung Sewu menyusul sebagai kawasan karst besar yang membentang di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Keduanya menunjukkan dua wajah geologi Indonesia yang berbeda. Batur memperlihatkan kekuatan gunung api dan kaldera, sedangkan Gunung Sewu memperlihatkan bentang karst tropis dengan gua, sungai bawah tanah, bukit kapur, dan pola kehidupan masyarakat yang menyesuaikan diri dengan lahan kering.

Ciletuh, Rinjani, dan Kaldera Toba

Ciletuh Pelabuhanratu di Sukabumi menyajikan perpaduan pantai, air terjun, batuan tua, dan lanskap teluk yang luas. Rinjani Lombok di Nusa Tenggara Barat dikenal lewat gunung api, kaldera Segara Anak, savana, dan kekayaan budaya masyarakat Lombok. Sementara itu, Kaldera Toba di Sumatra Utara menjadi salah satu kawasan paling kuat secara geologi karena berkaitan dengan letusan supervolcano purba yang membentuk Danau Toba.

Tiga kawasan ini juga berhasil melewati revalidasi UNESCO. Artinya, pengelolaan mereka tidak hanya dilihat dari keindahan alam, tetapi juga dari kerja pelestarian, edukasi, dan keterlibatan masyarakat.

Belitong, Ijen, Maros Pangkep, Merangin, dan Raja Ampat

Belitong dikenal dengan batu granit raksasa, pantai jernih, serta keragaman darat dan laut. Ijen di Jawa Timur memiliki kawasan gunung api, danau kawah asam, serta jejak aktivitas vulkanik yang kuat. Maros Pangkep di Sulawesi Selatan menampilkan bentang karst tropis yang luas, gua prasejarah, dan kekayaan hayati.

Merangin Jambi memiliki jejak fosil flora purba dan lanskap geologi tua yang penting untuk ilmu kebumian. Raja Ampat di Papua Barat Daya dikenal dunia karena pulau karst, laut biru, dan keragaman hayati laut yang sangat tinggi. Kelima kawasan ini memperlihatkan bahwa geopark Indonesia tidak hanya bertumpu pada gunung api, tetapi juga laut, fosil, karst, dan batuan purba.

Kebumen dan Meratus sebagai Tambahan Terbaru Indonesia

Geopark Kebumen dan Geopark Meratus menjadi dua nama terbaru Indonesia yang masuk UNESCO Global Geoparks pada 2025. Kebumen di Jawa Tengah menyimpan formasi batuan tua, kawasan karst, gua, dan situs geologi yang penting bagi sejarah Pulau Jawa. Meratus di Kalimantan Selatan menyimpan catatan geologi yang langka melalui pegunungan yang terbentuk dari proses tumbukan lempeng dan batuan ofiolit tua.

Kehadiran dua nama ini membuat peta geopark Indonesia semakin merata. Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Bangka Belitung, dan Papua sama sama memiliki wakil dalam daftar UNESCO Global Geoparks Indonesia.

Malaysia Dapat Dua Geopark Baru, Indonesia Perlu Mencermati

Malaysia menjadi negara Asia Tenggara yang mencuri perhatian dalam daftar baru 2026. Lenggong dan Sarawak Delta resmi masuk jaringan UNESCO Global Geoparks. Ini memperkuat posisi Malaysia dalam pengembangan geowisata dan membuat persaingan destinasi alam berbasis edukasi di kawasan Asia Tenggara semakin menarik.

Lenggong Menggabungkan Geologi dan Arkeologi

Lenggong UNESCO Global Geopark di Perak memiliki lanskap teras sungai, bukit kapur, granit, hutan tropis, dan situs arkeologi penting. UNESCO juga menyoroti adanya deposit abu letusan Toba yang sangat tebal di luar Sumatra, serta keberadaan Lembah Lenggong yang sebelumnya sudah dikenal sebagai Situs Warisan Dunia.

Kawasan ini menarik karena menggabungkan cerita bumi dan cerita manusia purba. Wisatawan tidak hanya melihat batuan atau gua, tetapi juga jejak manusia yang hidup dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan.

Sarawak Delta Menonjolkan Sejarah Borneo

Sarawak Delta UNESCO Global Geopark berada di bagian barat Sarawak. UNESCO menyebut kawasan ini berada di batas geologi besar tempat dua daratan kuno bertemu lebih dari 200 juta tahun lalu. Kawasan ini juga mencakup Kuching, yang dikenal sebagai UNESCO City of Gastronomy, sehingga unsur geologi, kuliner, sungai, dan budaya lokal saling terkait.

Bagi Indonesia, keberhasilan Malaysia menambah dua geopark dapat menjadi dorongan untuk memperkuat pengelolaan geopark nasional. Indonesia punya potensi besar, tetapi setiap pengajuan baru harus disertai tata kelola yang matang.

Mengapa Status UNESCO Global Geopark Penting

Status UNESCO Global Geopark tidak hanya membawa nama besar. Pengakuan ini membantu sebuah kawasan dikenal sebagai tempat yang memiliki nilai ilmu pengetahuan, wisata, pendidikan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Geopark dapat menjadi ruang belajar bagi sekolah, kampus, peneliti, wisatawan, dan komunitas lokal.

Mendorong Wisata yang Lebih Bertanggung Jawab

Geopark mengajak wisatawan datang dengan cara yang lebih peduli. Pengunjung tidak hanya mengambil foto, tetapi juga belajar tentang proses terbentuknya gunung, gua, sungai, pulau, fosil, dan bentang alam. Dengan pemahaman itu, wisata menjadi lebih bertanggung jawab karena pengunjung tahu bahwa tempat tersebut menyimpan sejarah bumi yang panjang.

Di banyak daerah, geopark juga menghidupkan ekonomi warga. Masyarakat dapat menjadi pemandu geowisata, pengelola homestay, pelaku kuliner lokal, pengrajin, pengelola transportasi, dan penyedia jasa edukasi. Jika dikelola dengan baik, manfaat ekonomi dapat berjalan bersama pelestarian.

Membutuhkan Pengelolaan yang Tidak Boleh Berhenti

UNESCO melakukan evaluasi berkala untuk memastikan sebuah geopark tetap memenuhi standar. Jika pengelolaan menurun, sebuah geopark dapat mendapat catatan, bahkan berisiko kehilangan status. Karena itu, pemerintah daerah, pengelola geopark, masyarakat, akademisi, dan pelaku wisata harus bekerja secara terus menerus.

Tantangan yang sering muncul adalah pendanaan, sumber daya manusia, akses, edukasi publik, dan koordinasi kelembagaan. UNESCO juga menyoroti perlunya penguatan kapasitas, kolaborasi internasional, panduan operasional, dan dukungan yang lebih luas bagi jaringan geopark.

Peluang Indonesia Setelah Pengumuman 2026

Meski tidak ada tambahan baru Indonesia dalam daftar 2026, peluang Indonesia tetap terbuka. Indonesia memiliki banyak geopark nasional dan kawasan alam bernilai tinggi yang dapat disiapkan untuk pengajuan berikutnya. Namun, prosesnya tidak hanya tentang menonjolkan keindahan. Yang diuji adalah kesiapan pengelolaan, pelibatan masyarakat, pendidikan, konservasi, dan rencana kerja jangka panjang.

Geopark Nasional Perlu Diperkuat

Indonesia memiliki sejumlah geopark nasional yang berpotensi naik kelas. Agar siap menuju UNESCO Global Geopark, pengelola harus memperkuat data geologi, peta geosite, program edukasi, jalur wisata, penguatan UMKM, dan sistem pelindungan kawasan. Penyusunan dokumen juga harus melibatkan pemerintah daerah, komunitas, ahli geologi, akademisi, dan warga setempat.

Belajar dari kawasan yang sudah berhasil, status UNESCO biasanya lahir dari kerja panjang. Batur, Gunung Sewu, Rinjani, Toba, Ciletuh, dan geopark lain tidak mendapat pengakuan hanya karena terkenal sebagai destinasi wisata. Mereka harus menunjukkan bahwa kawasan tersebut punya nilai geologi internasional dan sistem pengelolaan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Wisatawan Indonesia Perlu Lebih Mengenal Geopark Sendiri

Pengumuman UNESCO ini juga bisa menjadi pengingat bagi wisatawan Indonesia untuk lebih mengenal geopark di negeri sendiri. Banyak orang mengenal Raja Ampat sebagai surga laut, Rinjani sebagai gunung pendakian, Batur sebagai kawasan wisata Bali, dan Toba sebagai danau besar. Namun, tidak semua orang memahami bahwa kawasan tersebut juga menyimpan cerita geologi penting.

Dengan mengenal geopark sebagai taman bumi, cara menikmati perjalanan bisa berubah. Wisatawan tidak hanya datang untuk panorama, tetapi juga belajar tentang batuan, gunung api, fosil, karst, dan hubungan manusia dengan alam. Inilah yang membuat wisata geopark berbeda dari wisata biasa.

Ada atau Tidak Indonesia dalam Daftar Baru UNESCO

Untuk daftar 12 UNESCO Global Geoparks baru tahun 2026, tidak ada geopark Indonesia yang masuk. Daftar tahun ini berasal dari China, Prancis, Yunani, Irlandia, Jepang, Malaysia, Portugal, Federasi Rusia, Tunisia, dan Uruguay. Namun, Indonesia tetap memiliki posisi penting karena sudah mengantongi 12 UNESCO Global Geoparks dan tiga di antaranya baru saja mendapat Green Card revalidasi untuk periode 2026 sampai 2029.

Posisi Indonesia Tetap Kuat di Peta Geopark Dunia

Indonesia tidak mendapat tambahan baru tahun ini, tetapi tetap berada dalam jajaran negara kuat dalam jaringan geopark dunia. Dengan 12 kawasan yang sudah diakui UNESCO, Indonesia punya modal besar untuk mengembangkan wisata berbasis ilmu kebumian, konservasi, budaya lokal, dan pemberdayaan masyarakat.

Tugas berikutnya adalah menjaga kualitas pengelolaan. Setiap geopark harus tetap hidup sebagai ruang pendidikan, ruang wisata bertanggung jawab, dan ruang ekonomi warga. Pengakuan UNESCO bukan akhir perjalanan, melainkan dorongan agar warisan bumi Indonesia tetap terawat dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *