Tampak suasana kompleks kantor MAF (Mission Aviation Fellowship) Indonesia di Sentani Kabupaten Jayapura. Yayasan Mission Aviation Fellowship Indonesia tegaskan pesawatnya tidak mengangkut pasukan TNI. ( FOTO: Robert Mboik/Cepos)

SENTANI-Yayasan Mission Aviation Fellowship Indonesia (YMAFI) akhirnya buka suara mengenai tragedi pembakaran pesawat mereka yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Lapangan Terbang Kampung Pagamba, Distrik Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya, Rabu (6/1) lalu.

Berdasarkan rilis resmi yang diterima Cenderawasih Pos, Senin (11/1) kemarin dijelaskan mengenai kronologi awal sampai terjadinya peristiwa pembakaran pesawat yang dilakukan oleh KKB tersebut.

Menurut YMAFI, pada siang hari tanggal 6 Januari 2021. Pesawat  Kodiak milik  Yayasan Mission Aviation Fellowship Indonesia (YMAFI) dengan noor registrasi PK-MAX mendarat di lapangan terbang Pagamba, Distrik Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya. 

Pilot yang bertugas adalah pilot Alex Ludvicek, dan ada dua penumpang serta barang masyarakat di pesawat itu.

Setelah pendaratan normal, pesawat itu dikelilingi oleh orang-orang bersenjata yang kemudian mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM). Pilot, penumpang, dan semua barang dikeluarkan, kemudian pesawat dibakar. Pilot dan penumpang masih dalam keadaan sehat.

Kelompok pelaku pembakaran telah memberikan pernyataan kepada media di Indonesia tentang alasan tindakan mereka. Klaim oleh kelompok tersebut bahwa pesawat itu digunakan untuk mengangkut personel dan persediaan militer adalah tidak benar.

Kebijakan YMAFI menyatakan bahwa membawa personel militer bersenjata atau orang bersenjata atau tidak bersenjata yang terlibat dalam aksi militer, sangat dilarang di pesawat MAF. Karena hal itu tidak mewakili visi YMAFI. Kebijakan ini termasuk kelompok kriminal bersenjata.
Selanjutnya,  YMAFI berkomitmen untuk bersikap netral dalam hal politik di negara yang mereka  layani. 

Pasca pembakaran pesawat, pilot Alex Ludvicek  menggunakan radio VHF miliknya berkomunikasi dengan pesawat YMAFI untuk menjemputnya.  

Dalam rilis yang diterima Cenderawasih Pos juga menyebut bahwa anggota gereja lokal dari kampung setempat membantu Ludvicek dalam perjalanan menuju ke desa lain untuk dapat menghubungi helikopter. Polisi setempat sedang menyelidiki insiden tersebut dan YMAFI bekerja sama dengan mereka.

Menanggapi insiden tersebut, Presiden dan CEO MAF di Amerika, David Holsten mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan yang telah menolong pilot saat terjadinya peristiwa itu.

“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan atas perlindungan-Nya bagi pilot kami, yang dalam kondisi baik dan telah bersama keluarganya,” ungkap David Holsten.

Berdasarkan catatan pihak MAF, sejak tahun 1954 MAF telah melayani masyarakat di Papua. Bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dalam menyediakan penerbangan untuk obat-obatan dan tenaga medis, guru, dan barang-barang lainnya untuk kesejahteraan masyarakat.
“Kami juga melayani misionaris, pendeta, penerjemah Alkitab, dan yayasan pelayanan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang tinggal di daerah yang
sangat terpencil yang kami layani. Saya sangat sedih dengan hancurnya pesawat ini yang merupakan persembahan atau sumbangan, yang digunakan untuk melayani masyarakat di Papua ini. Tujuan kami di Indonesia adalah, untuk misi kemanusiaan berdasarkan panggilan Tuhan untuk mengasihi dan melayani sesama,” ungkapnya.

Pihaknya tetap berkomitmen untuk melayani  mereka yang tinggal atau menetap di daerah yang  paling terisolasi di dunia. “Saya juga ingin menyampaikan penghargaan saya yang dalam, kepada anggota dan pendeta gereja di Pagamba yang telah memberikan perlindungan secara fisik untuk Alex Ludvicek selama kejadian ini dan atas bantuan mereka dalam menyelamatkannya. Saya juga berterima kasih kepada operator penerbangan misi lain yang membantu kami dalam proses evakuasi.” tambahnya.

Perlu diketahui, saat ini YMAFI memiliki sembilan pesawat yang melayani di enam pangkalan yang berbeda di Indonesia, yakni di Papua dan Kalimantan. Pesawat yang digunakan adalah Kodiak, Cessna Grand Caravan, dan satu Caravan Amfibi. (roy/nat)