Theo Hesegem: Apa Untungnya Menembak Sipil ?

JAYAPURA- Meninggalnya dua pekerja kemanusiaan akibat ditembak di Beoga, Kabupaten Puncak membawa duka bagi tenaga Pendidikan di tanah Papua. Sebagian orang mengutuk keras tindakan tersebut.

Dari kesaksian seorang Kepala Sekolah SMPN1 Beoga, Junaedi Arung Sulele yang selamat dari teror penembakan Kelompok Krminal Bersenjata (KKB). Dua guru yakni Oktavianus Rayo dan Yonathan Renden merupakan guru terbaik, mereka dari masyarakat sipil tidak ada hubungannya dengan aparat TNI-Polri.

“Tidak banyak orang yang mau bertahan hidup di pedalaman, hidup bersama keluarga bertahan  di tengah hutan belantara,” tutur Junaedi.

Junaedi begitu terpukul, ia menyampaikan rasa dukanya atas berpulangnya dua kerabatnya Oktavianus Rayo dan Yonathan Renden. Kesedihan sekaligus amarah terlihat dari mimik wajah Junaedi. “Saya mengutuk keras tindakan ini, kami harap aparat keamanan bertindak menjaga diri dan juga menegakkan hukum yang belaku,” pintanya.

Ia menegaskan, kedua korban yang meninggal akibat ditembak merupakan guru yang berasal dari Toraja. Kondisi Beoga yang sulit dijangkau kendaraan menyebabkan tidak banyak orang maupun pendatang yang mau bertahan di daerah tersebut.

“Bapak Oktavianus dan Yonathan ini  mendidik anak Papua dengan setulus hati, mendidik anak anak pedalaman Papua. Kami orang Toraja percaya dengan aparat dan kami taat hukum. Kami mohon aparat menjaga masyarakat tanpa terkecuali. Apalagi guru yang mendidik anak Papua, kami sangat sesalkan kejadian ini,” tegasnya.

Dalam penjelasannya, sebelum ada kejadian hingga pihaknya semua turun, situasi sudah kembali kondusif. Sehingga dirinya dan lainnya memutuskan untuk kembali ke Beoga. Saat penembakan terjadi,  Junaedi tidak melihat orang.

“Ketika bunyi tembakan saya lari ke arah kanan, almarhum Yonatan Renden ke kiri. Korban sudah kena dua kali tembakan di dada tapi masih sempat lari kemudian rubuh,” paparnya.

Sementara korban lain, Junaedi tidak berada di TKP. Lokasinya begitu jauh, lokasi korban pertama di SMPN 1 Beoga, korban itu guru SD Klemabeth. Tetapi karena istrinya mengajar di SMP mereka tinggal di perumahan guru SMPN 1 Beoga.

Saat penembakan, Oktovianus Rayo (40) dikepung KKB. “Selama ini situasi aman-aman saja, aparat keamanan dari Koramil, Polsek dan Satgas TNI-Polri selama ini memang sudah berjaga di Beoga,” ungkap Junaedi.

Kedua korban itu merupakan guru kontrak, Oktavianus sudah 10 tahun menjadi guru kontrak, sedangkan Yonathan 2 tahun menjadi guru kontrak. Kedua korban sudah berkeluarga.

Dijelaskan oleh Junaidi bahwa tidak banyak pendatang di wilayah Beoga, hanya para guru saja. Serta informasi yang menyatakan Junaidi diculik tidak sepenuhnya benar. Saat terjadi penembakan, Junaidi  bersembunyi di rumah warga. Ketika aparat TNI-Polri yang mengevakuasi jenazah lewat di dekat persembunyiannya, Junaidi  keluar dan ikut mengamankan diri di Koramil.

Sementara itu,  Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (Pembela Ham Sedunia) Theo Hesegem menyebut penembakan terhadap dua guru di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak pada Kamis (8/4) merupakan tindakan yang sangat keji dan tidak manusiawi.

Terkait tindakan tersebut, perlu ada tim gabungan yang melibatkan dari perbagai pihak untuk melakukan investigasi mendalam terhadap penembakan 2 guru yang merupakan sebagai pengajar.

“Menurut saya, mereka harus diberikan kebebasan dan penghargaan. Karena mereka juga adalah bagian dari masyarakat sipil yang sama sekali tidak punya senjata dan tidak tahu masalah apa-apa,” kata Theo sebagaimana rilis yang diterima Cenderawasih Pos, Minggu (11/4).

Sebagai pembela HAM, ia sangat menyesal tindakan brutal yang diduga dilakukan oleh OPM. Mengorbankan kedua guru, yang sama sekali tidak tahu masalah apa-apa,  apa untungnya menembak warga masyarakat sipil yang notabenenya tidak tahu masalah ?

“Sebagai warga negara Indonesia, mereka juga punya hak hidup yang sama dengan kita.  Mereka datang untuk membangun sumber daya manusia di tanah Papua, kok mereka ditembak ? Menurut saya adanya guru maka kita bisa menjadi pintar dan menjadi orang-orang hebat di tanah ini untuk membangun Papua,” paparnya.

Seharusnya lanjut Theo, guru diberikan kebebasan. Sehingga bebas menjalani tugas dan tangung jawab mereka  sebagai guru. Oleh karena itu mereka harus bebas, dihargai dan dihormati oleh semua orang termasuk OPM. Apalagi kedatangan mereka di Beoga membangun sumber daya manusia, pendidikan di tanah Papua lebih Khusus Kabupaten Puncak.

“Tanpa guru, pendidikan di Papua tidak bisa maju. Semua orang punya kewajiban untuk menjaga dan melindungi mereka sekalipun mereka adalah masyarakat non Papua. Sehingga hubungan masyarakat asli Papua dan masyarakat warga non Papua memiliki hubungan yang sangat harmonis dan membangun beradaban di tanah Papua,” tuturnya.

Menurutnya, kalau memang penembakan itu diduga dilakukan oleh OPM/TPNPB, ini adalah  tindakan yang tidak terukur  dan tindakan itu merugikan anak-anak sekolah. Karena tanpa guru, sekolah tidak akan berjalan dengan lancar. Semua murid akan menjadi bodoh karena tidak belajar dengan baik. “Seharusnya guru-guru tidak perlu ditembak dan menurut saya, tindakan ini tindakan tidak manusiawi,” tegasnya.

Lanjutnya, jika penembakan ini betul dilakukan oleh OPM atau TPNPB. Maka sangat menciderai perjuangan mereka  yang selama ini berjuang untuk Papua merdeka di mata internasional. Sebagai pembela HAM, Theo menyesal tindakan yang dilakukan oleh oknum aparat TNI-Polri dan OPM/TPNPB yang selalu sangat tidak profesional. “Menurut saya, seluruh tindakan ini harus dipertangungjawabkan secara hukum sesuai undang-undang yang berlaku,” tegas Theo.

Sebagai pembela HAM, dirinya mengutuk keras. Karena tindakan yang dimaksud tindakan yang sangat tidak manusiawi, karena menghilangkan nyawa orang lain. Yang bisa mencabut nyawa manusia adalah hanya Tuhan bukan manusia atau dari kelompok manapun.

“Saya sangat menyesal atas kejadian penembakan terhada kedua guru yang di Beoga, karena masa depan pendidikan anak-anak Kabupaten Puncak Papua akan tertinggal jauh,” kata Theo.

Menurutnya, pelaku penembakan terhadap guru harus ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Karena tindakan yang dilakukan adalah tindakan melanggar hukum dan menghilangkan nyawa orang, sehingga dapat dipertanggung jawabkan di depan hukum.

Theo juga meminta pemerintah yang dikendalikan oleh Joko Widodo, harus membuka diri dan mencari format-format baru, untuk nenyelesaikan pertumpahan darah yang terjadi di tanah Papua. Sehingga penembakan yang terjadi selama ini  dapat diakhiri.

“Pemerintah harus membuka mata dan telinga. Jangan menjadi bisu dan tuli terhadap peristiwa-peristiwa di tanah Papua. Silakan buka ruang dialog yang bermartabat dan berwibawa,” tutupnya.

Secara terpisah, Komnas HAM RI Perwakilan Papua telah mengambil langkah-langkah berkoordinasi dengan Bupati Puncak dan pihak terkait atas kejadian tersebut.

Kepala Komas HAM Papua Frits Ramandey menyampaikan, pihaknya telah memberi catatan kepada bupati sebagai kepala wilayah segera mengambil legisi untuk paling tidak orang-orang non Papua yang ada di Beoga terutama para guru dan petugas kesehatan, diberi jaminan untuk keselamatan mereka.

“Kita juga minta bupati agar bekerja sama dengan Kepolisian agar polsi bisa difasilitasi datang ke Beoga memastikan agar kelompok ini tidak lagi melakukan  tindakan yang mengakibatkan korban jiwa berjatuhan lagi,” kata Frits.

Meminta bupati agar menyerukan kepada kelompok yang melakukan kekerasan untuk menghentikan tindakan mereka.

Komnas HAM juga telah berkoordinasi dengan Kapolda Papua agar kehadiran polisi  di Beoga menjadi penting untuk memastikan bahwa pemulihan kondisi Kamtibmas di Puncak terjamin. Serta menyerukan kepada TPN-OPM tidak lagi melakukan tindakan kejahatan seperti itu. “Tindakan kejahatan seperti ini tidak akan mendapat simpati dan dukungan baik  itu dimekanisme nasional maupun mekanisme internasional,” ucap Frits.

Terkait isu korban ditembak karena sering membawa senjata,  Frits menyayangkan untuk hal-hal seperti itu seseorang ditembak. Apalagi ia pekerja kemanusiaan.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Papua melalui Sekda Provinsi Papua, Dance Yulian Flassy, SE, M.Si mengutuk keras dan menyayangkan adanya penembakan dua guru yang menyebabkan meninggal dunia yakni Oktavianus Rayo dan Yonathan Renden serta juga membakar sekolah yang ada di Beoga, Kabupaten Puncak.

“Kami pemerintah prihatin. Kami terus berkordinasi dengan Pemerintah Pusat, keamanan dan saya inginkan agar kepala daerah harus berada di tempat untuk melakukan konsulidasi di tingkat daerah,” ungkap Sekda Dance Flassy, Sabtu (10/4)

Ia menambahkan kehadiran negara akan selalu ada untuk melindungi guru-guru di pedalaman Papua. Ia juga menjalaskan telah berkordinasi dengan pihak keamanan agar memberikan rasa aman bagi guru-guru di pedalaman Papua.

“Kepala dinas sudah terus berkordinasi dengan keamanan dan senang dinas bekerja cepat dan saya harap para guru untuk bertahan ditempat, saya yakin Tuhan akan melindungi tugas bapak dan ibu guru,”pungkasnya. (fia/ana/nat)