Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw

JAYAPURA– Polda Papua terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap dalang utama kematian salah satu staf Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Yahukimo Henry Jovinski (24), meninggal dunia dengan tiga tusukan benda tajam menancap di tubuhnya pada Selasa (11/8) sekira pukul 14:00 WIT di Jembatan Brasa Kecil (Kali Teh), Distrik Dekai Kabupaten Yahukimo.

Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan, tim yang sudah dibentuknya Selasa (18/8) sudah mencoba masuk ke lokasi yang ditengarai sebagai tempat tinggal pelaku. Namun, ketika masuk anggota di lapangan tidak menemukan pelaku.

“Anggota kami masuk ke lokasi tersebut sekira pukul 02:00 WIT melakukan pemantauan hingga menjelang subuh pukul 05:00 WIT. Namun tidak menemukan pelakunya,” ucap Kapolda kepada wartawan di Mapolda Papua, Rabu (19/8).

Kapolda mengaku identifikasi pelaku sudah didapat. Artinya dalam waktu cepat kasus tersebut bisa terungkap. Lanjut Kapolda, ada kejanggalan dalam kematian Staf KPU Yahukimo itu. Sebab, ada dua anggota KPU yang sama-sama punya peranan masing masing. Bersama-sama bergerak dengan dalil mengantar obat. Namun, setelah kembali dihadang orang dijalan hingga terjadi penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.

“Pertanyaannya kalau ada yang dipermasalahkan, artinya yang mengajak korban saat itu minimal memberikan sebuah perlawanan namun kenyataanya tidak ada. Bahkan korban teraniaya hingga menyebabkan dia meninggal dunia, begitu kejam,” papar Kapolda.

Atas kejanggalan tersebut, Kapolda mengatakan ada tanda-tanda yang mencurigakan dalam kematian staf KPU Yahukimo tersebut. Sehingga banyak pertanyaan yang timbul akibat daripada kejaknggalan itu sendiri.

“Nanti kita ungkap setelah pelakunya kita temukan, semua punya hak untuk menyampaikan keterangan apa adanya. Ada yang kita tengarai dan mudah-mudahan dalam waktu cepat bisa ditangkap pelakunya, biar terungkap latar belakang penganiayaan hingga mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain,” tuturnya.

Sebelumnya, kematian Henry pria asal Banyumas dalam perjalanan pulang bersama rekan sekerjanya bernama Kenang Mohi yang mengantarkan obat untuk isteri Kenan yang sakit bernama Carolina pahabol di kediamannya yang ada di Dekai.

Henry dan Kenang sedang berboncengan menggunakan kendaraan roda dua. Namun, setiba di jembatan gunung. Keduanya dihadang pelaku yang diduga adalah KKB. Pertama yang melakukan penghadangan sebanyak 1 orang pelaku dengan ciri-ciri berambut gimbal bercirikan seperti pasukan KKB yang ditujukan kepada Henry dengan pertanyaan kamu (henry-red) orang apa dan mana KTP.

Saat korban sedang menjelaskan. Ia telah ditusuk dari belakang, sehingga korban terjatuh. Tak lama kemudian, satu pelaku lainnya muncul dari semak-semak dan melakukan penganiayaan yang sama terhadap korban hingga meninggal dunia. (fia/tri)