Yok Ngomong Jowo, Upaya Hasan Suyat Menjaga Bahasa Jawa di Malaysia dari Kepunahan

PELESTARI: Hasan Suyat mengenakan pakaian khas Jawa dan pakaian Melayu.

Hasan Suyat belajar bahasa Jawa secara daring, lalu mengasahnya lewat ngobrol dengan pekerja migran Indonesia dan turis asal Jogjakarta yang tak bisa pulang akibat pandemi. Hasilnya, buku pembelajaran dasar boso Jowo.

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta, Jawa Pos

DI politik, ada perdana menteri (PM) Malaysia sekarang, Muhyiddin Yassin, yang beribu keturunan Jawa. Ahmad Zahid Hamidi, deputi PM era Najib Razak, malah berayah kelahiran Kulonprogo, Jogjakarta, dan beribu perempuan asal Ponorogo, Jawa Timur.

Di dunia seni juga berderet contoh tokoh negeri jiran Indonesia itu yang berdarah wong Jowo. Ada penyanyi Herman Tino, sastrawan Djamal Tukimin, dan pelawak Datuk Aziz Sattar.

Jumlah pastinya memang agak sulit diketahui karena sensus penduduk di Malaysia tak memasukkan Jawa sebagai kategori. Namun, mengutip joshuaproject.net, sekarang jumlah orang Jawa dan keturunannya diperkirakan mencapai 670 ribu jiwa.

Migrasi itu berlangsung sejak berabad-abad silam, tapi kian intensif pada masa kolonialisme. Orang-orang Jawa di Selangor, misalnya, didatangkan sebagai buruh perkebunan.

Mayoritas warga keturunan Jawa di Malaysia berada di Johor, Selangor, dan Perak. Namun, ada pula di negara-negara bagian lain. Malaysia adalah negara di luar Indonesia yang paling banyak orang Jawa atau keturunannya.

Dengan latar belakang seperti itu, toh bahasa Jawa tak imun dari kepunahan. Generasi keturunan ketiga dan di bawahnya rata-rata hanya bisa cakap Melayu dan mungkin hanya menguasai beberapa kosakata Jawa.

Itulah yang mendorong Hasan Suyat, seorang penggiat industri wisata yang lahir dan besar di Kampung Jawa, Selangor, Malaysia, menulis buku Yok Ngomong Jowo. Di dalam buku tersebut, dia menyajikan materi pembelajaran dari dasar. Kemudian, Hasan juga memberi sejumlah contoh-contoh percakapan. ’’Di buku ini tersaji bahasa Jawa kromo dan ngoko,’’ katanya ketika dihubungi Jawa Pos melalui panggilan video pada Selasa (9/3) lalu.

Hasan juga menyisipkan ungkapan-ungkapan dalam bahasa Jawa sekaligus penjelasannya. Contohnya adalah ungkapan wong Jowo ojo nganti ilang Jawane (orang Jawa jangan sampai kehilangan kejawaannya). Ada kata Jowo dan Jawane. Satunya menggunakan O dan satunya lagi A.

Semasa kecil, Hasan masih sering mendengar percakapan dengan bahasa Jawa di keluarga besarnya. ’’Embah cakap sama orang kampung pakai bahasa Jawa,’’ ujarnya dalam logat Melayu.

Pria kelahiran Selangor, 13 September 1989, itu menceritakan bahwa darah Jawa mengalir dari kakeknya, baik dari pihak ibu maupun ayah. Dari pihak ayah, kakeknya yang bernama Abdul Kadir berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Kakeknya dari ibu bernama Siraj asal Kebumen, Jawa Tengah.

Hasan belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dua provinsi selain Jogjakarta yang mayoritas warganya berbahasa Jawa. Dia hanya pernah berkunjung ke Bandung, Jawa Barat.

Bapak dan ibunya juga masih menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Namun, ketika sudah sampai ke generasi Hasan dan di bawahnya, penggunaan bahasa Jawa mulai berkurang.

Misalnya, yang bisa dilihat di salah satu episode kanal YouTube Camomile Freedom bertajuk Pandai ke Aku Cakap Bahasa Jawa?????. Konten itu berisi percakapan seorang cucu dengan neneknya yang berasal dari Jawa. Bahasa Jawa si nenek masih terdengar agak medok. Sementara itu, si cucu sulit mengucapkan enem (enam).

Selangor memang dikenal sebagai salah satu sentrum orang Jawa dan keturunannya di Malaysia. Banyak pula pekerja migran Indonesia yang mencari nafkah di sana. Karena itulah, Selangor FA, klub jagoan negara bagian tersebut, rutin merekrut bintang-bintang lapangan hijau dari Indonesia. Dimulai dari Ristomoyo pada 1980-an, dilanjutkan Bambang Pamungkas-Elie Aiboy pada awal 2000-an, Andik Vermansah di awal dekade berikutnya, serta duet Evan Dimas Darmono-Ilham Udin Armaiyn menjelang akhir dekade ini.

Ahmad Sahidah yang pernah menjadi dosen di Universiti Utara Malaysia mengenang ketika pernah menyaksikan laga antara Public Bank FC versus Selangor FA. ”Keluar dari stadion, wah tenaga kerja Indonesia yang nonton laga itu meluber. Mereka beramai-ramai naik bus,” kenang Sahidah yang berasal dari Sumenep, Madura.

Semasa berkuliah di Universiti Sains Malaysia di George Town, teman sekamar Sahidah juga seorang pria Malaysia keturunan Jawa. ’’Masih bisa ngomong Jowo, ’’ katanya.

Hasan mulai tergerak menghidupkan bahasa Jawa di kalangan warga Malaysia yang berdarah Jawa sekitar tiga-empat tahun lalu. Dia tergerak mempelajari bahasa Jawa secara online. Melalui program Sriwedari yang digagas orang-orang dari Solo, Jawa Tengah.

Hasan sempat menemukan beberapa kendala dalam pembelajaran yang diikutinya itu. Salah satunya adalah bahasa Jawa yang dia pelajari memakai aksara hanacaraka. ’’Saya tidak paham,’’ ucapnya.

Materi bahasa Jawa yang dia pelajari secara online itu menggunakan bahasa halus atau kromo. Hasan akhirnya bisa mengikuti. Untuk mengasah hasil belajarnya itu, Hasan sering menguji beberapa kata dengan disampaikan kepada orang tuanya. ’’Kata orang tua saya, embah dulu pernah bilang ini,’’ katanya.

Dia juga mengecek ke paman atau pakliknya. Ternyata bahasa kromo yang dia pelajari cocok, tapi tak dipakai lagi di keluarganya saat ini.

Hasan juga mengasah kemampuan berbahasa Jawanya ke para pekerja migran Indonesia yang ditemuinya. Dia sering mengajak mereka berbicara dengan bahasa Jawa. Ternyata dia kerap menemukan perbedaan kosakata Jawa yang diucapkan para pekerja migran itu. Dia pun semakin bersemangat belajar bahasa Jawa.

’’Contohnya, perkataan nggih dan sampun. Oleh orang-orang Indonesia yang bekerja di sini, pengucapannya digabung jadi nggihpun. Saya sempat bingung,’’ jelasnya.

Contoh lainnya adalah kata mangke (nanti) dan mbenjing (besok). Kemudian, pengucapannya digabung menjadi mangkenjing. Kian hari kosakata Hasan pun semakin banyak.

Selain itu, Hasan sempat cukup lama belajar bahasa dengan wisatawan asal Jogjakarta yang dikenalnya. Kebetulan, saat itu si wisatawan tadi tak bisa pulang akibat pandemi Covid-19. Sekitar tiga bulan Hasan belajar bahasa Jawa dengan orang tersebut. ’’Akhirnya, kemampuan bahasa Jawa saya agak meningkat,’’ jelasnya.

Itu yang membuatnya semakin bersemangat melestarikan bahasa Jawa. Mengajarkan bahasa Jawa ke orang-orang lain. Supaya bahasa Jawa di Malaysia tak punah.

Menurut dia, di Malaysia saat ini ada 134 bahasa. Salah satunya sudah punah. Yaitu, bahasa Lelak di Serawak. Tiga belas bahasa lain di Malaysia hampir pupus atau punah. Salah satunya, bahasa Jawa.

Hasan menegaskan, bahasa di Malaysia itu bukan hanya bahasa Melayu. Tapi juga banyak bahasa dari Indonesia. Namun, banyak orang yang kurang memahaminya. ’’Itulah yang membuat kita Malaysia dan Indonesia sering berantem. Dikira Malaysia itu Melayu saja,’’ ujarnya, lantas tertawa.

Hampir sama dengan di Indonesia, punahnya bahasa di Malaysia disebabkan penuturnya sedikit. Dari 13 bahasa yang hampir punah itu, penutur aslinya tak lebih dari 3.000 orang saja. Kecuali, bahasa Jawa yang sejatinya masih banyak orang Jawa dan keturunannya. Masalahnya, orang Jawa di Malaysia saat ini sudah terserap menjadi orang Melayu. Akibatnya, dalam percakapan sehari-hari mereka lebih sering menggunakan bahasa Melayu.

Sebaliknya, bahasa Tidung di Malaysia relatif lebih aman. Padahal, jumlah penutur bahasa Tidung yang berasal dari Kalimantan tak sebanyak orang Jawa. Namun, dalam kesehariannya orang-orang keturunan Tidung konsisten menggunakan bahasa etnis mereka.

Dalam bukunya, penggunaan ”E” juga dia jelaskan dengan mudah. Hasan menjelaskan, kata gamelan oleh orang Malaysia dibaca gamelan dengan huruf E yang dibaca seperti kata eman. Untuk huruf E yang dibaca seperti kata eman, dia memberi tanda khusus di bagian atasnya. Huruf E yang dibaca seperti kata apel tak diberi tanda apa-apa.

Dia berharap, melalui upayanya tersebut, bahasa Jawa bisa lestari. Minimal tak cepat punah. Siapa tahu, kelak 10 atau 20 tahun dari sekarang, ada PM Malaysia berikutnya dari keturunan Jawa dan masih fasih coro Jowo. (*/c14/ttg/JPG)