Dua Anggota TNI Dikeroyok, Sejumlah Warga Dianiaya

SENTANI-Kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua orang warga sipil dengan seorang anggota TNI dari Yonif 751/Raider di sekitar Jalan Tabita, Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (4/11) malam mengakibatkan kedua belah pihak saling lapor ke pihak berwajib.

Kapolres Jayapura, AKBP. Victor Mackbon

Dari pihak warga melaporkan kasus penganiayaan yang diduga dilakukan sejumlah oknum anggota Yonif 751/Raider, sementara dari anggota TNI melaporkan kasus pengeroyokan yang menimpa dua anggota Yonif 751/Raider.

Selain saling lapor, keterangan yang disampaikan oleh kedua belah pihak juga berbeda. Dari pihak warga menuding, oknum anggota Yonif 751/Raider yang menabrak dua orang pemuda yang mengendarai sepeda motor.

Warga menuding, oknum anggota TNI ini enggan bertanggungjawab, hingga mereka menahan sepeda motor yang dikendarai oknum anggota TNI tersebut. Buntutnya menurut warga, sejumlah oknum anggota Yonif 751/Raider mendatangi komplek Solikma di Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura.

Oknum anggota TNI ini menurut warga, tidak terima lantaran motor yang dikendarai oknum TNI dan terlibat tabrakan ditahan warga. Bahkan diduga oknum anggota TNI ini melakukan penganiayaan terhadap sejumlah warga.

“Setalah ditahan motornya, malam-malam begini mereka datang satu truk ada dua puluh lebih dengan senjata dan parang lalu masuk rumah kemudian pukul sembarang-sembarang dan dapat dua kaka laki-laki itu mereka pukul sampai luka-luka,” ucap seorang warga yang enggan namanya dikoran kepada Cenderawasih Pos, Kamis (5/11).

Akibat kejadian tersebut menurutnya ada seorang penghuni asrama dalam kondisi sakit akhirnya meninggal dunia. Terkait kejadian ini, warga mengaku sudah melapor ke Mapolres Jayapura. “Keadaan sekarang di asrama sudah aman, tapi kita macam trauma dan takut ada lagi kejadian yang kita tidak tahu apa-apa malah menjadi korban,” tambahnya.

Sementara itu, Kapolres Jayapura, AKBP. Victor Mackbon mengakui adanya kasus lakalantas yang akhirnya mengakibatkan terjadinya kasus dugaan pengeroyokan dan penganiayaan.

Dikatakan, berdasarkan laporan yang diterima Polres Jayapura, dua angggota Yonif 751/Raider dikeroyok sejumlah warga.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal yang dilakukan oleh pihak kepolisian, peristiwa tersebut berawal dari kasus lakalantas. Dimana Rabu (4/11) malam 3 orang anggota Yonif 751/Raider  pergi mencari makan malam menggunakan sepeda motor. Namun saat tiba di Jalan Tabita, satu motor yang dikendarai oleh seorang anggota TNI ditabrak oleh oknum warga dari belakang. Akibatnya keduanya  terjatuh dan pada saat itu juga warga yang ada di sekitar ruas jalan itu langsung menganiaya anggota TNI yang mengendarai motor.

“Jadi ada tiga anggota TNI dari Yonif 751, dua anggotanya pakai satu motor dan satu lagi sendirian. Anggota yang pakai motor  sendiri  ini yang ditabrak oleh salah seorang pengendara,” ungkap Kapolres Victor Mackbon yang dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Kamis (5/11) malam.

Victor Mackbon menyebutkan, anggota TNI yang terlibat dalam lakalantas ini sempat dipukuli menggunakan balok dan tangan. Termasuk salah satu rekannya yang berusaha menyelesaikan lakalantas tersebut secara baik-baik, ikut dikeroyok. Karena kalah jumlah, salah satu anggota yang masih berada di atas motor  langsung menarik rekannya dan melarikan diri ke markas Yonif 751/Raider, berbonceng tiga.

“Awalnya ini lakalantas. Anggota TNI ini mau baik-baik bicara sebenarnya, tapi main hajar saja di situ. Setelah itu mereka meninggalkan TKP dan  motor lepas di TKP. Jadi kalau tidak diselamatkan bisa mati juga dia,”jelas Victor.

Setelah itu, tiga anggota ini menyampaikan peristiwa yang dialami ke temannya yang ada di markas, lalu mereka berusaha untuk mendatangi TKP dan mencari sepeda motor namun tidak ditemukan. “Motornya dirampas, akhirnya mereka cari dan kemudian dapatlah lima orang itu beserta sepeda motor itu,” tuturnya.

Pihak TNI kemudian telah melapor kasus ini ke pihak Kepolisian. Menurut Victor, ada dua kasus yang dilaporkan yakni kasus lakalantas dan kasus penganiayaan. Kapolres menyebut, warga sipil ini juga melaporkan kasus dugaan penganiayaan yang mereka alami. Namun karena ini terkait anggota TNI, akhirnya diarahkan untuk dilaporkan kepihak POM.

Ditanya mengenai adanya korban jiwa dalam peristiwa ini, menurut Kapolres, berdasarkan data visum yang dilakukan oleh dokter di RSUD Yowari, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan terhadap warga yang meninggal itu.

“Kalau masalah yang meninggal, sementara ini belum ada kaitannya. Karena dari hasil pemeriksaan, tidak ada bekas apa-apa. Dari keterangan dokter, yang bersangkutan sakit. Kalau dari keterangan awal memang yang bersangkutan ada, tapi sakit memang. Kalau kita mau buktikan dia benar karena penganiayaan harus otopsikan, tapikan keluarga tidak mau dilakukan otopsi,” tambahnya.(gin/roy/nat)