Coffee morning  yang diselenggarakan Pemkab Merauke di Kantor Bupati Merauke menyikapi situasi    Papua yang  terjadi beberapa hari belakangan, Selasa (20/8).  ( FOTO : Sulo/Cepos )

MERAUKE-Menyikapi  kondisi Papua  dalam beberapa hari belakangan ini   akibat  dari adanya  bahasa rasis  yang dilontarkan  oleh oknum  warga  kepada mahasiswa asal Papua  di Surabaya dan Malang,    Pemerintah Kabupaten Merauke menggelar  coffee morning di Kantor Bupati Merauke,   Selasa (20/8).  Hadir dalam pertemuan  tersebut,  Dandim  1707/Merauke Letkol Inf. Eka Ganta Chandra, SIP,    Kajari Merauke I Wayan Sumertayasa, SH, MH, Kapolres Merauke AKBP    Bahara Marpaung, SH, tokoh  Selatan Papua  Drs Johanes Gluba Gebze,   tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh  pemuda, tokoh perempuan dan  para pimpinan   SKPD.  

    Seusai memimpin  pertemuan, Wakil Bupati Sularso  kepada wartawan mengungkapkan,  bahwa  pertemuan dengan menghadirkan para tokoh tersebut  untuk menyampaikan bahwa situasi dan kondisi terkini di Kabupaten Merauke  aman terkendali. 

  ‘’Kita inginkan  juga peran serta tokoh masyarakat, tokoh agama bersama dengan  pemerintah untuk menjaga situasi ini  dan Merauke adalah istana damai.  Alhamdulilah,  dengan situasi yang terjadi di luar sana, di Jawa Timur dan Malang tidak berdampak di Kabupaten Merauke. Walaupun kita merasa prihatin  terhadap saudara-saudara  kita  yang ada di Sorong dan Manokwari,’’ kata   Wabup Sularso. 

  Menurut  Wabup Sularso,   dukungan moral terhadap anak-anak  atau mahasiswa   baik yang ada  di Jawa Timur maupun  yang ada di  tempat-tempat lain untuk  selalu mengedepankan etika bersama untuk bisa hidup bersama dalam  bingkai negara Kesatuan Republik Indonesia.   

 ‘’Itu yang kita harapkan dan menjadi pegangan teguh bagi kita semua  baik generasi-generasi sekarang maupun yang akan datang. Sehingga   kita punya konsep yang sama bahwa kehidupan  berbangsa dan bernegara itu kita harus memberikan  kepada bangsa dan negara  sebuah karya nyata. Kita hindari    untuk tidak berbuat sesuatu yang melanggar aturan. Karena itu, kita mengimbau untuk bersatu dan berpegang teguh  pada prinsip kebhinekaan yang selama ini kita lestarikan yakni Pancasila dan UUD 1945,’’ jelasnya. 

 Ditambahkan, di usia  74 tahun Indonesia merdeka, pemikiran-pemikiran radikal dan rasis  itu  diharapkan tidak ada lagi. ‘’Namun demikian, kalau  ada oknum-oknum yang masih menggunakan bahasa rasis   yang tujuannya memecah persatuan kita itu yang   tidak boleh dilakukan. Tapi   yang harus kita bicara tentang Indonesia yang maju,’’ jelasnya. 

  Sementara itu,  Dandim dan Kapolres   pada intinya mengimbau masyarakat  untuk  tidak muda terprovokasi dengan  berita-berita   yang  kebenarannya masih diragukan atau berita hoax,   harus  tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta  menjaga kondisi keamanan  di Merauke yang tetap kondusif.   Sementara  itu,  Tokoh Selatan Papua Drs Johanes Gluba Gebze menyesalkan bahasa rasis   yang dilontarkan  kepada mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang. 

‘’Badannya sudah Indonesia, tapi mulutnya yang belum Indonesia. Kalau mulutnya sudah Indonesia berarti hatinya yang belum Indonesia,’’  tandasnya. (ulo/tri)