Dwi Cahyono, pemuda dari suku Awyu, Kabupaten Mappi saat foto bersama Dansecata Rindam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Yoga Cahya Prasetya di Mako Rindam XVII/Cenderawasih di Ifar gunung, Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (10/6). ( FOTO: Elfira/Cepos)

Dwi Cahyono Pemuda Suku Awyu Siswa Catam TNI yang Fasih Berbahasa Jawa

Sejak kecil Dwi Cahyono bercita-cita menjadi anggota TNI. Bagaimana perjalanan hidup pemuda asli Papua dari suku Awyu, Kabupaten Mappi hingga bisa lolos menjadi calon tamtama (Catam) TNI ? Berikut kisahnya   

Laporan: Elfira, Jayapura

JARUM jam menunjukkan angka 08:00 WIT, saat Cenderawasih Pos tiba di Mako Rindam XVII/Cenderawasih di daerah Ifar Gunung, Sentani, Kabupaten Jayapura. 

Kawasan Ifar Gunug, Rabu (10/6) kemarin masih diselimuti kabut usai hujan sejak Selasa malam. Saat Cenderawasih Pos masuk ke dalam Mako Rindam usai melapor di Pos Penjagaan, terdengar suara teriakan untuk memompa semangat dari para prajurit siswa yang sedang mengikuti Pendidikan Pertama Tamtama TNI AD Gelombang 1 Tahun 2020 di Lapangan Pancasila, Mako Rindam XVII/Cenderawasih.

Sebanyak 529 peserta yang telah dinyatakan lulus seleksi dari berbagai daerah di Provinsi Papua, berbaris rapi memakai seragam loreng serta helm dengan nomor 1-529. 

Di antara 529 siswa yang sedang menjalani latihan tersebut, salah satu di antaranya  Dwi Cahyono. Bagi yang belum mengenal pemuda kelahiran 26 Agustus tahun 1998, pasti tidak menyangka kalau Dwi Cahyono merupakan putra asli Papua dari suku Awyu, Kabupaten Mappi. 

Selain mempunyai nama yang lazim digunakan oleh masyarakat dari suku Jawa, Dwi Cahyono juga sangat fasih berbahasa Jawa. 

Dwi panggilan akrabnya bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa karena sejak usia tiga hari, ia diangkat sebagai anak oleh pasangan suami istri Mardi Santoso dan Parinten. 

Pasutri Mardi Santoso dan Parinten mengambil Dwi sebagai anaknya lantaran sejak berumur tiga hari dia sudah ditinggal pergi oleh ibu kandungnya menghadap Sang Pencipta. 

“Kedua orang tua angkat saya sangat baik. Baik sekali. Mereka tidak pernah membeda-bedakan kami dalam keluarga. Bahkan, mereka yang kerap mengantar saya ketika ingin menemui ayah kandung saya seorang petani di Kampung Asaren, Distrik Eci, Kabupaten Mappi,” ucap Dwi Cahyono yang keluar dari barisan untuk menemui Cenderawasih Pos setelah mendapat izin dari pimpinannya. 

Sejak masih bayi dirawat oleh orang tua angkatnya, Dwi diasuh, dibesarkan dan disekolahkan. Hari-harinya, dijalani seperti anak-anak kecil lainnya di Mappi. 

Saat memasuki usia sekolah, Dwi bersama saudara angkatnya selalu disediakan sarapan oleh kedua orang tuanya sebelum berangkat ke sekolah. 

Pulang sekolah, Dwi juga rajin membantu orang tuanya. Mulai dari membersihkan halaman rumah, hingga pergi bersama ayah angkatnya mencari rumput untuk pakan ternak sapi mereka.     

“Saya bisa berbahasa Jawa, karena di rumah setiap hari kami berbahasa Jawa. Bapak, ibu, kakak serta adik saya di rumah, dalam berkomunikasi selalu menggunakan bahasa Jawa,” bebernya.  

Orang tua angkat Dwi sehari-hari bekerja sebagai petani. Kedua orang tua angkatnya, sangat menyayangi dirinya dan sudah mengganggap dirinya sebagai anak kandung. 

Dwi juga mengaku tidak pernah lupa dengan ayah kandungnya Agustinus Kumuda yang juga seorang petani. Dia kerap diantar oleh kedua orang tua angkatnya untuk menemui ayah landungnya tersebut. 

“Terima kasih kepada ayah dan ibu yang sudah membesarkan saya dan juga kepada bapak yang ada di kampung berkebun,” tuturnya. 

Disinggung tentang cita-citanya menjadi prajurit TNI, Dwi mengaku sejak masih duduk di bangku SD sudah mempunyai cita-cita untuk mengabdi kepada bangsa dan negara sebagai seorang prajurit TNI.

Dia tertarik menjadi anggota TNI, bermula saat dirinya mengikuti kegiatan karnaval dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI. Dalam karnaval tersebut, Dwi memakai seragam anggota TNI. 

“Waktu kelas tiga SD saya ikut karnaval 17 Agustus dan memakai seragam anggota TNI. Dari situ saya ingin sekali menjadi anggota TNI,” tuturnya. 

Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi anggota TNI, pada tahun 2019 Dwi mengikuti seleksi penerimaan calon anggota TNI. Sayangnya dalam seleksi tersebut, dirinya belum beruntung. 

“Dalam kegagalan itu, saya tidak putus asa. Saya tetap bertekad kuat berjuang untuk mewujudkan keinginan saya menjadi seorang prajurit TNI yang sudah saya impikan sejak duduk di bangku SD kelas 3,” tegasnya. 

Belajar dari kegagalannya pada tahun 2019, Dwi kembali mengikuti seleksi penerimaan yang dibuka Februari 2020 lalu.

Untuk persiapan mengikuti seleksi, Dwi mengaku mempersiapkan fisik dan mentalnya dengan mengikuti latihan pencak silat selama berada di Mappi.

Dalam seleksi ini, Dwi akhirnya bisa melalui seluruh tahapan seleksi dan terpilih sebagai calon tamtama TNI untuk mengikuti pendidikan di Rindam XVII/Cenderawasih. 

Jika tidak ada aral melintang, Dwi akan dilantik menjadi seorang prajurit TNI pada Oktober mendatang usai menjalani pendidikan di Ifar Gunung. 

“Setelah ini, saya ingin  mendorong adik-adik saya putra daerah agar bisa mengikuti jejak saya menjadi seorang prajurit TNI,” ucapnya penuh semangat. 

Sementara itu, Dansecata Rindam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Yoga Cahya Prasetya mengakui kalau kemampuan fisik Dwi Cahyono tidak diragukan lagi. Pasalnya, Dwi menurut Yoga menekuni olahraga beladiri sehingga tidak sulit bagi dia untuk menjalani latihan selama pendidikan di Ifar Gunung. 

“Dwi sudah terbiasa dengan latihan beladiri dan kegiatan latihan di sini tidak jauh beda dengan latihan yang dia lakukan selama ini. Jadi dia tak perlu lagi adaptasi untuk materi fisik,” jelasnya kepada Cenderawasih Pos. 

Yoga mengaku salut dengan semangat yang dimiliki oleh Dwi untuk mengabdi kepada bangsa dan negara sebagai seorang prajurit TNI. Yoga berharap, anak-anak asli Papua lainnya bisa mengikuti jejak Dwi menjadi anggota TNI. Sebab semua anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi anggota TNI. “Untuk 29 kabupaten dan kota di Papua, sudah ada perwakilan daerah yang menjadi anggota TNI,” pungkasnya.***