Beranda Uncategorized Tutup Rapat Jalur KKB

Tutup Rapat Jalur KKB

0
Tutup Rapat Jalur KKB
Kapolda Mathius Fakhiri

Kapolda: Banyak Pihak Mencari Kelemahan TNI-Polri

JAYAPURA-Penindakan yang sedang dilakukan Satgas Nemangkawi hingga menutup rapat jalur Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Puncak, dilakukan pasca beberapa aksi kejahatan yang dilakukan oleh KKB di daerah tersebut.
Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri menyampaikan, pasca gugurnya Bharatu Anumerta Komang akibat ditembak KKB pada 25 April lalu, intensitas tekanan di Kabupaten Puncak menurun. Namun pada tanggal 13, 15 dan 16 Mei sempat terjadi kontak tembak.
“Terjadi kontak tembak lantaran sedang dilakukan penindakan oleh Satgas Nemangkawi. Kita sedang menutup rapat jalur mereka dan memastikan kelompok ini harus keluar dari masyatakat yang ada di Distrik Ilaga, Distrik Gome, Distrik Mayuberi dan Distrik Ilaga Utara,” jelas Kapolda.
Menurut Kapolda, kelompok ini harus keluar dari wilayah tersebut. Sehingga masyarakat yang ada di tiga distrik utama itu tidak lagi terganggu oleh kelompok ini. Masyarakat sendiri telah menyampaikan keresahan mereka ke pemerintah daerah setempat bahwa mereka sangat terganggu dengan keberadaan kelompok Lekagak Telenggen Cs.
“Kelompok Lekagak tidak boleh ada di Ilaga. Mereka bukan tuan rumah di Ilaga, melainkan pendatang yang menganggu warga setempat. Masyarakat telah menyampaikan keresahan mereka ke pemerintah daerah, sehingga dilakukan langkah tindak lanjut oleh Satgas Nemangkawi yang melakukan penegakan hukum di Kabupaten Puncak secara pasif,” ucap Kapolda.
Lanjut Kapolda, dengan penindakan tersebut bisa mengurangi intesitas gangguan dari KKB terhadap masyarakat yang ada di Kabupaten Puncak secara keseluruhan.
“Kita telah menempati titik-titik kuat untuk menunggu kelompok ini. Aparat keamanan di tempat yang rawan sudah insert. Kelompok ini ada tengah masyarakat, menggunakan masyarakat untuk menjadi sumber logistik mereka,” kata Kapolda.
Dikatakan, pihaknya selalu menawarkan kepada kelompok ini apabila menyerahkan diri dan menyerahkan senjata api maka siap menerima mereka.
“Hal ini selalu kita tawarkan, tetapi mereka ini dasarnya bebal dan selalu melakukan kejahatan dengan menggunakan senjata api. Melakukan intimidasi terhadap saudarahya sendiri, bahkan masyarakat pendatang dan TNI-Polri tak segan mereka bunuh,” bebernya.
Menurut Mathius Fakhiri, jika kelompok ini tetap seperti sekarang, aparat keamanan tetap berhadapan dengan mereka apapun risikonya anggota tetap melakukan penindakan.
Sementara itu, hampir semua anak-anak yang bersekolah di distrik utama di Puncak yakni Distrik Gome, Distrik Mayuberi dan Distrik Ilaga Utara diduga ikutan-ikutan terhadap kelompok ini. Dikarenakan kelompok ini setiap waktu hidup bersama mereka (pelajar-red).
“Mereka juga melihat bagaimana euforia dari kelompok ini dengan senjatanya untuk melakukan apa saja. Sehingga mereka (Pelajar-red) terpanggil untuk ikut- ikutan dengan kelompok ini. Kita akan pilah kelompok ini. Apabila bagian dari yang sudah kita DPOkan kita perlakukan dan apabila cuman terindikasi tetap dalam pantauan aparat. Kita akan kembalikan dan perlakukan dengan baik,” jelas Kapolda,
Terkait dengan 3 perempuan yang dikabarkan ditembak militer, Kapolda mengaku belum dapat informasi tersebut.
Begitu juga dengan informasi operasi militer menggunakan helikopter menurut Kapolda dalam konsep operasi penegakan hukum, helikopter yang digunakan dalam rangka mengevakuasi korban Komang yang gugur pada April lalu.
“Kita tahu apa yang perlu kita lakukan. Saat ini banyak pihak yang mencari kelemahan pemerintah khususnya TNI-Polri. Ada sebagian saudara saya selalu menggunakan momen ini untuk mengkritisi dan menekan TNI-Porli. Kita menyadari itu dan kita pastikan bekerja secara profesional dalam rangka penegakan hukum di tanah Papua,” pungkasnya. (fia/nat)

error: Content is protected !!