MASALAH AIR – Suasana diskusi yang dilakukan PDAM Jayapura bersama Rumah Bakau Jayapura di Entrop, Ahad (15/3) kemarin. Disini terungkap berbagai persoalan penurunan debit air dimana salah satunya disebabkan karena perambahan dan intake yang belum direhab. (Gamel Cepos)

Entis : Intake Bhayangkara Sempat Kering, Borhonyi Rusak Parah

JAYAPURA – Direktur PDAM Jayapura, Entis Sutisna mengungkapkan bahwa hingga kini persoalan air yang dikelola oleh PDAM masih dirundung masalah. Persoalan klasik yang terus terjadi adalah pertama minimnya debit air yang disebabkan karena rusaknya daerah tangkapan air akibat perkebunan dan perambahan dan kedua rusaknya sejumlah intake karena termakan usia. Kata Entis persoalan ini bisa dijawab dengan memperbaiki kondisi  catment area termasuk merehab kembali intake yang telah berusia puluhan tahun. 

 “Sudah kami petakan semua dengan melihat masing-masing intake dan persoalannya. Ada banyak yang harus dilakukan terlebih soal komitmen. Sulit jika PDAM bekerja sendiri,” kata Entis Sutisna didampingi Sekretaris PDAM, Parno saat berdiskusi di Rumah Bakau Jayapura, Ahad (15/3). Ia memaparkan bahwa dari 19 intake  dengan 10 sumber air ternyata sebagian besar terjadi penurunan debit air. Bahkan penurunan debit mencapai 50 persen bahkan ada  juga yang mengering. “Di Kojabu, Borhonji  dan Kampwolker itu rusak parah. Kami juga menemukan banyak pipa distribusi yang dirusak,” kata Entis. 

 Ia mencatat di jalur Kampwolker yang seharusnya tidak boleh ada pemukiman kini mulai ramai dipadati penduduk termasuk pipa yang  dibocorkan oleh oknum warga tak bertanggungjawab. “Ini yang kadang saya bingung juga, pikirannya kemana kok pipa dengan tekanan tinggi ini dilubangi,” cecarnya. Entis menyebut di Kampwolker ditemukan 80 sambungan liar yang dilakukan dengan melubangi pipa induk. Begitu juga di lokasi  intake di Bhayangkara dan Ajendam.  “Logikanya begini, pipa di kampwolker ini dibangun sejak tahun 1995 dan ketika itu pemukiman belum ada tapi sekarang sudah banyak pemukiman dan pipa yang dilubangi,” bebernya.

 Tak hanya  itu, Entis juga enjelaskan bahwa ada pipa transmisi yang dilubangi oleh warga dan ini dianggap konyol. “Itu pipa yang sangat besar tapi dilubangi. Lokasinya di Jalan Baru Pasar Yotefa dan pelakunya orang disekitar situ,” jelasnya. Tadi berbagai temuan dikatakan bukan tak ada upaya penindakan namun selalu muncul perlawanan. “Sering kami  mengecek ke lokasi tapi pegawai saya juga diserang dan diancam sehingga kami coba cooling down lebih dulu sambil tetap berkoordinasi dengan pihak keamanan,” imbuhnya. (ade/wen)