Kepala   BPJS Kesehatan Kabupaten Merauke Erfan C. Nugraha

MERAUKE- Di  tengah pandemi  Corona   yang  terjadi  saat ini  telah berdampak   pada masalah   pendapatan perusahaan maupun keluarga. Akibatnya,   terjadi   penurunan pembayaran   iuran  BPJS Kesehatan  khususnya   peserta mandiri maupun  oleh  perusahaan.  

  Kepala   BPJS Kesehatan Kabupaten Merauke Erfan C. Nugraha  mengungkapkan bahwa  dengan  pandemi Corona yang  terjadi saat  ini   telah terjadi   peningkatan   tunggakan  yang  dilakukan  oleh peserta  mandiri  maupun peserta yang  dibayarkan  oleh perusahaan dimana peserta  tersebut bekerja. 

  “Dari 13.000 peserta  mandiri,   sekitar  6.000  peserta   yang sudah menunggu. Masing-masing  kelas, baik kelas I, II dan III   itu  jumlahnya rata-rata  2.000  yang  nunggak,’’ kata   Erfan C. Nugraha, kepada media    ini  baru-baru.   

  Tidak  hanya  peserta  mandiri yang  melakukan   penunggakan, namun  juga badan  usaha   juga  mulai menunggak atau  tidak membayar  iuran  kepesertaan dari  karyawannya. ‘’Dari catatan     kami  sudah ada  34 badan usaha  yang  tidak membayar dengan jumlah  peserta  691  orang,’’ katanya.   

  Terkait dengan  meningkatnya  tunggakan iuran  BPJS oleh  peserta mandiri  tersebut,  menurut  Erfan Nugraha,  pihaknya   sudah menyampaikan kepada pemerintah   daerah bahwa ada resiko yang akan  ditanggung    pemerintah  kedepan  jika  pendapatan  masyarakat terus mengalami  penurunan.  

   Erfan  juga menjelaskan bahwa selama pandemi  terjadi,   ada   relaksasi iuran atau permintaan  penundaan  pembayaran  iuran. ‘’Tapi harus  ada pemberitahuan   untuk  menunda  kalau  memang tidak mampu membayar  di tengah pandemi  Corona  ini,’’  jelasnya. 

  Selain itu, lanjut  dia, dengan adanya   keputusan Mahkamah Agung bahwa mulai  Maret 2020 besaran iuran  kemballi  ke  awal. Namun   begitu,   Erfan berharap  kepada peserta  khususnya  peserta mandiri    untuk  tetap aktif membayar meski terdampak pandemi.  

  “Karena pelayanan  kesehatan  memerlukan  jaminan. Dari pada  nanti,  di situasi  darurat  seperti ini dan membutuhkan  pelayanan  kesehatan  namun  tidak  membayar  itu akan  lebih parah parah lagi, karena  tidak mendapatkan  jaminan  kesehatan  dari BPJS Kesehatan,’’ katanya.   

  Ditambahkan, bahwa  jika  dari awal tidak mampu membayar  iuran   maka  sebaiknya berkoordinasi ke dinas  sosial. “Nanti dinas sosial yang akan melakukan verifikasi  apa betul    yang  bersangkutan tidak mampu.  Kalau  tidak  mampu maka dia akan menjadi jaminan dari pemerintah  baik  daerah atau  pusat,’’ tambahnya. (ulo/tri)