Sejumlah anggota TNI dan Polri mengangkut bahan makanan dari pesawat TNI di Bandara Oksibil, Kabupataen Pegunungan Bintang, Februari 2020. Pesawat Casa CN milik  TNI AU ditembak di ketinggian 4.800 feet di atas Distrik Serambakon, Senin (23/3). (FOTO: Elfira/Cepos)

Terkait Penembakan Pesawat TNI AU di Pegunungan Bintang

JAYAPURA-Pesawat CASA CN bernomor lambung A-2909 milik TNI AU ditembak Orang Tak Dikenal (OTK) di atas Distrik Serambakon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Senin (23/3) sekira pukul 08.50 WIT.

Tembakan tersebut membuat lima lumbung bekas tembakan terlihat di bagian sayap kanan pesawat. Dimana pesawat ditembaki saat berada di ketinggian 4800 feet di atas Distrik Serambakon saat hendak menuju Bandara Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang. 

Juru Bicara (Jubir) Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom mengklaim bahwa  TPNPB bertanggung jawab atas penembakan tersebut. 

Dari release yang diterima Cenderawasih Pos, Sebby Sambom mengatakan penembakan terhadap pesawat milik TNI AU tersebut dilakukan TPNPB Daerah Pertahanan Nglum Kupel Lamek Alipky Tablo dan pasukan. 

Pesawat menurutnya ditembaki saat melewati daerah Markas Pertahanan TPNPB, di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang.

Sebby Sambom menuding, penembakan ini dilakukan lantaran sudah dua hari TNI mendrop pasukan ke Oksibil dari Jayapura dalam jumlah besar. 

“Ini adalah laporan langsung dari Markas TPNPB Ngalum Kupel. Dimana mereka laporkan kepada Manajemen Markas Pusat TPNPB melalui komunikasi dengan menggunakan handphone satelit,” ucap Sebby Sambom.

Melalui pesan singkat electronik yang dikirim kelompok ini, Sebby Sambom menegaskan bahwa pesawat komersial jenis apapun jangan membawa pasukan militer dan Polisi Indonesia ke Oksibil. Karena kelompok ini sudah di lapangan.

“Apabilah tidak mengindahkan peringatan yang kami keluarkan, maka kami akan tembak pesawat lagi,” ucap Sebby sebagaimana pesan yang disampaikan kelompok Ngalum Kupel,” pungkasnya. 

Sementara itu, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Cpl Eko Daryanto yang dikonfirmasi membenarkan adanya penembakan tersebut. 

“Pesawat ditembak saat sedang terbang. Saat landing di Oksibil dan dilakukan pengecekan ternyata ada lima titik lubang bekas tembakan,” jelas Kapendam Eko Daryanto kepada Cenderawasih Pos, Senin (23/3).

Pelakunya lanjut Kapendam sedang dalam penyelidikan. Namun yang pasti anggota di lapangan melakukan pengejaran terhadap kelompok tersebut. 

Kependam menduga senjata yang digunakan pelaku ada kaitannya dengan senjata milik korban helikopter Mi-17 milik AD yang hilang pada Juni tahun 2019. Dimana bangkai helikopter ditemukan di Pegunungan Mandala, Distrik Oksob pada Februari tahun 2020.

“Kemungkinan dugaan saya senjata yang digunakan milik korban helikopter MI-17. Namun ini masih perlu didalami di lapangan,” ungkap Eko Daryanto.

 Menurut Eko, pesawat CASA CN bernomor lambung A-2909 terbang dari Bandara Udara Sentani menuju Oksibil dengan membawa logistik untuk anggota yang ada di Pegunungan Bintang.

“Ini menjadi evaluasi bagi kami, apakah nanti penerbangan ke Oksibil dilanjutkan atau masih dalam pembahasan melihat faktor keamanan,” tutupnya.

Sementara itu, Komandan Pangkalan Udara TNI AU (Danlanud) Silas Papare Marsekal Pertama TNI Tri Bowo Budi Santoso menyampaikan, pihaknya menerima laporan insiden penembakan terjadi sekitar pukul 07.20 WIT. ”Pada saat (pesawat) mau mendarat,” ungkap dia. Berdasar laporan itu, Bowo memastikan bahwa tidak ada satu pun korban. 

Menurut Bowo, pesawat angkut yang dipakai mengangkut logistik dari Jayapura ke Pegunungan Bintang itu diserang saat landing di Bandara Oksibil. Beruntung, pesawat tersebut tetap bisa landing dan menurunkan muatan. Namun demikian, beberapa bagian pesawat tertembak. ”Ditemukan adanya bekas tembakan,” ucap dia.

Perwira tinggi TNI AU dengan satu bintang di pundak itu pun menjelaskan bagian-bagian pesawat yang tertembak. Mulai badan pesawat, pintu, bagian sayap, sampai roda depan. Untungnya peluru tidak sampai menyebabkan kerusakan berat. Sehingga pesawat bisa cepat diperbaiki dan kembali diterbangkan ke Pangkalan Udara TNI AU Silas Papare. 

Sejauh ini, Bowo mengakui pihaknya belum bisa memastikan dalang dibalik penembakan tersebut. Yang pasti, bekas tembakan di tubuh pesawat tersebut menunjukan bahwa tembakan berasal dari senjata api laras panjang. ”Kaliber 5,56mm, M16 atau SS1,” jelasnya. Setelah kembali ke pangkalan, pesawat tersebut kembali dicek. 

Menurut Bowo, pesawat tersebut bermarkas di Jakarta. Yakni di Skadron Udara 2 Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma. Kemarin, pesawat itu tengah berada di bawah kendali operasi atau BKO di Papua. ”Terbang dari Sentani menuju Oksibil,” bebernya. 

Pesawat angkut tersebut diterbangkan ke ibu kota Pegunungan Bintang sesuai permintaan kepala daerah setempat. 

Tujuannya tidak lain mengangkut logistik untuk kebutuhan pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang. ”Kami terbang atas permintaan bupati. Mengangkut sembako dan alat bangunan,” beber Bowo. 

Meski sempat ditembaki, seluruh barang yang diangkut oleh pesawat tersebut sudah diturunkan. 

Serangan terhadap pesawat milik TNI AU kemarin sekaligus menegaskan bahwa persoalan keamanan di Papua harus terus mendapat perhatian. Jika tidak, ancaman yang terus dilancarkan kelompok-kelompok bersenjata di sana bisa menambah korban jiwa. Bukan hanya aparat keamanan, masyarakat pun tidak jarang jadi sasaran. (fia/nat/syn/ttg/JPG)