JAYAPURA – Ricky Ricardo Cawor, kapten Sepakbola PON Papua digadang-gadang akan menjadi pemain muda Papua yang akan bersinar di masa depan. Mengawali karirnya bersama Persimer Merauke di pentas Liga 3 Asprov Papua tahun 2017, bakat alamiah yang dimilikinya mulai tercium ke permukaan.

Eduard Ivakdalama saat masih menukangi Persewar Waropen (Liga 3) di tahun 2017 dibuat terpukau oleh pemain asal Merauke tersebut. Sejak itu, Edu sapaan akrabnya menawarkan Ricky Cawor untuk berlabuh bersama Persewar Waropen tim yang ia latih, namun niat itu batal terjadi. Di tahun berikutnya (2018), akhirnya Edu sukses memboyong Ricky bermain untuk Persemi Mimika.

Ricky tak menyangka bahwa ia bisa berada pada posisinya saat ini, apalagi diberikan sebuah amanah besar untuk memakai ban kapten. Menurutnya itu hal yang sangat luar biasa, mengingat jejak karier sepakbola yang terbilang jauh dari kata mewah. Bahkan, Ricky tak pernah merasakan binaan Sekolah Sepakbola (SSB). 

“Waktu itu Liga 3 2017 saya main dari Persimer Merauke, trus main lawan Persewar Waropen waktu itu coach Edu yang pelatih, dan selesai bermain coach Edu panggil ikut gabung ke Persewar, tapi tidak jadi, terus Liga 3 2018 coach Edu pegang Persemi Mimika dan saya dipanggil untuk ikut coach Edu, kebetulan coach Edu juga orang Merauke jadi saya ikut coach Edu,” ungkap Ricky kepada Cenderawasih Pos via telepon selulernya, Kamis (22/7).

Ditangan dingin Eduard Ivakdalam, Edu kian menemukan potensi yang ada didalam diri pemain kelahiran 26 Januari 1998 itu. Kebersamaan mereka pun terus terjalin hingga ke skuad Sepakbola PON Papua. Bahkan Edu memberikannya kepercayaan besar untuk menjadi jendral bagi rekan-rekan setimnya.

Sebelum tampil bersama Persimer Merauke di Liga 3 2017 silam, Ricky Cawor menjalani masa mudanya layaknya anak Papua pada umumnya. Setiap sore hari ia menghabiskan waktunya hanya di lapangan. Ia juga kerap tampil dalam turnamen ‘tarkam’ yang digelar di Kota Merauke.

“Saya suka sepakbola sejak berumur 10 tahun waktu masih SD, saya tidak pernah masuk SSB, di Merauke saya langsung bermain bersama klub lokal yang namanya Gelora Putra FC. Dan beberapa turnamen di Kota Merauke tim saya selalu menjadi juara, dan saya selalu menjadi top skor. Dan puji Tuhan pada tahun 2017 saat ada Liga 3 saya dipanggil untuk membawa nama Merauke di Liga 3 zona Papua,” ujar Ricky.

Bersama Persemi Mimika, Ricky Cawor hanya mampu mengantarkan tim asal Kota Emas itu Mereka bisa melangkah ke fase 32 besar nasional. Persemi kala itu gagal melenggang ke babak selanjutnya saat kalah head to head dengan klub sesama Papua, Persewar Waropen yang diarsiteki oleh Almarhum Carolino Ivakdalam.

Meski gagal mengantarkan klubnya promosi ke Liga 2, tapi penampilan impresif Ricky tetap menuai pujian. Klub besar seperti Persipura Jayapura juga ikut kepincut dengan potensi dari pemain yang mengidolakan Boaz Solossa itu. Bahkan Ricky pun dikabarkan tiga kali dihubungi oleh manajemen Persipura, tapi tiga kali pula dirinya menolak.

Selain klub pemilik empat bintang itu, ternyata Ricky juga harus menahan diri dengan derasnya godaan kontestan Liga 1 Indonesia. Barito Putera dan jawara 2017 Bhayangkara FC turut dalam perburuan potensi putra asal Kota Rusa itu.

Ricky memiliki alasan yang tepat untuk menolak tawaran emas tersebut. Menurutnya ia mesti harus banyak belajar dan tak ingin buru-buru untuk menjadi pemain profesional. Rupanya, Ricky juga berharap bisa mengikuti sepak terjang dari sang idola Boaz Solossa yang juga mengawali karirnya dari ajang PON.

“Pernah ditawar (Persipura) waktu itu tahun 2019, tapi saya menolak karena ingin karir sepakbola saya berjenjang, saya tidak ingin langsung naik ke level profesional karena saya merasa saya masih banyak kekurangan yang masih harus saya benahi dan saya tidak mau terburu-buru masuk ke Persipura,” kata Ricky.

“Dan saya memilih untuk mengikuti PON dulu untuk membenahi kekurangan saya. Bhayangkara FC sempat menawari awal tahun 2019,  kemudian Barito Putera pas mau putaran ke 2 Liga 1 2019,” sambung Ricky.

Selain itu, Ricky juga menyadari usianya yang masih mudah tentu sulit untuk mendapatkan posisi utama. Sehingga ia tak ingin karirnya redup sebelum berkembang. Sebab itu ia memilih untuk membentuk dirinya bersama tim Sepakbola PON Papua lebih dulu.

“Jujur saja kalau saya masuk ke Persipura, mungkin saya punya waktu bermain kurang bahkan mungkin tidak ada. Baru kontraknya jangka panjang jadi saya takut karir bisa redup makanya saya tolak. Kalau bicara soal pemain yang menginspirasi saya adalah kakak Boaz Salossa dan saya sangat mengidolakan kakak Boaz,” ucap Ricky.

Ricky pun berambisi bisa membawa tim sepakbola Papua untuk meraih medali emas untuk ketiga kalinya selama Papua terlibat dalam pesta olahraga nasional empat tahunan tersebut. Momentum tuan rumah membuat Ricky sangat optimis mereka bisa mempersembahkan prestasi terbaik bagi masyarakat Papua.

“Target untuk PON XX, medali emas harga mati untuk semua masyarakat Papua yang mempercayai kami sampai saat ini. Persiapan sejauh ini sudah sangat siap untuk menghadapi PON. Dan sebagai kapten saya harus bisa selalu untuk fokus mengkoordinir semua rekan-rekan. Saya juga harus jadi kakak dan pemimpin buat semua pemain dalam tim, dan kami semua sudah sayang siap untuk bermain di PON XX Papua,” pungkasnya. (eri/gin).