Dua perwakilan tokoh gereja di Sentani, Kabupaten Jayapura saat memberikan keterangan pers di kantor Bupati Jayapura terkait dengan pertikaian dua kelompok warga, Selasa (21/4). ( FOTO: Robert Mboik/Cepos)

Polisi Periksa 15 Saksi dari Konflik Warga Toware dan Kehiran
SENTANI-Ketua Klasis Waibu Moi, Pdt Ardianus Yapasedanya, STh dan Sekretaris Klasis Sentani  Pdt. Navi Kastanya. M.Si selaku tokoh gereja GKI Klasis Waibu Moi dan Klasis GKI Sentani sangat menyesalkan terjadinya aksi saling serang dua kelompok warga di wilayah Sentani sejak Minggu (19/4) lalu. 

Untuk itu, kedua tokoh gereja itu meminta masyarakat di masing-masing klasis supaya segera berdamai dan tidak melanjutkan pertikaian yang sudah terjadi itu.

Pdt. Ardianus Yapasedanya dalam pernyataan resminya di kantor Bupati Jayapura mengatakan terkait persoalan ini pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak dan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di klasis Waibu Moi. Dimana pada intinya gereja menentang keras adanya pertikaian dan harus menyelesaikan persoalan ini dengan perdamaian agar semua konflik yang terjadi bisa segera diatasi.

“Kita butuh damai menghadapi situasi-situasi yang sementara ada saat ini, virus Corona. Kami sudah berusaha untuk bicara dengan jemaat-jemaat dan kepala suku supaya bisa menyelesaikan pertikaian ini dengan secara damai,” ungkapnya.

Dirinya berharap jemaat-jemaat yang ada di wilayah itu supaya segera menahan diri dan tidak terpancing dengan isu-isu yang justru memprovokasi suasana yang terjadi saat ini. “Sekarang lagi ada virus Corona. Mari kita bersama-sama untuk menyelesaikan persoalan ini,” katanya.
Di tempat yang sama Pdt. Navi Kastanya. M.Si  mewakili  klasis Sentani mengaku,  sangat prihatin dengan kondisi yang terjadi di antara dua kelompok warga tersebut. Pertikaian dua kelompok warga di daerah Sentani itu menyebabkan adanya dampak terhadap psikologi khususnya kaum ibu dan anak-anak yang ada di masing-masing wilayah. Dimana Sampai dengan saat ini masih ada beberapa ibu-ibu dan anak-anak yang belum kembali ke Kehiran.

“Menyikapi persoalan ini kami dari pihak gereja, juga terlibat aktif untuk mengupayakan mediasi dari antara kedua belah pihak, masyarakat atau kampung ini supaya bisa ada kembali dalam suasana pemulihan,” tandasnya.

Sementara itu, Polres Jayapura masih menangani kasus pertikaian antara dua kelompok warga dari kampung Toware dan Kehiran. Sejauh ini polisi sudah memeriksa 15 orang saksi yang dianggap terlibat dalam konflik berdarah itu. “Ada 15 orang saksi yang sudah kami periksa terkait kasus tersebut,” kata AKBP Viktor Macbon saat ditemui wartawan di Sentani, Selasa (21/4).
Dia menjelaskan,  sehubungan dengan pemeriksaan 15 orang saksi itu  lebih kepada mereka yang dianggap terlibat dan berperan  dalam aksi pengerusakan,   penganiayaan dan penyerangan hingga menyebabkan satu orang meninggal dunia.  

Meskipun demikian, pihaknya juga belum menetapkan tersangka  dari peristiwa tersebut. “Kita sementara memeriksa saksi-saksi untuk pembuktian pelaku atas kejadian pembakaran, pengrusakan dan penganiyaan yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia,” ujarnya.
Lanju dia, pertikaian yang melibatkan dua kelompok warga ini telah menyebabkan satu  orang meninggal dunia dan 10 orang lainnya mengalami luka-luka. Sementara untuk rumah yang terbakar ada sekira 36 unit dari kedua belah pihak.

“Kami juga masih melihat situasi di lapangan, sehingga belum bisa melakukan penangkapan terhadap pelaku. Namun kita tetap membangun komunikasi dengan kedua kubu bahwa perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan melanggar hukum, sehingga harus ada penegakan hukum terhadap para pelaku,” tegasnya.

Sementara hingga saat ini petugas gabungan TNI dan Polri sebanyak 400 orang berada di lokasi kejadian untuk tetap bersiaga dan memastikan tidak ada pergerakan massa  terkait peristiwa itu. Dia juga  berharap masyarakat tidak lagi melakukan aksi-aksi yang dapat menimbulkan provokasi yang pada akhirnya memicu persoalan. 

Kapolres menegaskan apabila masih ada oknum-oknum yang berusaha untuk memperkeruh suasana pihaknya tentu akan melakukan tindakan tegas. Saat ini kondisi di lokasi kejadian sudah berangsur pulih dan aman sementara petugas juga masih melakukan penjagaan di sekitar lokasi tersebut.

“Kami sudah sampaikan kepada kedua belah pihak apabila masih ada yang melakukan upaya provokasi yang memicu bentrokan, maka kami akan melakukan penindakan tegas dan terukur terhadap oknum tersebut,”tambahnya. 

Sementara itu, Kepolisian Daerah Papua mencatat, sebanyak 25 unit rumah dibakar, 8 unit rumah rusak-rusak serta satu orang meninggal dunia dan tujuh  lainnya luka-luka akibat pertikaian antara warga di Kampung Kehiran I dan Kampung Toware, Minggu (19/4).

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal mengaku, kedua kelompok tersebut masih bertentangan. Namun, TNI-Polri sudah melakukan antisipasi di Tempat Kejadian Perkara (TKP), baik Brimob ataupun BKO dari Polda dan dibackup Kodam XVII/Cenderawasih.

“Sudah ada pertebalan anggota di TKP,  dengan harapan permasalahan ini segera terselesaikan. Jangan sampai ada serangan susulan atau balas dendam dan sebagainya,” ucap Kamal, Selasa (21/4).

Dalam pertikaian dua kampung tersebut lanjut Kamal, belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Anggota masih mengumpulkan barang bukti dan memintai keterangan para saksi dari kedua kubu yang bertikai.

“Kita tahu bahwa siklus perselisihan atau munculnya kejadian ini berawal dari penganiyaan yang terjadi pada Sabtu dan Minggunya pecah hingga terjadi pembakaran rumah,” tuturnya.

Untuk saksi yang dimintai keterangan, Kamal belum bisa memastikan jumlahnya. Namun saksi diperiksa akan bertambah seiring dengan berjalannya waktu. (roy/fia/nat)