JAYAPURA- Kejadian kontak tembak di Kabupaten Intan Jaya masih terjadi hingga Sabtu (19/9). Dilaporkan, seorang tokoh agama Pdt. Yeremia Zanambani meninggal akibat ditembak di Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya,  Sabtu (19/9).

Terkait tertembaknya Pdt. Yeremia Zanambani yang dikenal sebagai penerjemah Alkitab bahasa Moni, banyak versi. Ada yang menyebut diduga ditembak oleh oknum TNI dan ada juga yang menyebut ditembak oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB).

Kepala Penerangan Kogabwihan III, Kol Czi IGN Suriastawa mengatakan Pdt Yeremia Zanambani meninggal dunia akibat keganasan KKSB. Oleh sebab itu, kejadian ini menambah daftar panjang korban keganasan KKSB Papua yang sedang mencari perhatian menjelang sidang umum PBB tanggal 22-29 September mendatang.

“Gerombolan ini kembali menebar fitnah dengan mengatakan bahwa TNI-lah pelaku penembakan. Padahal tidak. Mereka sedang mencari momen menarik perhatian di sidang umum PBB akhir bulan ini,” ucap Suriastawa sebagaimana dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Minggu (20/9)

Dikatakan, hal ini sudah dikhawatirkan jauh-jauh hari. Bahwa rangkaian kejadian beberapa hari ini adalah settingan mereka (KKSB-red) yang kemudian diputarbalikkan bahwa TNI menembak pendeta.

“Harapan mereka, kejadian ini jadi bahan di sidang umum PBB. Saya tegaskan bahwa ini semua fitnah keji dari KKSB,” tegasnya. 

Dirinya mengajak masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan sebaran fitnah kelompok ini  khususnya melalui media sosial. “Fitnah mereka di Medsos, jelas sudah setingan dan rekayasa untuk menghasut masyarakat sekaligus menyudutkan TNI-Polri dan pemerintah menjelang SU PBB,” paparnya.

Sementara itu, data yang diterima Cenderawasih Pos, menurut Pdt. Timotius Miagoni sekira pukul 00.00 WIT dirinya mendapat telpon dari keluarga yang berada di Distrik Hitadipa bahwa Pdt Yeremia Zanambani tertembak dan telah meninggal dunia . 

“Yang saya dengar menurut informasi bahwa Alm. Pdt Yeremia Zanambani saat sore hari bersama istri ke kandang ternak babi untuk memberikan makan ternak. Kemudian istri dari korban kembali ke rumah yang berada di Kampung Hitadipa,” kata Pdt Timotius sebagaimana data yang didapat Cenderawasih Pos.

Sekira pukul 19.00 WIT, korban tidak kembali ke rumah sehingga istri dari korban mencari ke kandang ternak yang berada di Kampung Bomba dan melihat korban sudah meninggal dunia. 

Sebelumnya, di kampung tersebut sudah ada pengumuman dari aparat TNI bahwa tidak diizinkan untuk beraktivitas di malam hari. 

Sementara itu, satu anggota TNI bernama  Pratu Dwi Akbar Utomo gugur dalam kontak tembak Kelompok Separatis Bersenjata (KSB) dan Satgas BKO Aparat Teritorial (Apter) Koramil Persiapan Hitadipa di Pos Koramil Persiapan Hitadipa, Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Sabtu (19/9).

Kapendam XVII/Cenderawasih, Letkol Arm Reza Nur Patria mengatakan, Pratu Dwi Akbar Utomo meninggal akibat terkena tembakan dalam kontak tembak yang terjadi sekira pukul 14:50 WIT.

“Jenazah sudah dievakuasi ke Timika,” ucap Kapendam dalam siaran persnya.

Pasca kontak tembak tersebut, aparat keamanan gabungan TNI-Polri melaksanakan penyisiran di sekitar tempat kejadian.

Dikatakan, Satgas Apter yang bertugas di Provinsi Papua bertujuan untuk menyiapkan Koramil dan Kodim baru dalam rangka membantu pemerintah daerah melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan yang pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. 

Sebelumnya, terjadi kontak tembak pada Kamis (17/9) yang mengakibatkan  satu anggota TNI Serka Suhlan meninggal dunia serta pembacokan sipil bernama Badawi meninggal dunia. 

Secara terpisah Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni yang dikonfirmasi mengutuk keras pembunuhan terhadap Pdt.Yeremia  Zanambani, S.Th.

Bupati Natalis Tabuni mengaku mendapat informasi yang diberikan oleh masyarakat lokal dan keluarga korban lewat telepon. Saat itu, Pdt. Yeremia sedang memberikan makan ternak babinya di Bombasebelah sungai kali besar, yang jaraknya lumayan jauh  dengan tempat tinggalnya.

 Saat itu, korban menurutnya bersama istrinya memberikan makan ternak babi. Namun istri korban pulang lebih dulu dan korban tidak pulang, kemudian ditemukan sudah meninggal dunia, Minggu (20/9) pagi. 

“Saya dengar dari masyarakat tentang informasi itu benar adanya. Kami mengutuk keras tindakan pelaku yang mencabut nyawa Pdt secara tidak manusiawi, Pdt. Yeremia  Zanambani, S.Th.,” ucapnya saat dihubungi Cenderawasih Pos, Minggu (20/9).

Bupati Natalis Tabuni juga mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Pdt Yeremia. Dirinya berharap pelaku penembakan cepat ditangkap dan dengan kejadian rentetan pembunuhan di Intan Jaya juga harus dihentikan. “Kasihan masyarakat yang yang tidak berdosa menjadi korban pembunuhan yang tidak manusiawi,” ucapnya. 

Dengan adanya musibah ini bupati mengimbau masyarakat untuk tidak terpancing dan selalu menjaga Kamtibmas. Termasuk waspada terhadap virus Corona jangan keluar rumah dulu, karena di Kabupaten Intan Jaya kasus terkonfirmasi Covid-19 sudah ada.(fia/dil/nat)