WAMENA-Upaya pencarian 3 warga binaan yang melarikan diri tak hanya dilakukan dari jajaran kepolisian saja, namun pihak Lapas Kelas II Wamena juga terus melakukan pencarian. Bahkan turun hingga ke kampung asal dari para narapidana di Kabupaten Jayawijaya. Namun upaya itu belum menuai hasil karena belum ada tanda -tanda keberadaan mereka.

Kepala Palas Wamena Imam Sapto Riyadi saat menunjukkan ornames Besi yang dibobol oleh 3 narapidana yang melarikan diri beberapa waktu lalu kepada Kapolres Jayawijaya AKBP. Dominggus Rumarope, S.Sos, MM. ( FOTO: Denny/Cepos)

   “Kita mencari di tempat -tempat yang kemungkinan mereka masih ada di sekitar situ, tetapi selama beberapa bulan ini, pencarian yang kami lakukan belum membuahkan hasil yang baik atau titik terang keberadaan mereka,” ungkap Kepala Lapas Wamena Imam Sapto Riyadi

    Imam mengaku dalam upaya itu, pihaknya tak hanya melakukan pencarian semata, tetapi juga telah memasang informen untuk memberikan informasi kepada Lapas Wamena apabila ada kemunculan dari 3 orang narapidana tersebut.

   “Kita sudah cari, namun belum ada hasil sehingga kita menggunakan jasa informen untuk memberikan informasi kepada kita tentang keberadaan 3 orang narapidana yang kampungnya saling terpisah di Wamena,”jelasnya

   Pasca 3 narapidana yang melarikan diri, Kata Imam,  Lapas Wamena membuat peraturan baru seperti penguncian beberapa area dalam lapas yang tak boleh lagi dilalui warga binaan yang tak memiliki kepentingan. Dimana hal ini dilakukan untuk membatasi ruang gerak dari warga binaan di Lapas Kelas II B Wamena, 

   “Pagar yang menuju ke lapangan dan Gereja yang sebelumnya digunakan untuk berolah raga sampai pukul 17.00 WIT itu ditutup, olah raga bagi warga binaan cukup hanya di lapangan voli dan sepak  takraw yang telah saya buat dalam lapas Wamena,” katanya.

   Menurutnya pembatasan ruang gerak dari para warga binaan dengan menutup akses pintu menuju lapangan dan rumah ibadah yang ada dalam lapas, tak ada lagi aktifitas lalulalang warga binaan dalam Lapas menuju ketempat 3 narapidana membobol ornames besi untuk melarikan diri yang tepatnya disamping gereja,

   “Aktifitas ibadah di gereja tidak ditutup tetapi pada saat pelaksanaan ibadah akan kembali dibuka untuk warga binaan beribadah. Selain dari itu tidak ada lagi yang jalan kesana tanpa seizin dari petugas lapas selain melakukan ibadah dengan pengawalan khusus,” tegas Imam.

   Secara terpisah Kapolres Jayawijaya melalui Kasat Reskrim Polres Jayawijaya, AKP Suheriadi mengaku jika dari hasil pantauwan anggotanya 3 narapidana yang melarikan diri atas nama Demi Matuan, Benny Lokobal, dan Seve Kosi belum menampakan dirinya baik dikampung maupun dalam kota, sehingga pihaknya masih terus melakukan pemantauwan untuk mencari keberadaan mereka saat ini.

  “Kita masih terus melakukan pemantauan untuk mencari keberadaan mereka karena sampai saat ini belum ada titik terang keberadaan mereka,” bebernya. (jo/tri)