SEMPROT DESINFEKTAN: Petugas PMI Provinsi Papua saat menyemprotkan cairan desinfektan di ruang tunggu lantai II  Bandara Sentani, Rabu (18/3) pagi. (FOTO: Mansoer Anwar/Cepos)

Kondisi Dua PDP Covid-19 di Merauke Stabil, Secara Nasional Kasus Bertambah Jadi 227

JAYAPURA- Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, menjelaskan bahwa langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah Provinsi Papua tak lain dengan terus memperbarui informasi terkait kondisi Papua dalam kaitannya dengan pencegahan penyebaran virus Corona atau Covid-19 di Papua.

“Pertama, kita tampilkan data hari per hari tentang kondisi kita di Papua. Nanti bisa akses datanya di Dinas Kesehatan Provinsi Papua terkait apakah ada penambahan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Bagaimana hasil pemeriksaan sampel dari lab, hingga informasi apakah sudah ada atau belum pasien yang positif Covid-19 atau bahkan pasien positif Covid-19 yang meninggal,” jelas dr. Silwanus Sumule, Rabu (18/3) kemarin.

“Semua informasi lainnya yang berkaitan dengan penanganan pencegahan Covid-19 di Papua dapat diakses datanya di Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Untuk mendukung publikasi informasi, website akan kita upayakan. Call center pun mudah-mudahan dalam 1 – 2 hari sudah bisa aktif di nomor 1 500 671,” sambungnya.

Sumule mengaku bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah dalam melindungi masyarakat dari ancaman penyebaran Covid-19 yang boleh dikata makin masif, bukan hanya di dunia, melainkan pula khususnya di Indonesia.

“Seperti meliburkan aktivitas sekolah, serta aktivitas perkantoran yang dilakukan dari rumah. Kemudian, tak henti-hentinya memberikan imbauan masyarakat untuk menjaga social distancing-lebih banyak berada di rumah,” akunya.

Dengan kata lain, keluar hanya boleh dilakukan dengan alasan yang kuat  yang penting dan karena terpaksa saja. Sebaliknya, jikalau tidak terlalu penting, maka disarankan untuk tetap berada di rumah.

“Pembatasan sosial harus dilakukan oleh masyarakat. Jadi, sebaiknya, lebih banyak beraktivitas di rumah. Jangan kumpul-kumpul atau berada di tengah banyak orang. Itu yang paling utama, di mana banyak negara telah menerapkan sistem ini dan berhasil,” tambahnya.

“Kemudian, menjaga kebersihan diri, terutama mencuci tangan. Kalau tidak ada hand sanitizer, maka cukup dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan membilasnya di air mengalir. Demikian, cuci tangan yang bersih itu sudah sangat membantu pencegahan penyebaran Covid-19,” pungkasnya.

Terkait upaya pencegahan maupun penanganan virus Covid-19 di Provinsi Papua diakuinya masih terkendal alat pelindung diri (APD) dalam hal ini untuk petugas medis.

“Kendala kita hari ini ialah kekurangan APD. Sudah ada perintah bagi untuk untuk mencari di Surabaya dan Semarang. Saat ini sudah kami datangkan 30 APD dan 120 APD lagi akan menyusul untuk membantu teman-teman melindungi diri supaya bisa mengambil sampel,”tuturnya.

Ditanya apakah jumlah APD tersebut sudah mencukupi kebutuhan atau tidak, dr. Sumule menjelaskan bahwa kebutuhannya mencapai sekiranya 5000 APD.

“Baru tiba 30 APD kemarin. Nanti akan datang lagi 120 APD. Kalau ditanya jumlah yang sudah didatangkan ini mencukupi atau tidak, maka itu tergantung berapa banyak kasus yang kita tangani di Papua. Namun, kebutuhan kita sekiranya mencapai 5000 APD. Ini yang kita upayakan untuk bisa dapat,” tambahnya. 

Sementara itu, kondisi    2 Pasien  Dalam Pengawasan  (PDP)  Rumah Sakit  Umum   Daerah  Merauke    masih  tetap stabil. Plt   Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke  dr. Nevile R. Muskita  ketika dihubungi   lewat telepon mengungkapkan bahwa  kondisi kedua  pasien tersebut   baik dan tidak ada masalah. 

“Kalau kondisinya  ada baik-baik saja dan tidak    ada masalah,’’  kata Nevile,   Rabu (18/3).   

Nevile menjelaskan bahwa    status   kedua pasien  tersebut  masih PDP. Karena   untuk  sampel pasien  pertama, laki-laki berumur 46 tahun  baru dikirim ke Balitbangkes, Selasa  (17/3). 

‘’Kita masih   menunggu   hasilnya   seperti apa. Tapi, nanti    kita dikirimkan  notice  saja. Kalau  dia negatif  maka kita akan dikirimkan. Tapi kalau positif    maka yang  berwenang mengumumkan adalah pusat. Tapi kita  berharap, hasilnya   negatif,’’ terangnya.

Sementara      pasien  PDP  kedua, seorang laki-laki berumur  51  tahun,  menurut   Nevile, pesimennya akan segera dikirim ke Balitbangkes   Jakarta.     

Menyangkut   52  orang dalam pemantauan  (ODP)  dari pasien   PDP  pertama,     Nevile menjelaskan  bahwa sampai  kemarin  tidak ada tambahan. 

‘’Sampai sekarang  belum ada tambahan. Jumlahnya masih   tetap  52  orang dalam  pemantauan  tenaga medis,’’ jelasnya. 

Dikatakan,     pemantauan medis ini  dilakukan  langsung oleh petugas dari Puskesmas  terdekat dimana   ODP  tersebut   berdomisili. Dimana, petugas akan mengikuti  perkembangan kesehatan   dari setiap ODP  tersebut. Karena itu , nomor   handphone  dari  orang dalam  pemantauan  tersebut  diambil  oleh petugas yang   kesehatan yang melakukan  pemantauan. ‘’Tapi   juga mengunjungi  sekali dalam  dua hari untuk   melakukan pemeriksaan secara langsung   guna mengetahui  perkembangan kondisi   kesehatannya,’’ tuturnya.

    Meski   hasil   pemeriksaan pesimen  terhadap kedua  PDP  tersebut belum diketahui, namun  Nevile  Muskita mengimbau warga    yang  pernah  melakukan kontrak  dengan kedua PDP   tersebut untuk segera  melaporkan kepada petugas  kesehatan yang ada  untuk  bisa  segera dilakukan langkah-langkah antisipasi    lewat  karantina  mandiri  di rumah.  ‘’’Ya, minimal  dilakukan karantina  mandiri selama 14 hari untuk bisa  memastikan  bahwa  tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena prosedurnya  begitu,’’ tambahnya. 

Sekadar diketahui, sampai Selasa    (17/3), RSUD Merauke telah merawat  orang  dalam pengawasan   terduga  tertular  virus  Corona atau Covid-19. Kedua pasien   dalam  pengawasan  tersebut  diisolasi di   RSUD Merauke.   Untuk  PDP  pertama, mengalami  keluhan, batuk dan   sakit  tenggorokan  dan pernah  melakukan pertemuan  di Bogor dimana salah satu peserta dari kegiatan   tersebut   positif Corona dan meninggal di Solo. Kemudian pasien   kedua., laki-laki 51 tahun juga mengalami  gejala yang sama dimana   melakukan perjalanan ke Jakarta  yang diketahui  sudah  ada pasien  Covid-19.

Sementara itu untuk mencegah penularan virus Covid-19, Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Papua masih terus melakukan penyemprotan di sejumlah fasilitas umum di Kota dan Kabupaten Jayapura.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, Rabu (18/3) pagi kemarin, petugas PMI Provinsi Papua melakukan penyemprotan desinfektan di Bandara Sentani. Selain Bandara Sentani, PMI Jayapura juga melakukan penyemprotan di fasiltas umum lainnya serta perkantoran seperti gedung DPR Papua dan kantor swasta. 

Sementara hingga kemarin (18/3), jumlah pasien yang positif tertular Covid-19 adalah sejumlah 227 orang.   

Juru bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan bahwa pada pengumuman sebelumnya yang digelar pada 17 Maret 2020 pukul 12.00 WIB, total 172 orang positif tertular virus Covid-19. Kemudian pada perkembangannya, hingga hari Rabu, tanggal 18 Maret 2020 hingga pukul 12.00 WIB terdapat penambahan 55 kasus baru. “Sehingga sampai tanggal 18 Maret, total pasien positif Covid-19 berjumlah 227 orang,” jelas Yuri kemarin.   

Dari pertambahan 55 kasus tersebut, 4 kasus baru ditemukan di Provinsi Banten, 1 di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 30 kasus baru di DKI Jakarta, 12 kasus di Jawa Barat, 2 kasus di Jawa Tengah, 1 kasus di Sumatera Utara, 1 kasus di Lampung, 1  kasus di Riau, serta 1 kasus di Kalimantan Timur sehingga total 53 kasus. 

“Ditambah lagi deteksi kasus lewat epidemiologi dan pelaporan mandiri ditemukan 2 kasus, jadi total pertambahan 55 kasus baru,” jelas Yuri.

Sementara untuk kasus yang sudah sembuh dan bisa dipulangkan, Yuri menyebut sejauh ini total 11 orang dengan rincian 1 kasus dari Banten, 9 kasus dari DKI Jakarta, serta 1 kasus dari Jawa Barat.

Korban meninggal akibat terpapar virus Covid-19 hingga kemarin mencapai 19 orang. Yuri mengakui ada beberapa miss komunikasi karena Rumah Sakit di daerah belum melaporkan kasus kematian namun data sudah diperbaiki. Hingga 18 Maret 2020 jumlah pasien meninggal berjumlah 19 orang.  

Dari 19 orang tersebut, 1 orang berasal dari Bali, 1 orag dari Banten, 12 orang dari DKI Jakarta, 1 orang dari Jawa Barat, 2 orang dari Jawa Tengah, 1 orang dari Jatim,  serta  1 orang dari Sumatera Utara. “Kesimpulan akumulasinya saat ini jumlah kasus positif 227 orang, penderita sembuh dan boleh pulang 11 orang, serta 19 orang meninggal,” kata Yuri.

Yuri memperkirakan bahwa perkembangan jumlah penderita secara keseluruhan masih akan terus meningkat.  Saat ini kata Yuri memang fase akselerasi naik. ”Ini gambaran yang bisa dimaklumi dan lazim di fase-fase awal Covid-19. Kita berharap ini tidak terjadi terlalu panjangn dan pada bulan April mendatang sudah ada hasilnya dan virus sudah terkendali,” jelasnya.

Saat ini contact tracing terus digiatkan oleh tenaga Dinas Kesehatan di semua daerah. Kesadaran dari seluruh masyarakat juga mulai tumbuh dan melapor ke rumah sakit. Ini juga merupakan faktor yang menyebabkan pasien terus naik. Hal ini kata Yuri juga harus direspon dengan terus menambah kapasitas sistem layanan kesehatan sehingga tidak terjadi gap.

Setelah bertemu dengan perwakilan asosiasi rumah sakit seluruh Indonesia, Yuri mengatakan beberapa RS swasta sudah menyiapkan diri untuk mendedikasikan seluruh tempat tidur untuk pasien penyakit Corona. 3 RS dengan kapasitas total 304 bed adalah RS Siloam Kelapa Dua, RS Mitra Keluarga Jatiasih, serta RS Hermina Karawang.   

Selain itu, jaringan laboratotium untuk pemeriksaan spesimen juga diperluas. Diantaranya adalah jaringan Laboratorium Siloam, Kalbe dan jaringan Laboratorium Bunda Group.  ”Ini tentu menggembirakan. Dengan cara ini maka deteksi dini dan penemuan cepat kasus bisa dilaksanakan dengan maksimal,” kata Yuri.  

Kondisi Para Pejabat

Yuri menambahkan para Pejabat negara baik tingkatan menteri hingga pembatu-pembantunya juga terus melaksanakan medical check up di RS yang telah ditunjuk. Namun karena sifat dari general check up yang rahasia, maka Kemenkes tidak berhak untuk mengungkapkan hasil lainnya. “Kecuali pasien positif maka kami akan pertimbangkan ulang,” katanya.

Selain itu Yuri menyebut kabar baik bahwa staf RS Mitra Keluarga Depok tempat pasien kasus 1 dan 2 pertama kali dirawat sudah selesai menjalani masa observasi selama 14 hari. Total 71 staf medis tersebut dinyatakan sehat dan negatif Corona. ”Saat ini sudah berfungsi melaskankana tugasnya seprti biasa,” katanya.(gr/ulo/nat/tau/JPG)