Kisah Pemburu  Cenderawasih yang  Kini Menjadi Duta Konservasi

Bambang Birawa (foto:Robert Mboik Cepos)

Tidak semua orang tahu jika  pekerjaan memburu burung Cenderawasih adalah satu profesi yang sampai saat ini masih digeluti sebagian masyarakat pedalaman. Selain kerjanya mudah, disatu sisi mampu mengumpulkan pundi pundi nilai rupiah yang cukup tinggi. Namun pernahkah orang  berpikir, memburu burung Cenderawasih justru bisa mendatangkan  malapetaka di kemudian hari. Berikut kisah seorang eks pemburu Cenderawasih yang sudah bertobat. Bagaimana kisahnya?

Laporan: Robert Mboik- Sentani

Pemerintah harus lebih jeli lagi memperhatikan rakyatnya. Mereka tidak punya cara lain untuk mendapatkan uang, selain berburu Cenderawasih. Mereka menganggap alam itu sebagai tempat  di mana mereka harus mencari, dimana mereka harus berburu dan hasil  dari buruan itu kemudian dijual. 

Kalau tidak demikian, mereka tidak bisa pakai pakaian yang bagus. Karena tidak ada langkah-langkah lain yang mereka tempuh dan langkah itu juga pernah saya tempuh, itulah sepenggal kalimat yang disampaikan Bambang, seorang eks pemburu Burung Cenderwasih yang kini sudah menjadi duta konservasi lingkungan. Dia  menggeluti profesi itu  selama belasan tahun sejak 2007 silam.

Nama Bambang Birawa, mungkin sangat asing di telinga  sebagian besar masyarakat Papua, itu memang benar adanya, karena dia bukanlah tokoh film lawak sekelas  Mr. Bean atau  finalis ajang pencarian bakat tanah air. Tapi Bambang yang sesungguhnya adalah pemuda sederhana, dengan gaya khasnya, rambut anyam gimbal dengan jambang tipis di kiri dan kanan pipinya.

Bambang begitu dia disapa, pertama kali memilih pekerjaan memburu burung Cenderawasih karena alasan ekonomi. Pernah mengenyam pendidikan tinggi hingga semester VII di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Jayapura, lantas cita-citanya ingin menjadi seorang sarjana harus putus di tengah jalan setelah dia tidak memiliki biaya kuliahnya yang saat itu hendak melanjutkan kuliah lapangan di Jogjakarta.

Pulang kampung adalah pilihan terbaiknya. Untuk menyambung hidup usai putus kuliah, dia memutuskan untuk bekerja sebagai pemburu burung Cenderawasih di tanah kelahirannya di Unurumguay. Profesi barunya sebagai pemburu Cenderawasih dimulai sejak 2007 silam. Himpitan ekonomi secara bertubi-tubi, ditambah lagi sang adik yang ingin kuliah, membuatnya tidak berpikir dua kali menjalani ptofesi barunya itu. Baginya, yang paling penting adalah bagaimana mendapatkan  uang untuk bertahan hidup dan bisa membiayai sang adik kuliah. Dia tidak mau, hal yang sama dialami sang adik.

“Pada saat itu mencari pekerjaan agak susah sehingga lebih baik berburu Burung Cendrawasih untuk mempertahankan hidup karena itu dianggap lebih gampang dan cepat mendapatkan uang,”ungkap Bambang kepada Cenderawasih Pos di Sentani belum lama ini.

Dalam sehari, dia mampu memburu 4 sampai 5 ekor Cenderawasih. Jumlah itu bisa lebih  tergantung jumlah burung yang bermain dalam satu pohon. Harga jual di pasaranpun sangat menjanjikan. Satu ekor Cendrawasih bisa dijual dengan harga Rp 400 sampai Rp 500 ribu. Sebelum dipasarkan,  hasil buruan itu kemudian diawetkan dengan cara dagingnya dikeluarkan dulu, lalu dimasukkan kapas ke dalam kulit burung Cendrawasih yang masih segar dan diberi dengan cairan  formalin kemudian dijahit.

“Jadi dari tahun 2007 itu menurut saya pekerjaan yang bisa mendapatkan uang itu hanya memburu Cendrawasih,”katanya.

Dalam seminggu dia bisa mengumpulkan uang sebesar Rp 4 hingga Rp 5 juta bahkan lebih dari itu.  Untuk menjual burung Cendrawasih yang sudah diawetkan itu tidak sulit.  Menurutnya, saat ini ada banyak pasaran bebas yang memperjualbelikan burung Cendrawasih khas Papua yang sudah diawetkan. Bahkan saat itu  permintaannya tidak saja datang dari kota Jayapura sendiri tetapi berasal dari luar Kota Jayapura.

Orang sekampungnya sangat mengenal sosok Bambang karena profesinya itu. Sehingga pada beberapa kesempatan, rentang waktu 2007-2018, ada LSM yang mendatangi kampungnya. Kemudian WWF juga  sering menemuninya. Kunjungan LSM dan WWF ini kemudian mulai menyadarkanya untuk tidak lagi menjadi pemburu. Namun butuh waktu sekitar dua sampai tiga bulan baginya untuk mempertimbangkannya.

“Saya juga merasa prihatin karena ternyata masih banyak orang Papua yang belum melihat burung Cendrawasih secara langsung. Mereka hanya melihat dari YouTube dari TV. Padahal di daerah saya itu untuk kontak langsung dengan burung Cendrawasih sangat dekat,”imbuhnya.

Kini Bambang bukan lagi seperti yang dulu, dia punya komitmen untuk menjaga polulasi Cenderawasih dari kepunahan. Terutama dikampung asalnya yang menjadi salah satu tempat bermainnya cenderawasih. Tak lagi berprofesi sebagai pemburu, kini dia mengemban tugas barunya sebagai ketua  kelompok rencana pengelolaan ekowisata di Khotib. Meski tidak lagi sebagai pemburu Cenderwasih, tapi dia punya keinginan besar bagaimana menghentikan aktivitas warga kampungnya itu untuk memburu satwa  yang dilindungi itu. 

Diakuinya, di tempat kelahiranya itu masih banyak warga yang menjalani profesi itu. Jika ini tidak segera dihentikan, benar adanya jika malapetaka itu datang satu saat. Malapetaka di mana generasi penerus Papua hanya bisa melihat Burung Cenderawasih dari gambar dan youtube. Karena, bukan tidak mungkin, perburuan yang terus- menerus dilakukan akan sampai pada kondisi itu. Satu kondisi di mana, orang hanya mendengar cerita akan keindahan satwa itu tanpa pernah melihatnya lagi di kehidupan nyata.

“Saya tidak punya niat lagi untuk berburu, tapi saya punya rencana sekarang itu bagaimana nasib para pemburu Cenderawasih yang lain itu bisa mendapatkan pekerjaan lain dengan tidak memburu Cenderawasih lagi,”ungkapnya.*