Saat Para Jurnalis Dibekali dalam Peliputan PON XX Papua

Terlambat Datang ke Venue Akan Berpengaruh dalam Penulisan  Berita

Puluhan jurnalis di Provinsi Papua mendapat kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang peliputan event besar olahraga, dalam hal ini terkait persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua. Bagaimana prosesnya? Berikut laporan Cenderawasih Pos.

Laporan: Gratianus Silas

Tidak  cukup hanya sehari tentunya, melainkan tiga hari, terhitung mulai Rabu (20/1) hingga Jumat (22/1), Panitia Besar PON XX Papua menginisiasi diselenggarakannya pelatihan bagi jurnalis dalam kaitannya dengan peliputan Pesta Olahraga Nasional (PON) XX di Papua tahun ini.

Mengingat terdapat 4 klaster dalam PON Papua ini, yakni Mimika, Kabupaten Jayapura, Merauke, dan Kota Jayapura, sehingga pelaksanaan kegiatan ini tidak sekadar melibatkan jurnalis dari Kota Jayapura saja, melainkan pula dari daerah tuan rumah penyelenggaraan PON lainnya.

Gubernur Papua, Lukas Enembe, SIP., MH., mengaku bahwa jurnalis yang menjadi representasi dari media memiliki peranan yang luar biasa dalam sukses PON dalam aspek pemberitaan, baik sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, maupun sukses ekonomi, sebagaimana yang ditekankan selama ini.

  “Terlebih PON ini mendapat perhatian, baik dari tingkat pemerintah pusat melalui Presiden RI maupun di tingkat Pemprov Papua melalui Gubernur dan Wakil Gubernur. Oleh karena itu, sebagaimana dikampanyekan, kita harapkan bersama agar PON ini harus sukses,”ungkap Gubernur Papua, Lukas Enembe, SIP.,MH., melalui Staf Ahli Bidang Pembangunan Otonomi Khusus Pemerintah Provinsi Papua, Triwarno Purnomo saat pembukaan pelatihan di Fox Hotel Jayapura, Rabu (20/1) kemarin.

Tidak heran jikalau kemudian Bidang Humas PB PON mengambil langkah untuk menggandeng jurnalis, memberikan pelatihan tentang bagaimana meliput event olahraga, dalam hal ini PON, sehingga para jurnalis memahami teknis peliputan lapangan nantinya.

Sebab, sukses PON melingkupi aspek penyelenggaraan, sukses dalam prestasi, maupun sukses dalam ekonomi. Tiga sukses ini dapat dicapai dengan tentunya melalui dukungan dari media massa melalui para jurnalis yang bekerja semaksimal mungkin dan bersungguh-sungguh dalam menghasilkan berita yang relevan dengan fakta di lapangan.

“Melalui pelatihan ini, pemberitaan yang akurat dan terpercaya oleh media, serta mendukung jurnalis Papua menjadi handal dan profesional dalam peliputan PON nantinya,” tambahnya.

Demikian, pelatihan tersebut melibatkan pemateri yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam peliputan event olahraga, baik kelas nasional maupun internasional. Seperti halnya Aryo Wisanggeni yang merupakan redaktur jubi.co.id dan mantan jurnalis Harian Kompas yang memiliki pengalaman meliput SEA Games dan Asian Games. Adapula Dominggus Mampioper yang merupakan jurnalis olahraga senior Papua, serta pemateri berkualitas lainnya.

Redaktur jubi.co.id, Aryo Wisanggeni, sebagai pemateri menyampaikan segudang informasi perihal peliputan cabang olahraga terukur yang diperlombakan saat PON, SEA Games, maupun Asian Games.

Dalam materi yang disajikan mantan jurnalis Harian Kompas tersebut, ditekankan bagaimana seorang jurnalis yang hendak meliput event olahraga harus dapat memahami dengan saksama agenda lomba dalam cabang olahraga terukur, seperti atletik, panahan, maupun renang.

Pasalnya, terlambat sedikit saja, jurnalis akan melewatkan lomba, yang berpengaruh pada materi penulisan berita nantinya. “Makanya, datang ke venue, cari media center, dan tanyakan tempat pengambilan jadwal perlombaan. Kenali nomor perlombaan yang akan diliput, dan pastikan sudah duduk di tribun sebelum perlombaan dimulai,” terang Aryo Wisanggeni saat menyampaikan materi pelatihan.

Meliput cabor terukur dinilai menarik, sebab banyak medali yang akan diperebutkan di cabor ini. Tak heran jikalau daerah atau negara memenangi event olahraga karena memiliki jumlah medali yang banyak dari cabor terukur.

“Ada rekor pribadi, rekor musiman, rekor nasional, hingga rekor dunia yang bisa dipecahkan juga di cabor terukur, sehingga dalam peliputan ini harus diperhatikan dengan baik. Termasuk aturan doorstop atlet yang diketahui dengan baik,” jelasnya.

Adapun, jurnalis kabarpapua.co, Qadri Pratiwi, mengaku bahwa pelatihan yang diberikan sangatlah menarik, terlebih mengingat dirinya mendapatkan pengetahuan yang baru terkait peliputan event olahraga seperti halnya PON.

“Materi yang disajikan cukup menarik, terlebih kita mengetahui hal-hal yang baru. Sayangnya, dalam penyampaian materi secara online ada terkendala gangguan teknis jaringan, sehingga tidak maksimal. Ke depannya, diharapkan ada lagi  pelatihan seperti ini, yang dapat disajikan dengan materi-materi menarik,” jelas Qadri Pratiwi.

Selain itu, jurnalis Antara News, Dian Kandipi, mengapresiasi diselenggarakannya pelatihan jurnalis meliput PON ini. Pasalnya, menambah ide dan kemampuan menulis berita olahraga.

“Meskipun ada kendala, namun pelatihan ini diikuti para jurnalis yang datang bukan hanya dari Kota Jayapura, melainkan pula dari Kabupaten Jayapura, Mimika, dan Merauke. Mereka mengikuti dengan antusias, sehingga ini membuktikan bahwa pelatihan ini sangat ditunggu jurnalis, apalagi ini sudah mendekati penyelenggaran PON XX di Papua. Intinya, pelatihan ini sangat banyak manfaatnya bagi jurnalis, sehingga diharapkan ke depannya dilaksanakan lagi,” terang Dian Kandipi.(*/wen)