JUMPA PERS: Kadinkes Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes., saat memberikan keterangan pers di Hotel Aston Jayapura, Kamis (9/5). ( FOTO : GRATIANUS SILAS/CEPOS)

JAYAPURA-Sejak tahun 1992 hingga 31 Maret 2019, jumlah kasus HIV-AIDS di Provinsi Papua telah mencapai 40.805 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes., menyebutkan, dari jumlah tersebut, 15.935 kasus HIV dan 24.870 kasus AIDS.

“Secara kumulatif, angka penemuan kasus HIV-AIDS terlihat besar. Namun, jikalau dilihat dari temuan kasus yang dilaporkan kabupaten/kota melalui surveilens  AIDS dalam 5 tahun terakhir cukup bervariasi,” ungkap Aloysius Giyai dalam keterangan persnya didampingi Ikatan Dokter Indonesia cabang Kota Jayapura, Balai POM Jayapura, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua, dan Pegiat HIV Jayapura Support Group (JSG) di Hotel Aston Jayapura, Kamis (9/5) kemarin.

Sebut saja pada tahun 2014 terdapat 4.453 kasus HIV-AIDS, sementara 2015 tahun terdapat 4.251 kasus. Tahun 2016 menurut Aloysius Giyai ditemukan 3.773 kasus, tahun 2017 3.724 kasus dan tahun 2018 terdapat 3.309 kasus HIV-AIDS. 

Dirinya menyebutkan terdapat beberapa kabupaten yang diakui belum melaporkan kasus secara lengkap setiap tahun. Dari temuan kasus HIV-AIDS ini, Aloysius Giyai mengatakan, kasus terbanyak ditemukan di Kabupaten Nabire, diikuti Kota Jayapura, dan kemudian Kabupaten Jayawijaya,” terangnya lagi.

Untuk temuan kasus berdasarkan jenis kelamin dalam 5 tahun terakhir, kasus HIV-AIDS dialami kaum perempuan dibanding laki-laki. Sedangkan berdasarkan kelompok umur, kasus terbanyak terjadi pada umur 25 – 49 tahun. 

“Pada kelompok umum 15 – 19 tahun dalam 5 tahun terakhir, sedikit ada penurunan kasus. Jikalau dilihat berdasarkan faktor risiko, yang terbanyak akibat heteroseksual. Namun penularan dari ibu ke anak juga sedikit meningkat kasusnya. Kemudian, kasus HIV-AIDS berdasarkan suku terbanyak Papua dibandingkan non Papua,” jelasnya.

Untuk jumlah ODHA yang masuk perawatan menurutnya mencapai 33.955 orang. Dari jumlah tersebut, 21.788 ODHA pernah mengonsumsi ARV.

“Namun yang rutin menerima ARV sebanyak 6.534 orang. Jumlah ODHA yang lost to follow up mencapai 7.597 orang, sedangkan yang meninggal mencapai 2.905 orang, dan stop ARV 168 orang,” bebernya.

“Melihat angka cakupan ODHA yang menerima  ARV secara rutin, ODHA yang on ARV, dan tingginya angka lost to follow up menjadi persoalan di Papua. Beberapa faktor ialah masih tingginya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, sehingga ODHA malu datang ke layanan ARV, jarak yang jauh dari layanan ARV,  serta biaya transportasi yang tdak memadai untuk ADHA datang ke layanan ARV. Adapun, rendahnya keterlibatan ODHA dan keluarga dalam proses perawatan,” sambungnya.

Untuk menjawab persoalan ini, Dinkes Papua menurutnya akan memperluas layanan ARV sampai ke Puskesmas. Selain itu memperkuat SDM kesehatan dalam konseling kepatutan minum ARV bagi ODHA, mendorong keterlibatan kader kesehatan dalam pnedampingan ODHA, memperkuat kelompok dukungan sebaya (KDS) dalam pendampingan, dan meningkatkan tugas kesehatan dalam kunjungan rumah ODHA.

Pihaknya juga akan meningkatkan perawatan berbasis rumah dan upaya perawatan berbasis masyarakat.

Sementara itu, Ketua IDI Kota Jayapura, dr. Samuel Baso menjelaskan bahwa hingga kini, berdasarkan evidence based, ARV masih menjadi satu-satunya yang bisa membuat sehat dari HIV-AIDS. 

“Jadi, bukan sembuh, sebaliknya membuat sehat, yang mana berarti bekerja seperti biasa. Kami punya pasien yang lebih dari 15 tahun minum ARV, lebih 10 tahun banyak, itu bukti bahwa Arv sangat menjanjikan,” tambahnya. (gr/nat)