SERAHKAN SEMBAKO: Wali Kota Jayapura Dr.Benhur Tomi Mano, MM., saat menyerahkan bantuan Sembako kepada warga yang mendapatkan bantuan program kartu keluarga sejahtera, program sembako, di Makodim 1701/Jayapura, Selasa (2/6) lalu. (FOTO: Priyadi/Cepos)

BTM: Penerapan New Normal Tetap Dilakukan Kajian

JAYAPURA-Jumlah kasus positif virus Corona atau Covid-19 di Provinsi Papua telah menembus angka 1.000 tepatnya 1.065 terhitung hingga Minggu (7/6) kemarin. Bahkan sehari sebelumnya, Sabtu (6/6) jumlah kasus positif sudah menembus angka 1.000 tepatnya 1.038 kasus positif. 

Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) mengatakan, berdasarkan data yang diterima Satgas Covid-19 Provinsi Papua hingga Minggu (7/6) malam, terdapat penambahan 27 kasus positif baru. Penambahan tersebut terjadi di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Jayawijaya, dan Keerom.

“Kabupaten Jayapura penambahan 12 kasus positif, Kota Jayapura 9 kasus Kabupaten Jayawijaya 4 kasus dan Keerom sebanyak 2 kasus,” ungkap dr. Silwanus Sumule, Minggu (7/6) kemarin.

Penambahan menurutnya juga terjadi pada Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Dalam hal ini, PDP bertambah 3 pasien, yaitu dua di Kota Jayapura dan 1 di Kabupaten Mimika.  Sedangkan untuk ODP, bertambah 9 orang yaitu 4 orang di Kota Jayapura, dan 5 orang di Boven Digoel.

Untuk pasien yang sembuh, dr. Silwanus Sumule menyebutkan ada 4 pasien sembuh di Kabupaten Jayapura. “Atas nama Satgas Covid 19 Provinsi Papua mengapresiasi seluruh petugas medis, khususnya di Kabupaten Jayapura. Terlebih khusus lagi di RS Yowari, karena dengan kerja yang luar biasa sehingga 4 pasien dapat dinyatakan sembuh hari ini (kemarin),” tambahnya.

Ditambahkan, dari total kasus positif kumulatif di Provinsi Papua yang telah mencapai  1.065 kasus, sebanyak 761 pasien masih menjalani perawatan, 290 pasien telah dinyatakan sembuh dan 14 pasien meninggal dunia (1 persen). “Total ODP 3.035 orang, PDP 784 pasien, dan pemeriksaan PCR yang telah mencapai 5.940 sampel,” tutupnya. 

Sementara itu, trkait penerapan New Normal yang mulai diberlakukan di beberapa daerah di Indonesia, untuk Kota Jayapura menurut  Wali Kota Jayapura Dr.Benhur Tomi Mano, MM., tetap akan dilakukan kajian terlebih dahulu. Kajian ini akan dilakukan OPD di lingkungan Pemkot Jayapura yang melibatkan pakar epidemologi dari universitas  yang ada di Kota Jayapura, dunia usaha dan Organda serta adanya dukungan dari masyarakat.

Dikatakan, dalam kajian ilmiah ini akan mempertimbangkan banyak hal termasuk diantaranya tingkat penularanCovid-19 yang diukur dari R0 atau Reproduction Number (R0). 

Untuk Kelurahan Hamadi yang jumlah kasus positif paling tinggi di Kota Jayapura menurut Benhur Tomi Mano (BTM) angka R0nya masih di bawah 1 atau tepatnya 0,7. Angka ini berdasarkan standar WHO masih dikatakan aman. 

  “Dari perhitungan ini jumlah virus mengalami penurunan. Artinya 1 pasien bisa menularkan 1 sampai 3 orang dan melakukan penularan ini masih dikategorikan rendah  menurut WHO.  Hal ini  akan terus jadi pertimbangan untuk penerapan New Normal. Sekarang  kajian-kajian lagi dibuat, oleh masing-masing OPD terkait di Pemkot  Jayapura,” jelasnya, Minggu (7/6). 

Masing-msing OPD menurutnya akan membuat kajian sesuai bidangnya masing-masing. BTM mencontohkan, Dinas Perhubungan Kota Jayapura akan membuat kajian dan menyusun menyusun bagaimana pengaturan taksi, mobil rental, ojek online dan lain-lain yang tetap merujuk pada aturan dari pemerintah pusat. 

 “Tapi yang saya harapkan bisa melihat kondisi real  di Kota  Jayapura. Termasuk sisi kajian lainnya harus ada kajian seperti dari Disperindakop, Bapenda, Dinas Tenaga Kerja dan lainnya,” pintanya. 

Semua ini menurut BTM akan dibahas secara bersama dan disesuaikan dengan kondisi rill di Kota Jayapura. “Misalnya untuk angkutan umum ada pengurangan jumlah penumpang yang diangkut. Ini tentu akan berdampak pada setoran sopir dan pembelian BBM. Hal-hal seperti ini yang akan dibahas dan digodok untuk diperhitungkan dalam penerapan New Normal. Namun yang paling utama, tetap harus menerapkan protokol kesehatan,” pungkasnya.(gr/dil/nat)