JAYAPURA-Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. H. Rustan Saru, MM., mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya dari Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dilaporkan 9 tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas yang terpapar Covid-19. 

“Ini karena memang ada beberapa yang terpapar, tapi kurang jujur dalam memberikan informasi kepada petugas kesehatan, sehingga petugas kita ikut terdampak penularan Covid 19. Dari yang saya sebutkan, ada yang dikarantina di LPMP Kotaraja,” ungkap Rustan Saru, kepada Cenderawasih Pos, Jumat (9/7) kemarin.

“Kami harap, mereka semua segera sembuh dan kembali bekerja seperti biasa, dalam hal ini membantu pemerintah dalam percepatan pemutusan mata rantai penularan Covid 19 di Kota Jayapura,” lanjutnya.

Rustan Saru mengakui bahwa tugas tenaga kesehatan sangat padat, sehingga faktor kelelahan dapat menyebabkan penularan Covid-19 terjadi.

“Tenaga keseahtan kita harus memberikan pelayanan kesehatan, pelayanan Covid 19 hingga memenuhi target vaksinasi kepada warga kota. Mereka padat tugas. Belum lagi, harus mencapai tes sesuai instruksi Mendagri, di mana di Kota Jayapura harus capai 438 tes per hari, entah itu tes antigen maupun PCR,” sebutnya.

>>Baca juga http://cenderawasihpos.co.id/bertambah-40-kasus-lonjakan-covid-19-makin-sulit-dibendung/

“Makanya, kita kerahkan aparatur kita di tingkat distrik, lurah, dan kampung, juga kepala puskesmas kita untuk aktif melakukan tes antigen maupun PCR, maupun juga vaksinasi. Dan ini berjalan terus setiap hari,” sambungnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari mengaku, tak dapat memastikan jumlah tenaga kesehatan yang terpapar Covid 19 di Kota Jayapura. Namun, dapat dipastikan bahwa tenaga kesehatan di sebagaian besar puskesmas di Kota Jayapura sudah terpapar Covid-19.

“Sudah tak terhitung, teman-teman lagi banyak yang terpapar. Di Puskesmas Twano ada 9 Nakes, meskipun ada juga beberapa yang sudah sembuh. Kemudian, di Puskesmas Waena dan Hamadi juga ada nakes yang terpapar. Di Puskesmas Skouw ada 2 nakes, dan di Puskesmas Yoka ada 5 nakes,” tambah dr. Sri Antari kepada Cenderawasih Pos.

Sementara itu, Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., menyebutkan bahwa tingginya tren penularan Covid-19 di Kota Jayapura tertuang dalam angka kasus yang sudah mencapai 400 lebih orang dalam perawatan.

Adapun, kapasitas rumah sakit dan LPMP sebagai rumah isolasi mandiri hampir penuh menampung pasien Covid-19 di Kota Jayapura.

“Ini sudah 400 kasus lebih, mau sampai 1.000 kasus. Rumah sakit mungkin sudah penuh. LPMP Kotaraja sedikit lagi sudah penuh,” jelas Wali Kota Benhur Tomi Mano kepada Cenderawasih Pos, Jumat (9/7) kemarin.

“Memang ada isolasi mandiri. Disebut isolasi mandiri kalau yang bersangkutan ditempatkan di kamar tersendiri. Tapi kalau ada interaksi dengan keluarga, maka penularan terjadi dan angka kasus bertambah terus di wilayah Kota Jayapura. Itu yang kita takutkan,” sambungnya.

Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. Rustan Saru, MM., menambahkan, peningkatan tren penularan Covid 19 di Kota Jayapura juga berpengaruh terhadap penuhnya pasien yang dirawat di LPMP Kotaraja sebagai rumah isolasi mandiri di Kota Jayapura.

“Kita sudah 80 – 90 pasien yang menempati LPMP Kotaraja. Ada ruangan yang masih tersedia tapi masih harus direnovasi dulu baru bisa difungsikan. Kalau dalam minggu ini sudah selesai direnovasi, maka bisa langsung digunakan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari, menjelaskan bahwa saat ini terdapat 156 pasien yang dirawat di LPMP Kotaraja. Namun, angkanya fluktuatif, sehingga kemudian dapat bertambah lagi.

“Di LPMP, dari 166 yang dirawat, ada 9 orang yang pulang, sehingga tinggal 156 orang. Nanti mungkin bertambah lagi. Kapasitas LPMP sesuai perjanjian itu 273 orang, termasuk tenaga kesehatan 22 orang, sehingga jadi 251 orang,” jelasnya.

“Hanya saja, kita masih harus buka lagi ruangan yang belum terpakai, dan ada yang direnovasi juga. Jadi, ruangan yang digunakan itu sekitar 200-an,” pungkasnya.

Adapun sikap tegas yang diambil pemerintah kota untuk melakukan pembatasan aktivitas dengan batas waktu pukul 20.00 WIT termasuk rencana mulai diberlakukan portal untuk gang – gang dianggap tepat seiring meledaknya angka penularan di Jayapura. Jika ini tak disikapi serius maka  sangat memungkinkan Jayapura menyimpan bom waktu yang sewaktu – waktu justru semakin sulit dalam penanganannya. 

 Ini juga terlihat di lokasi pemakaman pasien covid-19 di Buper Waena dimana Jumat (9/7) tercatat ada 4 jenazah yang dimakamkan. 

Setiap hari dipastikan ada saja jenazah covid yang harus dikuburkan. “Untuk kami di satuan tugas,  memakamkan  jenazah itu setiap hari pasti ada. Tidak hanya yang di Jayapura tetapi ada juga yang dari luar Jayapura,” kata Yamamoto Sasarari salah satu anggota tim covid saat ditemui di lokasi pemakaman, Jumat (9/7). 

Ia menyebut bahwa pandemi ini sulit diatasi apabila masyarakat tak mau ambil pusing. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada jumlah jenazah yang dimakamkan akibat Covid.

 Dirinya menyesalkan apabila masih ada oknum masyarakat yang masih berkeliaran tanpa mengenakan masker dan mengikuti apa yang menjadi protokol kesehatan. 

“Sulit kita putuskan mata rantai ini jika semua masih tidak peduli. Covid ini benar- benar ada dan 5 jenazah setiap hari bagi kami itu sudah biasa. Bahkan saat ini Covid tidak hanya menghantam para lanjut usia. Ada juga anak-anak muda usia 20-an tahun,” beber Yamamoto. Sementara dalam penanganan jenazah, pria yang bertugas di Dinas Kesehatan Provinsi Papua ini mengaku terkadang mengalami kelelahan. Namun karena personel terbatas akhirnya mau tidak mau harus dilakukan.

 “Untuk yang selalu stanby dalam proses pemakaman ya kami – kami ini. Jumlahnya tidak lebih dari 10 orang sehingga bisa dibayangkan jika jenaah mau dikebumikan malam hari dengan kondisi hujan dan personel sangat terbatas,” bebernya. 

“Tidak perlu merasa diri hebat dan kuat sebab penyakit ini bisa menghantam semuanya, sekali lagi setiap hari selalu ada jenasah dan jangan disepelekan,” imbuhnya. (ana/gr/ade/nat)