Penjual buah pinang saat menunggu pembeli dan pelanggannya di Pasar Youtefa Abepura. (FOTO: Priyadi/Cepos)

Melihat Penjualan Buah Pinang selama Pamdemi Covid-19 di Pasar Youtefa Abepura 

Selama pandemi Covid-19,  harga buah pinang di pasaran turun, sehingga mempengaruhi omzet penjual buah pinang. Bagaimana penjual buah pinang menyikapi kondisi ini?

Laporan : Priyadi-Jayapura

Selama ini penjual buah pinang terbanyak di Wilayah Jayapura, hanya ada di  Pasar Youtefa Abepura. Transaksi jual beli biasanya terjadi siang sampai sore hari dari jam 13.00-17.30 WIT. 

 Di sana kita akan melihat lebih dari 20 penjual buah pinang yang berjualan dengan menggunakan motor roda dua. Buah pinang yang dibeli pedagang diambil langsung dari pemilik pohon buah pinang di daerah Koya,  Arso, Senggi dan Kabupaten Keerom.

  Selama ada pandemi Covid-19, permintaan buah pinang cukup mengalami penurunan, sehingga penjual buah pinang banyak yang mengeluh. Hal ini dikarenakan daya beli masyarakat menurun akibat perekonomian tidak jalan maksimal, sehingga harga yang dibeli dari petani pinang juga turun karena permintaan tidak banyak. Biasanya 1 oki Rp 40 ribu, kini turun menjadi Rp 20 ribu.

 Herman selaku penjual buah pinang di Pasar Youtefa Abepura mengatakan, penjualan buah pinang kini tidak seperti dulu. Adanya pandemi Covid-19 dan kiriman buah pinang yang didatangkan dari PNG mempengaruhi harga jual buah pinang di pasaran, karena untuk buah pinang yang dijual di Pasar Sentral Hamadi kebanyakan didatangkan dari PNG, sedangkan di Pasar Youtefa abepura dari Koya dan Keerom. Untuk pembelinya dari Wilayah Abepura dan Sentani.

 Herman mengakui, buah pinang yang ia jual ada juga yang dikirim ke luar Jayapura, seperti ke Nabire dan  Wamena karena di daerah tersebut tanahnya tidak bisa ditanami pohon pinang.

 Dikatakan Herman, supaya ia tetap mendapatkan untung, harga buah pinang tidak naik turun, caranya ia langsung membeli di petani buah pinang dengan membeli buah pinang yang masih di pohon dan memetiknya kalau sudah siap panen. Dengan demikian, jika sewaktu-waktu harga buah pinang naik tentu tidak  terlalu berdampak.

 Diungkapkan, berjualan buah pinang banyak suka dukanya. Jika buah pinang yang dipanen tidak bagus atau kualitasnya jelek tentu harga jualnya  murah. Tapi jika kebetulan buah pinang kualitasnya bagus,  tentu harganya juga bagus dan dalam berjualan buah pinang juga harus ada pelanggan tetap supaya tidak repot menunggu di pasar.

 Hal senada juga dikatakan Amir,  penjual buah pinang di Pasar Youtefa Abepura bahwa saat ini penjual buah pinang di Pasar Youtefa Abepura sudah semakin banyak, tentu hal ini mempengaruhi keuntungan penjual buah pinang. Oleh sebab itu, dalam berjualan buah pinang harus punya pelanggan tetap dan dalam membeli buah pinang di petani harus ada langganan juga supaya pada saat harga buah pinang naik atau turun tidak berpengaruh.

  Lanjutnya,  selama ini yang datang ke petani buah pinang yang naik ke pohon pinang banyak dilakukan masyarakat pendatang dan yang membeli buah pinang mama-mama OAP untuk di jual kembali seperti yang orang katakan jualan pinang ojek.

 Selama ini sangat sedikit OAP mau mencari buah pinang ke Arso, Koya dan Keerom lalu mau memanjatnya di pohon dan di  jual kembali ke pasar, begitu pula bagi pemilik buah pinang OAP banyak yang tidak mau turun  menjual buah pinangnya ke pasar, padahal kalau ini bisa dilakukam tentu keuntungannya akan banyak. Pemilik buah pinang hanya mau ada pedagang datang, naik sendiri ke pohon lalu terima uang beres.(*)