Terima Aduan, Komnas HAM Membangun Komunikasi Dengan OPM

JAYAPURA-Bukan hanya dua pelajar, rupanya ada 3 warga lainnya yang juga dilaporkan warga tertembak di Puncak pada Jumat (20/11) lalu. Terkait dengan hal ini, Kapolres Puncak AKBP. Decky Saragih belum bisa menyimpulkan apakah korban tersebut tertembak atau tidak.

 “Sulit menyimpulkan jika tiga warga yang dilaporkan meninggal dunia akibat ditembak. Sebab jenazah tidak dilakukan autopsi,” kata Kapolres saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Rabu (25/11).

Lanjut Kapolres, dari pihak keluarga pernah mendatangi Mapolres melaporkan terkait dengan tiga korban tersebut yang belum juga sampai ke Ilaga. Padahal, tiga teman lainnya sudah tiba di tempat mereka.

Laporan dari masyarakat, pada Jumat (20/11), ada enam masyarakat dari Distrik Agundugume mau ke Gome Utara dan Gome. Namun di pertigaan jalan tempat dimana Antanius Murib dilaporkan ditembak mereka berpisah karena arahnya berbeda.

“Yang tiga orang arah ke Gome Utara sudah sampai tujuan, namun tiga orang yang dinyatakan hilang yang arah ke Gome belum sampai. Informasi itu kita dapatkan dari masyarakat, tapi kita panggil untuk diminta keterangan di kantor polisi mereka tidak datang,”  ungkap Kapolres.

 Menurut Kapolres, serba tidak jelas terkait dengan kasus tersebut. Pasalnya, ketika masyarakat  diminta untuk memberikan keterangan mereka malah tidak datang. Inilah yang membuat tingkat kesulitan untuk membuktikan apakah benar para korban ditembak atau tidak.

 “Dari informasi keluarga tiga korban sudah dibakar. Namun sebelum dibakar keluarga sempat mengambil foto sehingga gambar itulah yang tersebar luas di masyarakat saat ini. Padahal jika dilakukan evakuasi kita cek di Puskesmas maka fakta hukumnya lebih jelas,” ucapnya.

 Menurutnya, yang menyatakan adanya korban beraninya hanya ngomong di medsos. Namun ketika dipanggil datang ke Polres untuk memberikan keterangan tidak ada yang datang untuk memberikan keterangan, memilih untuk tertutup.

 “Kendala kami saat ini masyarakat yang memilih tertutup untuk memberikan informasi, entah mereka mendapat ancaman atau seperti apa kami belum tahu. Sekarang kami melakukan pendekatan dengan tokoh terkait untuk mengetahui persoalan ini,” jelasnya.

 Lanjut Kapolres, banyak kejanggalan seakan mau menyudutkan TNI-Polri. Seperti contoh korban yang selamat yakni Manus Murib yang mengakui jika dirinya ditembak di leher. Padahal pemeriksaan awal tidak ada  luka tembak.

 “Inikan suatu kebohongan juga, apalagi korban dikeluarkan dari rumah sakit Mimika dan dibawa ke rumah keluarganya. Bahkan, dari keterangan awal dokter berdasarkan hasil foto rontgen tidak terlihat ada bekas tembakan,” kata Kapolres.

Kapolres meminta perlunya diinvestigasi untuk melihat situasi ini secara ril, biar jelas dan mengantisipasi adanya serangan dari KKB.

Sementara itu, Komnas HAM RI Perwakilan Papua Frits Ramandey mengatakan, pihaknya sudah menerima surat pengaduan dari keluarga korban yang meminta Komnas HAM untuk melakukan investigasi.

Komnas HAM sendiri lanjut Frits, sedang berkoordinasi dengan pihak terkait. Termasuk membangun komumikasi dengan struktur OPM yang ada di wilayah Puncak.

“Investigasi kami belum jadwalkan ke sana, prinspnya menindaklanjuti aduan tersebut Komnas HAM langsung merespon dan berkoordinsi dengan berbagai pihak dan sudah  ada komunikasi formal dan informal,”  pungkasnya. (fia/nat)