SEPI SEBELUM NYEPI:Beberapa umat Hindu di Jayapura melakukan persiapan sebelum pelaksanaan Hari Raya Suci Nyepi yang akan dilaksanakan, Rabu (25/3) besok di Pura Agung Surya Bhuvana Jayapura. Perayaan Suci Nyepi tahun ini ikut terganggu dengan wabah virus Corona sehingga ada beberapa rangkaian kegiatan yang terpaksa tak dilakukan. ( FOTO: Gamel/Cepos )

Mengintip Persiapan Nyepi di Pura Agung Surya Bhuvana Jayapura 

Perayaan Suci Nyepi Tahun Baru  Saka 1942 pada 25 Maret nanti dipastikan benar-benar sepi. Pendemi Covid-19 mengubah beberapa agenda yang sudah disusun. Meski demikian umat Hindu di Jayapura tetap merayakan dengan pembatasan. 

Laporan : Abdel Gamel Naser,Jayapura 

TAHUN lalu di lokasi ini berjejer tenda  dengan tiang-tiang besi dan hampir menutupi pelataran utama. Namun pendemi Covid-19 benar-benar membuat sendi-sendi kehidupan ikut terganggu. Itu termasuk dalam hal  keagamaan. 

Banyak kegiatan ibadah yang dianjurkan untuk tidak dilakukan secara massal guna mengantisipasi penyebaran penyakit Corona. Mau tidak mau sebagai warga yang patuh, umat Hindu di Jayapura ikut melaksanakan apa yang telah menjadi anjuran pemerintah. 

 Sejumlah rangkaian kegiatan ibadah menyambut Hari Raya Suci Nyepi tak dilakukan. Bahkan perayaan puncaknya hanya digelar di Pura Agung Surya Bhuvana. Itupun dengan tidak mewajibkan seluruh umat untuk hadir. Ada sedikit pembatasan agar tidak kecolongan. 

Dari pantauan Cenderawasih Pos, yang terlihat, Senin (23/3) kemarin hanya dua buah tenda yang didirikan di halaman  dan ruang yang berbentuk padepokan. Dimana ada banyak tiang dengan ruang terbuka plus panggung ini juga minim aktivitas. Hanya satu dua kendaraan yang bergantian mengisi areal parkiran kemudian pergi silih berganti. 

 Kendaraan-kendaraan ini dinaiki oleh pengurus pura yang datang untuk sembahyang. Umat Hindu di Jayapura memang telah dianjurkan untuk tidak berbondong-bondong melakukan aktivitas yang sifatnya massal. Apalagi ada surat dari Parisada Hindu Dharma Indonesa Pusat yang isinya kegiatan ritual seperti Melasti/Mekiyis, Tawur Agung Kesanga Nasional, Tawur Agung  Kesanga Provinsi dan Nyepi diminta dilakukan dengan mengikuti kondisi di daerah masing-masing. 

 “Awalnya kami akan menggelar di Taman Imbi dan dihadiri oleh Wali Kota Jayapura, termasuk pejabat lainnya. Namun karena perkembangan isu global  Covid-19, kami mengikuti anjuran pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar rumah apalagi yang bersifat melibatkan massa,” kata Ida Bagus Sutakertya, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia, Kota Jayapura saat ditemui di Pura Agung Surya Bhuvana Jayapura, Senin (23/3). 

Acara yang selama ini dilakukan di Taman Imbi ditiadakan. Meski kata Ida Bagus ada dua kegiatan yang penting yang seharusnya digelar. Pertama ritual, persembayangan dengan melibatkan seluruh umat di Kota Jayapura kemudian  kedua acara yang berkaitan dengan seremonial dengan mengundang tokoh di Jayapura.

 Bahkan hari Senin kemarin seharusnya dilakukan satu rangkaian acara penting yaitu  Melasti atau penyucian jagad raya. Jika dulunya dilakukan di  Pantai Base G dengan melibatkan banyak umat dan sembahyang di sana, acara ini sempat berubah dengan disepakati dilakukan di Pantai Engros karena sebelumnya telah dilakukan penanaman pohon. “Tapi ini juga kami batalkan. Termasuk setelah Nyepi kami bersilaturahmi dengan sesama dan untuk saat ini itu juga tak kami lakukan jadi benar-benar sepi rasanya,” ujar Ida Bagus. 

 Dengan instruksi social distancing  yang diberlakukan ini, kata Ida Bagus secara tidak langsung seluruh umat sedang melakukan acara Nyepi karena tak boleh banyak beraktivitas di luar rumah.  Akan tetapi panitia memutuskan untuk tetap menggelar tapi di satu lokasi yakni Pura Agung  meski keterlibatan umat akan dibatasi. 

Umat Hindu kata Ida Bagus ingin ikut serta membantu pemerintah meski akhirnya tak full menjalankan agenda. Nah acara untuk hari ini (Selasa,24/3) akan bentuknya adalah mensucikan jagad dan melakukan harmonisasi. Dikatakan, ada empat  hal yang patut dilaksanakan untuk melakukan pengendalian diri atau yang  disebut Catur Brata. Pertama Amati Geni dimana tidak melakukan aktivitas adanya cahaya seperti tidak memasak, menyalakan kompor dan menyalakan lampu. Selain api yang disebutkan di atas, api yang ada di dalam diri pun harus di kendalikan seperti emosi, tersinggung dan hal lainnya yang membuat dirinya merasa marah. 

 Kedua adalah Amati Karya yaitu tidak bekerja karena Nyepi merupakan Hari Libur Nasional. Sehingga bagi penganut kepercayaan Hindu mereka tidak boleh sedikit pun mengerjakan sesuatu termasuk pekerjaan rumah seperti bersih-bersih rumah, menonton televisi, memegang gadget atau aktifitas lainnya. 

Poin ketiga adalah Amati Lelungan yaitu pantang untuk menghiburkan diri. Ketika Nyepi semua berdiam dan menjaga situasi tetap tenang. Ini baik untuk mendukung upaya pengendalian diri dan intropeksi diri.

Biasanya  jika di Bali bila terdengar keributan di dalam rumah maka polisi adat atau Pecalang akan mendatangi kediaman. Nah poin terakhir adalah Amati Lelungan   yang artinya tidak ada satu orang pun yang beraktivitas di luaran. “Amati Lelungan biasa kami artikan sebagai pantang berpergian, keluar rumah,” beber Ida Bagus. 

Jika di Bali menurutnya akan diberi sanksi jika yang melanggar, terkecuali terjadi kendaraan darurat seperti kebakaran. Ida Bagus merincikan dimana kegiatan yang biasa dilakukan saat hari raya Nyepi yaitu pertama sehari sebelum Nyepi, tepat pada bulan mati atau tilem wajib melaksanakan upcara Bhuta Yadnya. Kedua adalah pada hari raya Nyepi yaitu pada awal Tahun Baru Saka yang jatuh pada tanggal 1 Sasih Kedasa dilaksanakan Upacara Yoga Samadhi.  Nantinya keesokan harinya setelah Nyepi adalah Hari Raya Ngembek Geni dimana semua keluar rumah untuk saling bermaaf-maafan atau umumnya dibilang silaturahmi dan saling memaafkan. Jika dikaitkan dengan kondisi terkini, kata Ida Bagus nantinya ada doa bersama yang dipanjatkan. Berdoa agar jagad raya  harmonis dan kembali pada posisi semula. Harmonis dalam arti jika saat ini ada masalah Corona maka didoakan segera teratasi.

 Disinggung soal wabah Corona apakah bisa dikaitkan dengan adanya perilaku yang salah dari manusia? Disampaikan bahwa dalam ajaran Hindu ada istilah Sad Ripu yang artinya enam musuh dalam diri manusia. Pertama adalah kama atau nafsu/keinginan. Kedua, lobha atau tamak/rakus, ketiga, krodha atau kemarahan, keempay moha atau  kebingungan. Kelima,  mada atau mabuk dan keenam matsarya atau iri hati/dengki. 

 Ini yang harus dijadikan bahan instrospeksi untuk selanjutnya ikut mensucikan jagad. Ida Bagus menjelaskan bahwa upaya mengharmoniskanjagad seperti di awal disampaikan maksudnya adalah ada hubungan makro cosmos dan mikro cosmos yang kemungkinan sedan terganggu. Makro Cosmos adalah isi jagad raya sedangkan Micro Kosmo adalah manusianya. Saat ini makro kosmo nampaknya sedang terganggu sehingga perlu merefleksi agar bentuk keharmonisan benar-benar terjadi.

  Berkaitan dengan cosmo ini dijelaskan bahwa dalam ajara Hindu ada istilah Tri Hita Karana yaitu hubungan manusia dengan yang maha sempurna, hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alamnya. Jika manusia dengan manusia tak dijaga maka dipastikan tak harmonis. Tiga hal ini patut dijaga sedangkan dalam konteks  corona bisa saja disini ada yang terganggu. “Kami menyebutnya siklus alam yang harus kita taati sama seperti misal ada ombak di laut besar maka nelayan harus minggir, jangan melawan dan ada banyak tanda-tanda alam yang tak boleh  dilawan.  Lalu anjuran pemerintah juga jangan dilawan sebab pasti ada impact,” tambahnya.

 Makro kosmos disebutkan ibarat alam jagat raya beserta isinya sedangkan mikro kosmos adalah tubuh manusia dengan  berbabagi elemen di dalamnya seperti udara, api, panas, cahaya dan dengan jagad raya ini satu. Makro kosmos ini yang harus sesuai sebab jika tidak harmonis pasti ada yang terganggu. Nah satu poin penting yang patut dijadikan masukan kata Ida Bagus adalah manusia saat ini patut eling (ingat) bahwa manusia harus selalu waspada, hormat kepada alam dan yang maha sempurna. 

 Kalau ada yang salah atau terganggu maka dipastikan ada yang tak harmonis dan terjadilah hal-hal yang tak diinginkan. Bisa jadi virus Corona juga muncul karena adanya kesalahan manusia. Umat Hindu sendiri awalnya ingin berdoa di Taman Imbi bukan tanpa alasan. Kata Ida Bagus Taman Imbi  merupakan titik nolnya kota atau biasa disebut catus pata. 

 Catus pata adalah perempatan kota dan disitulah tempat yang dianggap tepat untuk berbicara. “Catus pata menjadi tempat yang tepat untuk mengharmoniskan yang ke atas yang ke bawah dan yang ke samping. Posisinya menjadi titik nol dan berupacara agar mengharmoniskan   jagad. Kami juga akan berdoa untuk Papua terkait penyebaran virus. Kami  berharap masyarakat mengikuti anjuran pemerintah karena pastinya baik,” imbuhnya.

 Disini kata Ida meski tak sesuai rencana, pelaksanaan hari raya tetap dilakukan di Pura Agung dan ia tak menampik jika pura ini menjadi satu dari sembila pura penting di  Indonesia. Pasalnya posisi arah mata angin sangat menentukan. “Kami bikin pura buka soal banyaknya tapi dipertimbangkan dari titik. Sebab lokasi di sini sangat ideal. Dan yang dicari adalah konsep gunung dan laut. Bagi kami gunung dan laut itu tempat suci dan ini ketemu. Kami tidak akan bikin pura di mana-mana sebab lokasinya sudah terpilih. Kami sering kalau ada acara penting di daerah lain maka kami biasa diundang untuk membawa air suci dan Jayapura menjadi paling timur dan secara warna di Jayapura ini warnanya putih sehingga kami betul-betul menjaga agar vibrasinya terdengar senusantara,” pungkas Ida Bagus. (*)