Ketua Majelis Ulama  Indonesia (MUI) Papua, K.H Saiful Islami Al Payage ( FOTO: DOK/CEPOS )

Catatan Ketua MUI Papua, K.H Saiful Islami Al Payage Soal Jamaah Haji yang Batal Berangkat

Ratusan jamaah haji asal Papua hampir dipastikan tahun ini tak bisa melakukan ibadah haji maupun umroh. Pandemi Covid 19 yang jadi sandungan. Ketua Majelis Ulama  Indonesia (MUI) Papua, K.H Saiful Islami Al Payage punya pandangan.

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura 

Tak sedikit mimpi yang kemungkinan pupus dari ratusan umat Islam  yang sudah terdaftar dalam kelompok terbang (Kloter) embarkasi Papua yang harusnya Maret 2020 kemarin bertolak ke Makkah dan Madinah. Semangat untuk mendatangi titik nol kiblat Allah nampaknya harus ditahan lantaran wabah covid yang menyerang hampir ke seluruh negara di dunia termasuk kota tujuan, arab saudi.  Mungkin ada yang  kecewa berat karena sudah menunggu belasan bahkan puluhan tahun dan akhirnya batal berangkat. 

 Namun dibalik ini tentunya ada hikmah yang bisa dipetik oleh manusia yang percaya kuasa Allah SWT. “Ada banyak sekali hikmahnya jika kita melihat dari penundaan pemberangkatan jamaah haji ini. Pertama  yang perlu diyakini adalah manusia hanya bisa merencanakan namun keputusan terakhir hanya Allah yang tahu dan Allah yang menentukan semuanya,” kata K.H Islami Al Payage kepada Cenderawasih Pos, Rabu (3/6). Allah bisa saja mengatakan tahun ini tidak ada umroh maupun ibadah haji karena adanya pandemi covid meski tak ada yang pernah menyangka.

 “Ini maknanya adalah boleh berusaha namun jangan lupa berdoa agar Allah memberikan kemudahan, kelancaran dan ketentuan dari usaha yang sudah dilakukan. Umat Islam juga diminta untuk tetap bersabar dalam menghadapi ujian maupun cobaan dan ini adalah ujian bagi yang mau naik haji. Allah SWT ingin meihat sampai dimana kesabaran mereka,” jelas Payage. Jika dari ujian ini ada kesabaran yang kuat dan bagus maka Allah memberikan pahala yang tanpa batas. 

 “Jadi allah menjanjikan pahala tanpa batas bagi mereka yang sabar. Selain itu sesungguhnya kita perlu berdoa banyak agar kehidupan dan rencana dilancarkan oleh Allah SWT,” bebernya. K.H Islami Payage  meyakini ada skenario yang sudah Allah gariskan dan manusia perlu belajar bahwa manusia yang sempurna adalah mereka yang bisa memadukan antara usaha dan doa. Disini ia juga  menjelaskan bagaimana kepulangan orang – orang yang melakukan ibadah haji. 

 Diakui untuk menjadi istikomah tentu tak mudah namun ada hadist yang bisa dipegang yaitu resep pertama berpegang teguh terhadap amal ibadah yang dilakukan terutama ibadah haji. Tetap berusaha agar jangan sampai spiritual, mental rusak apalagi akhirnya ibadah menjauh. Mereka yang baru pulang dari tanah suci harus memegang teguh apa yang sudah menjadi pelajaran selama disana. “Memang iman juga kadang bertambah dan berkurang, ini berbeda dengan para malaikat dan para rasul yang tak pernah berkurang sedangkan keimanan manusia akan berkurang ketika melakukan maksiat dan akan bertambah  ketika orang itu taat,” sambungnya.

 Karenanya tak cukup sampai disini dimana ada konsep dari para nabi yakni ikutilah perbuatan – perbuatan dosa dengan perbuatan yang baik atau mengandung pahala sebab perbuatan yang mengandung pahala akan mampu menghapus dosa – dosa yang dilakukan. Jangan tergelincir dengan kehidupan jalan – jalan maksiat atau kegelapan apalagi sampai tak pernah kembali lagi ke jalan  Allah. “Seharusnya ketika usai bermaksiat  lalu berwudhu meminta ampun. Nabi juga mengatakan bahwa bergaullah dengan orang – orang yang baik sebab walau haji 10 kali namun teman – temannya pemabuk, sering ke diskotik dan lalai dalam ibadah maka lambat laut akan ikut kesana,” wantinya. 

 K.H Payage berpesan untuk bergaul dengan orang yang sering ke masjid, yang berbicara tutur katanya juga baik dan pandai mencari teman atau teman yang bisa mengantarkan masuk ke jalan Allah. Sementara Cenderawasih Pos berhasil menemui salah satu calon jamaah haji bernama Basri. Dari rautnya ia terlihat kecewa karena sudah memimpikan lama untuk bisa berangkat haji namun akhirnya hingga kini  belum ada kabar kapan akan berangkat.

 “Kecewa juga sebab sudah kami persiapkan dan saya pikir menjadi mimpi semua umat Islam untuk bisa berangkat ke tanah suci tapi apa mau dikata,” jelasnya. Namun Basri mengaku beruntung sebab mengetahui adanya kebijakan pembatasan akses transportasi sebelum keberangkatan sehingga ia tak perlu tertahan di luar Papua. “Mungkin beruntungnya disitu sebab saya dan istri tetap di Papua setelah akses ditutup, jika berada di luar Papua mungkin ceritanya berbeda. Saat ini kami hanya butuh informasi kejelasan soal pemberangkatan ini,” singkatnya (*/wen)