Bupati Biak Numfor Herry Ario Naap, S.Si.,M.Pd didampingi Dandim 1708/BN Letkol. Inf. Ricardo Siregar, Ketua Pengadilan Negeri , Kepala Kejaksanaan Negeri Biak Taufik J Pribadi,SH,  Wakapolres Biak Numfor Kompol Tony Upuya, Wakil Ketua DPRD Biak Numfor Linda Simanjuntak, SE ketika memberikan keterangan pers menyikapi gelombang unjuk rasa di Papua, di Sasana Krida Kantor Bupati, Senin (18/8). ( FOTO : Fiktor/Cepos)

BIAK-Pemerintah Kabupaten Biak Numfor bersama unsur Fokompida langsung menggelar konferensi pers menyikapi gelombang demonstrasi di beberapa wilayah Papua dan Papua Barat. Gelombang demostrasi itu dipicu keluarnya kata-kata rasisme dalam insiden mahasiswa Papua dengan ormas dan aparat di Malang dan Surabaya.

  Dalam konferensi pers semua sepakat menjaga suasana aman dan damai di wilayah Kabupaten Biak Numfor. Insenden berupa tindakan persekusi dan rasisme yang menimpa mahasiswa di Surabaya dan Malang dikecam dan sangat disayangkan.

  Bupati Herry Ario Naap, S.Si.,M.Pd dengan tegas sangat prihatin atas insiden yang disertai dengan rasis itu, namun meminta masyarakat  dan semua pihak supaya tetap mendukung suasana kondusif  di wilayah Kabupaten Biak Numfor.

  “Atas nama pemerintah daerah Kabupaten Biak Numfor, kami menyampaikan rasa empati dan prihatin atas kejadian yang dialami adek-adek mahasiswa di Malang dan Surabaya. Namun, penyampaian aspirasi tentunya juga perlu dilakukan secara terhormat dan tidak dengan cara-cara yang merugikan kita sendiri,” paparnya dalam konferensi pers yang dihadiri langsung jajaran Forkompimda di Sasana Krida Kantor Bupati, Senin (19/8) siang.

   Dalam konferensi pers menyikapi gelombang unjuk rasa di Papua dan Papua Barat itu, sejumlah pimpinan daerah ikut hadir. Diantaranya Dandim 1708/BN Letkol. Inf. Ricardo Siregar, Ketua Pengadilan Negeri , Kepala Kejaksanaan Negeri Biak Taufik J Pribadi,SH,  Wakapolres Biak Numfor Kompol Tony Upuya, Wakil Ketua DPRD Biak Numfor Linda Simanjuntak, SE dan sejumlah jajaran lainnya termasuk pimpinan OPD.  

  Selain itu, juga hadir perwakilan tokoh-tokoh masyarakat, agama, adat, dan sejumlah lainnya. Mereka pada dasarnya menyangkan kejadian di Surabaya dan Malang dan sepakat tetap menjaga suasana kondusit yang aman dan damai di Kabupaten Biak Numfor. Para anggota Forkopimda ini secara bergantian menyampaikan pernyataannya.

  “Sekali lagi kita tidak menerima rasis atau persekusi. Kita menolak rasisme, namun suasana kondusif dan aman harus dipertahankan. Papua sebagai bagian dari NKRI  harus diperlakukan sama, mari kita saling menghargai demi menjaga persatuan dan kesatuan di negara kita ini,” pungkasnya.

  Tak hanya jajaran Forkopimda yang hadir, pewakilan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh ada juga ikut hadir dalam memberikan keterangan pers. “Kami siap mendukung Biak Numfor yang aman dan damai,” kata Tomy Kogoya, Tokoh Masyarakat Pengunungan Tengah saat memberikan pernyataan dalam konferensi pers.

  Ketua GKI Klasis Biak Selatan Pdt. George Korwa, S.Th  menambahkan bahwa masalah ini    perlu disikapi dengan baik dan  aksi  anarkis harus hindari. “Kami akan melakukan doa bersama, harapan kita bersama suasana aman dan damai tetap terhadap di Kabupaten Biak Numfor,” tandasnya.

  Sementara itu, perwakilan Kankain Karkara Byak SP Koibur juga  mengaku sangat menyayangkan kejadian di Surabaya dan Malang yang berbuntut terjadinya gelombang unjuk rasa di sejumlah daerah di Papua dan Papua Barat karena adanya ucapan-ucapan yang dinilai tidak pantas saat itu.(itb/tri)