Matius Murib

Sempat Dirawat, Warga Sipil Korban Penembakan di Nduga Meningal Dunia

JAYAPURA- Rentetan kontak tembak antara aparat keamanan dan TPN-OPM yang tak pernah usai di Kabupaten Intan Jaya dan Nduga terus dipantau Perhimpunan Advokasi Kebijakan dan Hak Asasi Manusia (PAK-HAM) Papua.

Direktur PAK-HAM Papua, Matius Murib mengutuk dan menolak  semua  bentuk kekerasan oleh siapapun yang terjadi di Kabupaten Nduga maupun Kabupaten Intan Jaya. Sebab, kekerasan dan kekejaman bukan cara yang baik untuk mencapai tujuan apapun dan dilakkan oleh siapapun.

“Secara prinsip kami tolak kekerasan karena itu tidak memberi solusi apapun untuk siapapun, hentikan kekerasan dan berpikir dengan cara-cara yang lebih manusiawi dan lebih damai,” ucap Matius kepada Cenderawasih Pos, Rabu (7/10).

Ia juga menegaskan bahwa senjata bukanlah solusi  untuk menyelesaikan masalah di tanah Papua. TNI-Polri dan TPN-OPM  untuk tidak menggunakan senjata dan kekerasan untuk mencapai tujuan.

“Kalau mereka bersenjata tidak  pernah ada solusi. Apapun tujuannya, mau Papua merdeka mau keamanan mau apapun itu tidak bisa. Kekerasan akan menambah kekerasan baru dan tidak  akan pernah menyelesaikan persoalan di tanah Papua,” tegasnya.

Yang namanya kekerasan lanjut Matius harus dihentikan. Alangkah baiknya menggunakan cara-cara yang lebih bermartabat. Sebab menembak tidak ada rumusnya. Apalagi diera demokrasi keterbukaan dan sudah ada HAM.

Matius juga menyinggung pengiriman pasukan dari luar ke  Papua. Hal itu seharusnya diubah  pendekatannya. Jangan keamanan atau militer. Karena itu tidak akan menolong. Pendekatan harus diubah dengan pendekatam kesejahteraan.

“Harusnya menggunakan pendekatan yang lebih manusiawi. Tidak usah dengan menambah jumlah militer ke Papua. Setiap ada masalah langsung kirim pasukan lengkap dengan senjata. Sudah 50 tahun harusnya Jakarta evaluasi ini,” kata Matius.

Sementara itu, Kapen Kogabwilhan III, Kol Czi IGN Suriastawa menyebutkan situasi di Kabupaten Nduga aman  pasca insiden penembakan pos TNI yang berada di Pasar Baru Kenyam Kab Nduga, Selasa (6/10).

“Satgas terus memburu kelompok ini, ke manapun  akan dikejar hingga mereka menyerahkan diri. Hanya dua pilihannya, mau menyerahkan diri bergabung dengan NKRI atau dia akan diburu selamanya,” ucap Suriastawa saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya.

Lanjutnya, tim bahkan telah berada di berbagai pos untuk mengawasi kelompok KKSB tersebut. “Mereka terus dilakukan pengejaran lewat hutan. Ada tim yang mengejar. Lewat perbatasan ada Satgas dan lewat perkampungan akan dikejar satuan wilayah,” katanya.

Sekarang keahlian mereka menggunakan masyarakat Papua sebagai tameng juga mengancam masyarakat, jika masyarakat memberikan informasi kepada aparat maka diteror.

Dikatakan, terkait dengan seorang warga yang ditembak bernama Yulius Wetipo (34) karyawan PT. Dolarosa tertembak di pinggang kiri tembus ke punggung kanan, nyawanya tidak tertolong. “Korban  Yulius Watipo sudah meninggal di rumah sakit Timika,” ucapnya.

Secara terpisah, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal menyampaikan tim medis Rumah Sakit Caritas Timika menyatakan bahwa korban penembakan di Kabupaten Nduga bernama Yulius Wetipo telah meninggal dunia.

Korban yang sebelumnya dievakuasi ke Timika telah meninggal pada Rabu (7/10) sekira pukul 02.00 WIT. Korban meninggal dunia akibat luka tembak bagian perut sebelah kanan tembus kiri pasca penyerangan terhadap Pos TNI Satgas Penyangga Yonif PR 330/TD di Pasar Baru Kenyam Kabupaten Nduga oleh KKB pimpinan Egianus Kogoya.

“Situasi Kabupaten Nduga pasca penembakan warga sipil telah aman dan kondusif. Aparat gabungan TNI-Polri masih melakukan pengejaran terhadap para pelaku,” kata Kamal. (fia/nat)