Carolino Ivakdalam saat tampil dalam laga segitiga Disorda Papua, Bank Papua dan PWI Papua di Stadion Lukas Enembe pada bulan Februari 2020 lalu. ( FOTO: Erik/Cepos)

JAYAPURA-Rabu (14/10), pukul 01:00 WIT, angin dan burung tak memberikan kabar akan kepergian seorang untuk selama-lamanya. Di saat sebagian orang sedang tertidur lelap, Carolino Ivakdalam justru bertarung dengan penyakitnya di RS Provita Jayapura.

Tim medis di RS Provita sudah berupaya keras, namun Tuhan berkehendak lain, dan memanggil Carolino Ivakdalam untuk kembali ke pangkuannya.

Dunia sepakbola bumi Papua pun berduka. Sang mentor si kulit bundar, Carolino Ivakdalam telah menghembuskan nafas terakhirnya dan pergi untuk selama-selamanya.

Kepergian Ino sapaan akrabnya tak hanya menjadi duka bagi keluarga yang ditinggalkan, tapi juga menjadi duka mendalam bagai dunia sepakbola tanah air.

Semasa hidupnya, Ino pernah menjadi bintang Persipura Jayapura di eranya. Mendiang tak hanya dikenal sebagai pemain hebat. Ino juga sempat malang melintang sebagai pelatih klub tanah air.

Ino sempat menukangi sepakbola PPLP Papua. Bahkan pernah menjadi asisten Timo Scheunemann di Persema Malang. Ino juga berhasil mengantarkan Persewar Waropen promosi ke Liga 2 (2019).

Rekan mendiang Ino di Persipura, Daud Arim merasa sangat kehilangan sosok yang selalu periang itu. Daud mengaku, kepergian Ino untuk selama-lamanya menjadi duka yang dalam bagi mereka All Star Persipura Jayapura.

“Sio sayang, kitong pu teman dan saudara terkasih, hati susah dan sedih sekali. Selalu ada canda tawa bersamanya, kenapa berakhir seperti ini. Kenangan tidak bisa saya lupa, sio saya sayang ko saudaraku, ado air mata tumpah,” ungkap Daud Arim kepada Cenderawasih Pos.

Sosok penggemar klub Italia, AC Milan itu juga dikenal sebagai orang yang peduli dengan perkembangan sepakbola Papua. Semasa hidupnya, sebagai pelatih, mendiang dikenal aktif dalam melakukan dan mengikuti kompetisi sepakbola Papua.

Selain itu, Ino juga dikenal sebagai sosok yang tidak pelit berbagi pengetahuan terkait sepakbola. Ia kerap berbagi ilmu serta motivasi sesama rekan pelatih.

“Sosok teman dan saudara yang baik. Suka membantu dan memberi masukan dan panutan bagi kami teman-teman seangkatannya. Dari masih aktif main bola sampai jadi seorang pelatih, Ino adalah seorang yang baik. Suasana tim tanpa Ino tidak meriah. Canda dan cerianya membuat kami selalu bahagia dan perlu dicontohi,” ujar Daud.

“Kami sedih dan susah. Kami mantan pemain Persipura seangkatan almarhum, turut berdukacita yang dalam. Kami kehilangan satu lagi pemain dan pelatih yang hebat di tanah ini,” sambungnya.

Kata Daud, mereka tidak akan lagi menemukan sosok seperti Ino Ivakdalam. Kebaikan dan ketulusan dalam membangun sepak bola Papua menjadi hal yang akan dirindukan pada sosok mendiang.

“Terlalu banyak hal baik dari almarhum yang tidak bisa kami sampaikan, selamat jalan sahabat dan saudara kami Carolino Ivakdalam. Segala perbuatan baikmu, akan membawamu ke rumah Bapa di surga,” ujarnya.

Sementara itu, Timo Scheunemann yang merupakan rekan mendiang Ino saat menukangi Persema Malang pun merasa terpukul dengan kepergian Ino.

“Ino teman paling baik, Sahabat yang menyenangkan, rest in peace my good friend,” tandasnya.

Selamat jalan sang legenda Persipura, selamat jalan sang motivator sepakbola Papua dan selamat jalan pelatih hebat Papua. Tenang bersama bapa di surga. (eri/nat)