Kesiapan stok pakaian sekolah yang disediakan Toko 7 Jaya di Jalan Pasar Lama Sentani, yang nampak sepi pengunjung meski memasuki tahun ajaran baru, Selasa (14/7) kemarin. ( FOTO: Yohana/Cepos)

SENTANI – Tahun ajaran baru kali ini berbeda dengan tahun ajaran baru tahun-tahun sebelumnya. Biasanya kebutuhan baju sekolah mulai dari SD-SMA ramai dicari oleh masyarakat, hanya saja semenjak adanya Covid-19, permintaan baju sekolah turun drastis, karena aktivitas sekolah sebagian belum dapat dilakukan seperti biasa.

  Penanggung Jawab Toko 7 Jaya di Pasar Lama Sentani, Asdar mengakui sampai dengan saat ini permintaan baju sekolah masih sepi. Biasanya dari bulan Juni sampai dengan Juli permintaan pakaian seragam khusus SD dan SMP sudah banyak dicari, namun sampai dengan minggu kedua bulan Juli ini, permintaan masih terbatas.

 “Setiap tahun kami selalu menyediakan pakaian seragam sekolah seperti seragam SD, baju kemeja putih dan rok atau celana merah, pakaian pramuka, pakaian seragam putih, biru maupun putih dan abu-abu lengkap, karena biasanya selalu marak dicari warga seputaran Yahim, Pasar Lama dan juga dari kampung-kampung yang datang berbelanja. Hanya saja sampai saat ini permintaan belum signifikan,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos, Selasa (184/7) kemarin.

 Lanjutnya, kondisi ini memang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian pihaknya tetap menyediakan permintaan pakaian seragam untuk mengantisipasi permintaan masyarakat sewaktu-waktu jika diperlukan.

 “Dampak Covid-19 ini memang sangat mempengaruhi omzet penjualan. Bukan hanya terlihat pada kebutuhan baju seragam tetapi juga kebutuhan pakaian dan sebagainya,” jelasnya.

 Diakuinya, untuk harga pakaian seragam tidak terjadi kenaikan, seperti halnya baju seragam SD Rp 45 ribu ke atas harga disesuaikan dengan ukuran baju, seragam pramuka mulai Rp 50 ribu harga sesuai ukuran, pakaian seragam SMP dan SMA juga mulai dari Rp 50 ribu.

 Hal senada juga diungkapkan Dewi penjual pakaian di Pasar Pharaa Sentani bahwa semenjak Covid-19, masih banyak sekolah yang belum dapat melakukan kegiatan belajar mengajar seperti semula, melainkan masih menggunakan model pembelanjaran online, sehingga permintaan pakaian seragam mengalami penurunan.

“Meski pertengahan bulan Juli sekolah sudah mulai aktif belajar, namun karena kondisi seperti ini masih banyak sekolah yang belum bisa beraktivitas sehingga masyarakat juga belum dapat melakukan pembelian baju seragam seperti biasanya. Kami sudah siap semua kebutuhan anak sekolah, hanya tinggal menunggu waktu aktivitas kembali normal, pasti permintaan akan kembali meningkat,” tandasnya.(ana/ary)