MERAUKE- Sekretaris Distrik Waan Alexius  Darman Ronggo, SSi mengungkap 6 fakta persoalan pendidikan yang ada di  Distrik Waan, Kabupaten  Merauke.  Keenam fakta  persoalan pendidikan ini disampaikan  oleh Sekdis Waan Alexius Darman Ronggo di hadapan para    anggota   DPRD Kabupaten Merauke yang  dipimpin  langsung  Ketua  DPRD Kabupaten Merauke   Ir. Drs. Benjamin Latumahina   didampingi Waket I Hj. Almoratus Solikha, S.Hi dan Waket II  Dominikus Ulukyanan, S.Pd. 

  Fakta pertama, kata Alexius adalah, ketikapihaknya   turun  ke kampung dalam rangka musyawarah kampung, hampir 85 persen sekolah tidak aktif. “Fakta kedua di Kampung Konorau, satu SD di situ sekolahnya penuh  dengan kotoran  binatang. Kami punya  foto dan data  dan  rencananya kami akan sampaikan   kepada pihak  terkait termasuk  anggota  dewan,’’ kata Alexius. 

    Di sekolah ini, jelas  dia, pihaknya   menemui   2 guru kontrak. Berdasarkan   informasi yang diperoleh dari kedua guru kontrak  tersebut, jelas Alexius    bahwa Kepsek di sekolah ini adalah seorang ibu guru. “Mereka disuruh ke sana tanpa SK . Jadi  keprihatinan  saya dan teman-teman,  kenapa mereka datang ke sana walaupun tanpa SK. Ini mungkin    menjadi catatan,’’   jelasnya.    

  Sekdis Alexius Ronggo mempertanyakan  mengapa sampai   detik-detik   terakhir mau ujian   nasional  untuk  SD tapi SK kontrak   belum ada.  ‘’Ini pertanyaan besar  sebenarnya. Mengapa    urusan kontrak  guru-guru ini  seperti sangat sulit  sekali,’’  katanya. 

    Menurut Sekdis Alexius,  jika dulu   setiap kampung guru kontrak 5 orang  tapi sekarang  turun menjadi 3 orang. Fakta  lainnya, jelas Alexius,   bahwa masalah transportasi   menjadi kesulitan  tersendiri bagi  yang bertugas di Distrik Waan. Karena untuk biaya  transportasi  jika mencarter speed boat dari  Kimaam ke Waan antara Rp 15-20 juta.  

  “Tapi kalau siapkan BBM, antara  800 liter sampai 1 ton. “Itu fakta. Apakah dengan  guru kontrak  kita dengan  gaji sekian  mampu untuk ke kampung-kampung. Ini    menjadi pertanyaan besar   bagi kita,” terangnya.
  Fakta lainnya, tidak ada  rumah  guru  di sekolah sehingga  menjadi kesulitan  bagi guru  untuk  tinggal di kampung. Apalagi  kalau  guru itu  adalah perempuan. (ulo/tri)