Perajin  Batik Port Numbay Jimmy Afar saat menunjukkan salah satu batik tulis yang diproduksinya, yang juga akan dipamerkan dan dijual pada saat PON XX, Kamis (25/7).( FOTO : Yohana/Cepos)

Melihat Kesiapan Perajin Batik Papua Menyambut PON XX

Menyambut event nasional PON XX, para perajin batik tulis  di Papua sudah mulai mempersiapkan diri dengan tetap menjaga kearifan lokal Papua. Sebagai anak Papua, para perajin siap mendukung suksesnya PON XX melalui kreativitas membatik.

Laporan : Yohana _ JAYAPURA

Batik tulis merupakan salah satu warisan Budaya Indonesia, yang memiliki keindahan dan keistimewaan tersendiri. Baik dari segi ukuran maupun perpaduan warna yang begitu unik, sehingga membuat batik tulis memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap masyarakat, termasuk wisatawan yang datang ke Indonesia.

 Khusus di Papua, batik tulis juga mulai dikenal dan dikembangkan oleh masyarakat asli Papua, dengan harapan dapat meneruskan dan menceritakan keindahan dan budaya orang Papua,  melalui  motif-motif yang digambarkan pada sebuah kain.

 Batik di Papua pada umumnya dikenal dengan motif Burung Cenderawasih, Tifa dan Honai, namun berdasarkan perkembangan saat ini, setiap daerah mulai mempublikasikan ukiran-ukiran dari daerah masing-masing, sehingga membuat motif batik Papua semakin banyak.

 Menyambut PON XX, Batik Port Numbay menyediakan 500 motif batik Papua yang terdiri dari Papua dan Papua Barat, hampir semua wilayah pegunungan dan pesisir pantai memiliki ornamen yang akan dipertunjukan pada momen tersebut.

 Perajin Batik Port Numbay Jimmy Afar mengakui, dengan meluncurkan 500 motif, hal yang menjadi perhatian penuh pihaknya adalah motif-motif tersebut jangan sampai dijiplak atau ditiru oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

“Alasannya karena sampai dengan saat ini Perda Provinsi, Perda Kota dan Kabupaten tidak mendukung kami dalam menyediakan hak paten dan mengharuskan produksi batik Papua harus dilakukan oleh masyarakat Papua. Setiap toko yang ingin menjual batik Papua harus mendapatkan persetujuan dari para perajin batik Papua, karena setiap corak yang tertera di dalam batik Papua menceritakan tentang budaya kita orang Papua,”ungkap Jimmy kepada Cenderawasih Pos, Kamis (25/7) kemarin.

 Diungkapkan Jimmy Afar,  sebagai  salah seorang anak Papua yang telah menekuni ketrampilan membatik tulis selama 17 tahun lebih, dirinya telah melatih 5.000 lebih para perajin batik pemula yang merupakan kalangan ibu-ibu Papua dan Papua Barat.

 Dari 5.000 pembatik tersebut,  pihaknya akan memamerkan 500 motif batik tulis dari Papua dan Papua Barat. Khusus untuk wilayah Port Numbay,  Jimmy Afar akan menampilakn motif Noken yang merupakan salah satu khas Port Numbay di mana noken menggambarkan arti dari perempuan, selain Noken pihaknya juga tengah menyediakan motif Noken dan Buah Merah dari Wamena.

 Batik Port Numbay akan menjadi homebase bagi setiap pembatik yang telah mendapatkan pelatihan dan ingin menunjukkan hasil karyanya. 

 Melalui event besar ini pihaknya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa masyarakat di Papua juga dapat membatik dan batik telah menjadi budaya bagi anak Papua untuk menceritakan ciri khas dari budaya yang dimiliki oleh anak Papua.

“Kami akan menyediakan syal bagi pengunjung dan para atlit, dimana setiap syal yang kami buat nanti memiliki bermacam-macam motif dan yang paling penting harga dari syal tersebut kami sesuaikan dengan kebutuhan para atlet maupun pengujung yakni Rp 50 ribu- Rp 100 ribu.  Hal ini kami lakukan agar setiap oleh-oleh tersebut dapat memberikan pemahaman bagi mereka yang berkunjung ke Papua bahwa orang Papua memiliki buda dan cirr khas yang unik,” terangnya. **