Mereka Menemukan ”Rumah” di Indonesia (1)

DEDIKASI:Elizabeth D. Inandiak di Pondok Centhini, Jogjakarta. Butuh enam tahun baginya untuk meriset dan menulis ulang Serat Centhini.

Dari Prancis, Elizabeth Inandiak datang ke Indonesia untuk menulis soal Islam versus kebatinan sebelum kemudian bertemu Serat Centhini. Mendirikan Rumah Menapo di Muarojambi untuk tempat menginap peneliti dan penulis serta pusat kegiatan warga.    

BAGUS PUTRA PAMUNGKAS, Jogjakarta, Jawa Pos

ANDAI sang ibu tidak datang ke Jogjakarta pada 1991, tidak akan pernah ada buku berjudul Centhini: Kekasih yang Tersembunyi. Ketika itu, dari Prancis, sang ibu datang ke Jogjakarta dengan membawa tiga buku untuk buah hatinya, Elizabeth D. Inandiak.

Salah satu buku yang berjudul Le Carrefour Javanais karya penulis Prancis Denys Lombard menarik perhatian Eli, sapaan Elizabeth. Buku itu mengorek sejarah kehidupan di tanah Jawa.

Ada satu bagian yang membuat Eli jatuh hati: Serat Centhini. ”Saya masih ingat, Serat Centhini hanya ditulis dua halaman. Pendek, ringkas, tapi jelas,” kata perempuan asal Prancis itu saat ditemui Jawa Pos di Pondok Centhini, Jogjakarta.

Apa yang membuat Eli tertarik? ”Ceritanya adalah tentang pengembaraan orang yang kehilangan arah. Karya luar biasa, tapi belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun,” ungkapnya.

Serat Centhini mengisahkan pengembaraan Amongraga. Pangeran muda yang kabur meninggalkan Kerajaan Giri pada abad ke-17. Mencari keabsahan Tuhan dengan sifat sombongnya. Sementara itu, Centhini adalah sang abdi, yang kelak malah mampu menemukan Tuhan dengan segala kerendahan hatinya.

Kisah itu diserat pujangga Keraton Solo pada 1814 sesuai dengan perintah Pangeran Anom Hamengkunegara III. Baru pada 1850 Serat Centhini selesai ditulis. Ada sembilan jilid. Jilid pemungkas yang dikenal paling ”nakal” ditulis langsung oleh Pangeran Anom Hamengkunegara III. Kisah itu membuat Eli yakin harus menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis.

Pada 1996, Eli memulai penelitian untuk menulis ulang Serat Centhini. Tapi, kesulitan benar-benar dihadapi ibu satu anak tersebut.

Sebab, tidak ada peninggalan fisik dari Serat Centhini. Maklum, begitu mahakarya dengan 4.200 halaman itu selesai ditulis, Pangeran Anom Hamengkunegara III menghadiahkannya kepada ratu Belanda.

Perempuan kelahiran Lyon, Prancis, itu kemudian bertemu beberapa orang yang dianggap tahu soal Serat Centhini. Eli pun mengunjungi Makam Sunan Giri di Gresik. Bertanya soal sejarah Amongraga. ”Setelah itu, saya menemui Gus Dur, ketua NU (Nahdlatul Ulama) saat itu,” kata Eli.

Dari Gus Dur itulah dia mulai menguak Serat Centhini. Ternyata, di Madura ada beberapa pesantren yang pernah menulis ulang serat yang di sebagian kalangan dijuluki sebagai ”Kamasutra-nya Jawa” itu dengan judul: Pamongrogo dan Pamongroso.

Dari situ pula dia tahu bahwa Mohammad Rasjidi, menteri agama pertama Indonesia, pernah membuat disertasi soal Serat Centhini di Universitas Sorbonne, Prancis. Disertasi itu ditulis dalam bahasa Prancis.

”Saya langsung terbang ke Prancis untuk membaca disertasi itu,” kata anak ketiga di antara lima bersaudara tersebut.

Dia benar-benar beruntung disertasi itu ditulis dalam bahasa Prancis. Meski begitu, dibutuhkan waktu enam tahun bagi Eli untuk menuntaskan pekerjaannya.

Pada 2002, buku berjudul Les Chants de lile a dormer debout le Livre de Centhini itu resmi terbit. Dia mampu meringkas 4.200 halaman menjadi 430 halaman saja. Buku itu sukses dengan torehan penghargaan terbaik pada Prix de La Francophonie 2003.

Buku itu lantas disalin dalam bahasa Indonesia dengan judul Centhini: Kekasih yang Tersembunyi. ”Saya memang dapat penghargaan. Tapi, itu karena karya aslinya sudah memiliki cerita yang luar biasa. Saya hanya menulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami,” katanya merendah.

Bagi Eli, mencari gaya bahasa yang tepat sudah menjadi pekerjaannya. Latar belakangnya penyair sekaligus wartawan.

Pada 1980, Eli diterima sebagai wartawan di majalah Actuale. Majalah yang terbit sebulan sekali dengan mengulas sisi lain kehidupan dunia.

Dia pernah meliput isu apartheid di Afrika Selatan. Kemudian ke Manhattan, Amerika Serikat, tempat orang kulit hitam hanya boleh tinggal di pinggiran kota.

Tugas liputan kemudian membawanya ke Indonesia. Dia mendarat di Jakarta pada Desember  1989. Apa yang akan dia tulis? ”Saya ditugasi menulis tentang Islam versus kebatinan,” ungkapnya.

Mendapat tugas itu, Eli langsung bingung. ”Saya bahkan tidak tahu Indonesia itu apa. Tidak ada peta Indonesia yang terlintas di pikiran saya,” kenang wanita kelahiran 30 Juni 1959 tersebut.

Begitu tiba, Mohammad Rasjidi, menteri agama pertama yang kelak disertasinya dia jadikan referensi, adalah orang pertama yang ditemui Eli. Rasjidi sudah berusia 74 tahun saat itu. ”Beliau (Rasjidi) melakukan banyak penelitian soal kebatinan,” katanya.

Awalnya, dia tidak percaya Islam dan kebatinan. ”Karena dulu saya belajar soal Islam di Mesir. Tapi, setelah mendengar apa yang disampaikan beliau, saya kaget,” katanya.

Dia bingung kenapa budaya bisa dicampur dengan ritual agama. Hal itu kemudian membawanya bertemu dengan Gus Dur. Dari situ, dia mulai mendapat banyak ilmu tentang Islam kejawen. ”Saya kemudian bingung. Saya sedang berada di negara apa ini?” terangnya.

Gus Dur pula yang mendorongnya untuk pergi ke Jogja. ”Katanya, kalau ingin tahu soal kejawen, ya pergi ke Solo atau Jogja saja,” tambah Eli.

Dia diberi waktu dua pekan untuk menulis Islam versus kebatinan. Sampai dia akhirnya menemukan keunikan Islam di Indonesia. ”Saya merasa Islam di Indonesia terbuka sekali. Bisa menyerap kebudayaan lokal,” katanya. Tapi, nenek satu cucu itu juga tahu bahwa tidak semua muslim mau mencampuradukkan agama dengan budaya. ”Pak Rasjidi itu contohnya. Beliau selalu bilang ke saya bahwa ibadah dan budaya tidak boleh dicampur. Semuanya harus jelas,” kenangnya.

Lama di Jogja membuat Eli merasa betah. Begitu tugas liputan selesai, dia memang kembali ke Prancis. Tapi, tak lama berselang, dia kembali ke Jogja.

Sebagai penyair, wanita 61 tahun itu mulai tertarik akan kebudayaan Jawa. Sampai akhirnya dia bertemu dengan mahasiswa Geologi Universitas Gadjah Mada Yoga Dwi Prasetyo yang kemudian menjadi suaminya.

Keduanya menikah pada akhir 1990. Satu tahun berselang, mereka memiliki anak bernama Sarah Diorita. Setelah punya buah hati, Eli mantap menjadi WNI (warga negara Indonesia) pada 1991. Berada di Jogja membuatnya melepas jabatan sebagai wartawan Actuale. Kemudian, Eli memilih menulis buku.

Dia ingat betul cerita dongeng yang pertama ditulisnya setelah melahirkan Sarah. ”Judulnya Beringin Putih. Dongeng itu bercerita tentang warga sekitar gunung yang menolak pohon tua dihancurkan,” katanya.

Ternyata, tiga tahun berselang, Gunung Merapi meletus. Dia kemudian berkunjung dan bertemu sang kuncen, Mbah Marijan. Di situ, Mbah Marijan bercerita ada pohon beringin tua yang berdiri kukuh meski terkena amukan Merapi.

Warga menganggap pohon itu keramat. Tapi, saat itu pemerintah setempat ingin menebang beringin tersebut. Tujuannya, dijadikan lahan parkir. Tapi, kepercayaan warga membuat pemerintah tidak sampai hati menebang beringin keramat di persimpangan jalan Desa Kinahrejo itu.

Mendengar kisah tersebut, Eli langsung teringat akan dongengnya. ”Cerita itu mirip sekali dengan dongeng yang saya tulis,” ujarnya.

Karena dongeng yang dia tulis terjadi, Eli merasa ada keterikatan dengan tanah Jawa. ”Saya merasa dipilih langsung oleh tanah Jawa. Jadi, bukan saya yang memilih hidup di Jawa,” tegas Eli.

Dari situ, Eli menulis ulang dongengnya itu. Kemudian diterbitkan dalam buku yang berjudul Lahirnya Kembali Beringin Putih pada 1998. Dia lantas akrab dengan Mbah Marijan. Mereka sering bertemu dan bertukar cerita. Sampai akhirnya terbit buku selanjutnya dengan judul Babad Ngalor-Ngidul. Buku itu banyak berisi tentang perbincangan dengan Mbah Marijan.

Tinggal di Jogja tak membuat Eli hanya berfokus pada karya Jawa. Buku terbarunya berjudul Mimpi-Mimpi Pulau Emas yang terbit tahun lalu berkisah tentang kehidupan di Desa Muarojambi, Jambi.

Di desa itu, ada peninggalan bangunan yang diduga bekas universitas Buddha terbesar di Asia Tenggara pada abad ketujuh. Eli tidak hanya menulis bagaimana peninggalan itu. Dia bahkan mulai membangun rumah. Kelak diberi nama Rumah Menapo.

Menapo diambil dari bahasa daerah Muarojambi. ”Me artinya tempat. Napo itu adalah kijang atau rusa,” katanya. Rumah itu harus memiliki fondasi tinggi. Sebab, di Muarojambi, jika sungai meluap, bisa berlangsung sampai satu pekan. Selama itulah Rumah Menapo digunakan sebagai perlindungan hewan seperti rusa.

”Nanti Rumah Menapo dipakai menginap siapa pun peneliti atau penulis yang datang ke Muarojambi,” jelas Eli.

Saat ini baru ada satu bungalo yang dibangun Eli. Di sana sudah digunakan warga setempat. ”Nanti kami bangun lagi bungalo lainnya sebelum Rumah Menapo,” terangnya.

Eli kali terakhir datang ke Muarojambi sebelum pandemi Covid-19. Selama pandemi, Eli belum bisa kembali ke Muarojambi. Padahal, dia menjadi salah seorang yang ditunggu kedatangannya.

Selama ada bungalo, aktivitas warga sering dipusatkan di sana. ”Warga Muarojambi itu kreatif semua,” ujarnya. Bahkan, sempat ada sekolah fashion asal Singapura yang mengajak kerja sama warga lokal. Kemudian melakukan pameran di Singapura. Itu membuktikan bahwa warga lokal punya kemampuan desain fashion. Karena itu, Rumah Menapo diharapkan segera terwujud dalam waktu dekat.

Meski tidak memiliki darah Indonesia, Eli sudah jatuh cinta sepenuhnya kepada Nusantara. Dia siap memberikan dedikasi apa pun untuk Indonesia. Terutama budaya dan pengetahuan. ”Saya sudah 30 tahun di sini. Keluarga juga sudah mengizinkan saya menghabiskan waktu di Indonesia,” katanya. (*/c19/ttg/JPG)