Rapat  yang  digelar  di  Kantor  bupati  dengan  pihak  BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan dan  RSUD Merauke   serta dari  RSBP dan RSAL  dan  instansi  terkait  lainnya  yang  dipimpin Sekretaris  Daerah Kabupaten  Merauke  Drs. Daniel  Pauta, Selasa (5/5). ( FOTO: Sulo/Cepos   )

MERAUKE-Karena tidak  didukung  dengan  sarana  dan  prasarana  (Sapras)   serta   sumber daya manusia  (SDM) yang  memadai,  Rumah Sakit Bunda  Pengharapan (RSBP) dan  Rumah Sakit Angkatan  Laut (RSAL) Merauke   kewalahan  dalam menangani  pasien  umum  yang  datang   berobat    kedua  rumah sakit   tersebut. 

   Peningkatan  jumlah pasien  yang  berobat  ke kedua  rumah  sakit   ini,  setelah  pemerintah  daerah mengalihkan  seluruh  perawatan dan  pengobatan  pasien   umum dari RSUD  Merauke  ke kedua  rumah  sakit  tersebut. Sementara,    RSUD Merauke   dikhususkan  ruang  isolasi  untuk menangani  pasien dalam pengawasan  (PDP) maupun    pasien  yang  positif  terpapar  Corona. 

  Tentang  kedua rumah   sakit    yang kewalahan  dalam  menangani  pasien   tersebut,  terungkap  dalam  rapat  yang  digelar  di  Kantor  Bupati  dengan  pihak  BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan dan  RSUD Merauke   serta dari  kedua  rumah  sakit  dan  instansi  terkait  lainnya  yang  dipimpin Sekertaris  Daerah Kabupaten  Merauke  Drs. Daniel  Pauta, Selasa (5/5). 

   Suster  dr. Bertha  dari  RSBP menjelaskan  bahwa  sebelum  Corona, jumlah   pasien yang  berobat   ke  RSBP   setiap harinya  hanya puluhan  orang  saja, namun  sejak   pemerintah   menutup   RSUD  Merauke  untuk   pelayanan  umum,   maka  jumlah  pasien  yang  datang  berobat   membengkak. Sementara   kapasitas   tempat tidur   yang ada hanya  80 bed.  

   “Dengan  sarana  prasarana dan SDM yang  kurang  memadai, kami  betul -betul    kewalahan.   Apalagi  sejumlah  sarana  prasarana  kesehatan    yang masih  terbatas,’’  kata  suster  Bertha.     

Karena   sarana   prasarana  yang terbatas   ini,  jelas  dia membuat   sebagian  masyarakat  mengeluh.  Dalam rapat tersebut, keluhan  yang sama disampaikan perwakilan  dari RSAL. 

   “Kami   mengalami permasalahan  yang sama  dengan  RSBP,’’ kata    perwakilan dari RSAL.   Kedua  rumah  sakit   tersebut saat ini  masih   berstatus tipe  D  sehingga  dari sisi SDM dan  sarana  prasarana   kesehatan   masih    terbatas. Yang jadi  persoalan  adalah   bahwa   BPJS  Kesehatan  membayar  pasien  peserta  BPJS ke kedua  rumah sakit  tersebut  sesuai   dengan   tipe  rumah   sakit  tersebut. 

   Sementara  jika  ada   pasien  yang  perlu  pemeriksaan   lebih  lanjut  atau  obat  yang  tidak  ditanggung  oleh BPJS  kesehatan   akan menjadi  beban  dari kedua  rumah   sakit   ini. Karena  itu, dalam  rapat    tersebut opsi   pertama   yang disepakati adalah  pemerintah  daerah akan  menyiapkan  dana  hibah  kepada  kedua   rumah  sakit  tersebut  untuk menanggulangi  tambahan  biaya tersebut, sehingga   peserta   BPJS kesehatan iurannya dibayarkan  pemerintah.     “Yang  kita sepakati  ini akan   kami  sampaikan  kepada  pimpinan,    karena  kita  bukan  pengambil keputusan,” tandas  Sekda  Daniel   Pauta.  (ulo/tri)