Melihat Cara Pembuatan Gerabah atauSempe di Kampung Abar, Distrik Ebungfau Kabupaten Jayapura (Bagian-1)

Kampung Abar yang berada di wilayah Sentani tengah Distrik Ebungfau Kabupaten Jayapura merupakan salah satu kampung penghasil gerabah terbaik di Indonesia. Seperti apa saja pembuatan gerabah yang dilakukan selama ini oleh masyarakat di Kampung Abar?

Laporan: Roberthus Yewen, Sentani

SABTU (10/10) sekitar pukul 10.30 Wit, tim dari Balai Arkeologi Papua bersama dengan beberapa dosen dan mahasiswa dari Institut Kesenian dan Budaya (ISBI) Papua bersama wartawan Cenderawasih Pos dan seorang mahasiswa Jurusan Sosiologi Program Studi Kesejahteraan Sosial Universitas Cenderawasih bertolak menggunakan perahu motor dari Dermaga Yahim ke Kampung Abar, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.

Perahu motor yang ditumpangi ini dibawa oleh Kepala Suku Kampung Abar, Naftali Felle yang juga sebenarnya sudah dihubungi sebelumnya untuk mengantarkan rombongan menuju ke Kampung Abar.

Naftali Felle terlihat mulai membunyikan mesin 40 PK yang berada di belakang perahu motor. Setelah beberapa kali menarik tali mesin, akhirnya perahu motor tumpangi mulai bertolak dari pinggir Dermaga Yahim menuju ke Kampung Abar.

Dalam perjalanan menyusuri Danau Sentani, rombongan harus melewati beberapa kampung yang berada di wilayah Sentani Tengah. Seperti Kampung Hobong, Putali, Ifale, Ifar Besar, Yoboi dan beberapa kampung lainnya. Jika dihitung kurang lebih ada 10 kampung yang berada di Distrik Sentani Tengah.

Secara keseluruhan, mulai dari wilayah Sentani Timur, Sentani Tengah, dan Sentani Barat ada 23 kampung yang berada di pesisir Danau Sentani.

“Sejak SMA sebelum menjadi pegawai, saya biasanya menarik perahu motor untuk mengantarkan warga dari Kampung Abar ke Dermaga Yahim dan begitupun sebaliknya,” kata Naftali Felle ketika berbincang-bincang dengan Cenderawasih Pos sambil tangannya tetap memegang mesin motor untuk mengantarkan rombongan menuju ke Kampung Abar Distrik Sentani kabupaten Jayapura, Sabtu (10/10).

Setelah kurang lebih 20 menit menempuh perjalanan akhirnya perahu yang ditumpangi rombongan tiba di Dermaga Kampung Abar. Rombongan satu per satu mulai turun dari perahu motor ke dermaga.

Rombongan kemudian beristirahat sejenak di dermaga sembari memotret perahu yang di dayung oleh salah satu ibu bersama tiga orang anaknya ketika melintas di pinggiran Dermaga Abar.

Tak lama kemudian, Naftali Felle yang juga merupakan Ketua Kelompok Pengrajin Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampng Abar mempersilakan rombongan untuk melihat pembuatan gerabah yang dibuat oleh ibu-ibu di Kampung Abar.

Gerabah  dalam bahasa Sentani disebut “helai”  yang dilakukan oleh para mama-mama di Kampung Abar merupakan bagian dari tradisi atau budaya turun temurun sampai hari ini.

Tak heran jika dilihat hampir sebagian besar mama-mama di Kampung Abar terlihat sangat mahir membuat geramba dengan berbagai bentuk. Mulai dari gerabah untuk memutar papeda dari ukuran yang paling kecil sampai yang paling besar.

Selain itu, tempat cetakan sagu (forna), gerabah untuk masak ikan, gerabah untuk simpan sagu (hele) dan gerabah dalam bentuk lainnya yang dibuat sesuai dengan keinginan para pemesan.

Di depan teras Rumah Gerabah terlihat mama Mince Doyapo sedang membuat gerabah berbentuk besar. Di sekelilingnya terdapat beberapa gerabah berukuran sedang yang sudah selesai dibuat.

Tangan Mama Mince memegang plastik sembari menghaluskan gerabah yang terlihat sebagian besar sudah selesai. Tak hanya itu, Mama Mince juga terlihat membilas tangannya di air sembari merapikan gerabah yang dibuatnya tersebut.

Mama Mince termasuk warga Kampung Abar yang sangat mahir membuat gerabah. Mama Mince mengungkapkan bahwa pembuatan gerabah ini bisa dilakukan hanya sehari. Setelah itu, gerabah yang sudah jadi akan dikeringkan selama 1 minggu. Jika cuaca hujan, maka bisa dilakukan pengeringan selama 2 minggu.

“Tiga gerabah sedang dan 1 gerabah besar ini baru tadi (kemarin-red) saya buat dalam sehari,” katanya sambil menghaluskan gerabah yang dibuatnya tersebut.

Mama Mince mengatakan, dirinya membuat gerabah ini sudah sejak masih muda. Sehingga tak heran jika dalam sehari mama Mince bisa membuat 5-10 gerabah dalam bentuk yang berbeda-beda, mulai dari yang kecil sampai yang paling besar.

Harga gerabah yang dijual juga bervariasi. Untuk satu gerabah kecil, dijual dengan harga Rp 100 ribu. Sementara gerabah yang sedang dijual dengan harga Rp 200 ribu  dan untuk gerabah yang besar dijual dengan harga Rp 300 – Rp 500 ribu.

Hasil dari penjualan gerabah ini, kata istri kepala Kampung Abar ini untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari di dalam keluarga. Bahkan bisa untuk membiayai kebutuhan pendidikan anak-anaknya di Kampung Abar.

Dalam sebulan Mama Mince mengaku bisa mendapatkan uang Rp 1 hingga Rp 2 juta. Uang tersebut hasil penjualan gerabah yang dilakukan di Kampung Abar. “Dari usaha gerabah ini kami bisa menghidupi kebutuhan ekonomi keluarga dan bisa membiayai pendidikan anak-anak kami di Kampung Abar,” ucapnya.

Selain Mama Mince, ada juga Mama Barbalina Ekbalkoi yang juga ahli membuat gerabah. Ketika rombongan berkunjung ke rumah Mama Barbalina yang berada di pinggir Danau Sentani, terlihat mama Barbalina sedang membuat gerabah kecil menggunakan bahan-bahan tradisional. Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk membuat gerabah ini hanya tanah liat, batu untuk menghaluskan, dan sebuah sendok tradisional yang telah digunakan secara turun temurun.

Mama Barbalina menceritakan bahwa gerabah yang dibuat ini menggunakan bahan dasar dari tanah liat yang diambil tak jauh dari pemukiman warga masyarakat di Kampung Abar. Setelah itu, cara membuat gerabah sendiri dilakukan menggunakan cara-cara tradisional. Seperti, menggunakan tangan, batu untuk menghaluskan, dan sendok yang terbuat dari kayu besi.

Setelah gerabah sudah selesai, maka akan dibuat motif berbentuk melingkar di gerabah yang buat tersebut. Adapun motif yang dibuat, yaitu berbentuk seperti ban (yolu) dan berbentuk seperti ular (hambu walewale). Dua motif ini dibuat secara melingkar di gerabah. Kedua motif ini memiliki nilai filosofi tersendiri bagi masyarakat di Kampung Abar.

Tidak hanya itu, Mama Barbarina juga mengembangkan pembuatan gerabah menggunakan motif Megalitik Tutari yang dibuat di samping gerabah. Adapun motif Tutari yang dibuat bermacam-macam. Mulai  dari ikan, kura-kura, manusia, dan motif lainnya yang terdapat di Tutari. Pengembangan motif ini di gerabah sebenarnya merupakan bagian dari mengembangkan ekonomi kreatif di Kampung Abar.

“Kalau buat gerabah ini hanya sehari saja. Setelah itu, kita keringkan kalau menggunakan api hanya kurang lebih 2 sampai 3 hari. Setelah itu, gerabah yang sudah jadi bisa digunakan untuk masak,” ungkap istri dari Yustus Liboye ini.

Dari gerabah yang dibuat ternyata ada yang belum dilakukan pengeringan. Oleh karena itu, Mama Barbarina kemudian mengambil pelepah daun kelapa yang berada di luar rumahnya sambil menaruhnya di depan tungku api yang telah tersedia. Setelah itu, Mama Barbarina kemudian mengambil korek api dan mulai membakar api di tungku.

Beberapa menit kemudian api membakar pelepah kelapa, hingga Mama Barbarina mengambil gerabah yang sudah jadi kemudian menaruhnya di atas batu. Setelah itu pelepah yang telah terbakar itu diambil untuk ditaruh di setiap sudut dari gerabah hingga menutupi semuanya.

Hal yang dilakukan Mama Barbarina ini merupakan pelajaran yang diberikan kepada rombongan mengenai proses dan cara pengeringan gerabah menggunakan tungku api yang dilakukan selama ini oleh masyarakat di Kampung Abar.

Gerabah yang dibuat oleh mama Barbarina ini kebanyakan telah dipesan sebelumnya oleh para pemesan, sehingga gerabah yang dibuat sesuai dengan jumlah yang memesannya tersebut.

Kepala Suku Kampung Abar, Naftali Felle menjelaskan bahwa bahan dasar gerabah ini adalah tanah liat yang berada di Kampung Abar. Pembuatan gerabah ini sendiri merupakan bagian dari budaya orang Abar dari sejak nenek moyang sampai saat ini terus dilestarikan. Apalagi gerabah ini dianggap sebagai salah satu alat yang digunakan masyarakat di Kampung Abar untuk barter maskawin bagi 23 kampung yang ada di pesisir Danau Sentani, mulai dari Sentani Timur sampai Sentani Barat.

Dari 23 kampung yang ada di pesisir Danau Sentani, hanya Kampung Abar yang memiliki kualitas tanah liat terbaik untuk membuat gerabah di Kabupaten Jayapura. Tak heran jika Kampung Abar telah dicanangkan sebagai salah satu kampung pariwisata ekonomi kreatif oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

“Gerabah ini sudah dibuat oleh 13 generasi kami sampai sekarang di Kampung Abar,” jelasnya.

Pembuatan gerabah ini sebelumnya dilakukan oleh para kaum laki-laki selam 7 generasi sebelumnya. Setelah itu, selanjutnya dikerjakan oleh para kaum perempuan atau wanita sampai sekarang. Meskipun demikian, para kaum laki-laki bisa membuat gerabah ini bersama para kaum wanita di Kampung Abar.

Tanah liat yang digunakan untuk membuat gerabah ini bermacam-macam warnanya, mulai dari warna merah, kuning, coklat, hitam, dan putih keuning-kuningan. Dari tanah liat ini yang memiliki kualitas terbaik adalah tanah liat dengan warna hitam.

Tanah liat warna hitam ini tidak ada kerikil, berbeda dengan tanah liat warna lainnya yang ada kerikil di dalamnya. Oleh karena itu, proses pertama yang harus dilakukan ketika bahan baku sudah diambil adalah melakukan pemisahan terhadap kerikil-kerikil yang ditemukan di dalam tanah liat tersebut. Sebab kalau masih ada kerikil di dalam, maka ketika nanti dalam proses pembakaran bisa menyebabkan gerabah pecah dan kemungkinan besar tidak bisa digunakan.

“Meskipun warna tanah liatnya berbeda-beda, tetapi ketika gerabahnya dikeringkan, maka warnanya akan tetap merah,” ujar Naftali Felle yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai di Dinas Kesehatan Provinsi Papua ini. (bersambung)