dr Felly Sahureka (FOTO: Denny/ Cepos )

WAMENA- Direktur Rumah Sakit Umum Daerah(RSUD) Wamena dr Felly Sahureka  mengungkapkanb ahwa pelayanan rapid test dapat mela bagi warga yang ingin mengurus surat jalan itu mencapai 100 sampai 120 setiap hari sejak Pandemi Covid-19 Masuk Ke Jayawijaya. Bahkan, sebagian masyarakat banyak yang tak mengerti dengan pelayanan itu, sehingga seakan memaksa petugas melakukan pelayanan tanpa membatasi waktu.

  Diakui, petugasnya memang kewalahan menyikapi masyarakat tidak mengerti batas pelayanan ini, padahal jumlah petugas  terbatas untuk memerksa pasien di bangsal dan polik yang juga harus diutamakan.

   “Kami harus periksa pasien yang berobat dan kami juga harus memeriksa masyarakat yang ingin berangkat dan pengurusan lain-lain ini setiap hari itu dari 100 sampai dengan 120 orang belum lagi pasien setiap kali masuk dalam perawatan itu wajib untuk diperiksa covidnya melalui rapid test,”ungkapnya Rabu (30/9) kemarin

   Kata dr.Felly, kalau dikalkulasikan dalam sehari bisa melakukan pemeriksaan hingga 170 orang untuk pemeriksaan Covid -19 Di RSUD Wamena untuk Rapid Test. Belum lagi untuk pemeriksaan sampel swab kepada warga yang hasil rapidnya reaktif sehingga juga butuh ketersediaan alat.

  “Untuk saat ini kita terus melakukan koordinasi dengan logistik Dinas Kesehatan dan Pemda, karena dari Pemda yang menyediakan alat rapid test, serta peralatan swab untuk pemeriksaan PCM.”katanya.

   Ia menyatakan biasanya RSUD Wamena akan melakukan koordinasi untuk logistik rapid dan swab yang, sehingga dengan cepat bisa dipenuhi oleh pemerintah daerah dan pelayanan pemeriksaan  bisa berjalan. Pihaknya juga membutuhkan pengertian masyarakat bukan berarti kalau peralatan kurang bukan tidak ada.

  “Pasti akan dicukupkan dalam arti pasti ada ketersediaan tetapi kan mungkin pengirimannya yang lambat dan kita juga sudah berusaha, memenuhi kebutuhan masyarakat untuk rapid test , Swab,”jelas Direktur RSUD Wamena.

   Yang terjadi bisasanya, kata Dr Felly, dalam pelayanan rapid test kalau  yang bersangkutan sudah mengambil nomor antrean 100 misalkan, tetapi karena ada kasus emergency mungkin seperti ada warga lain yang keluarganya meninggal itu itu dilakukan pemeriksaan di luar 100 yang sudah mengambil nomor.

   “Kami bisa terima berapa saja kasus emergency yang harus dilayani tergantung dari pengantar yang dikeluarkan oleh Tim Gugus Covid -19 Jayawijaya,”tutupnya.(jo/tri)