Ronnald Luhulima ( FOTO: Robert Mboik Cepos)

SENTANI-Kepala Seksi Program BPDASHL Memberamo, Ronnald Luhulima   mengatakan, pihaknya memprogramkan penanaman 1,7 juta pohon penghijauan di kawasan penyangga Cyloop. Rehabilitasi kawasan penyangga dan cagar alam Cycloop itu mendapat alokasi dana dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup (LHK) Republik Indonesia sebesar Rp 56 miliar.

“Dari 2019-2022 itu totalnya Rp 56 miliar, tahun 2019 Rp 6 miliar, 2020 senilai Rp 26 miliar, sampai tahun keempat itu totalnya Rp 56 miliar,” kata Ronnald Luhulima kepada wartawan di Sentani, Senin (16/3).

Dana itu diturunkan bukan dalam bentuk uang cash, tapi dalam bentuk pembibitan, biaya kerja, pemeliharaan dan sejumlah kegiatan lainya yang berhubungan dengan pemulihan kawasan cagar alam Cycloop. “Jadi masyarakat bekerja kemudian dibayar oleh pihak ketiga,” jelasnya.

Lanjut dia, rehabilitasi  kawasan cagar alam Cycloop seluas 1500 hektar untuk tahun ini dengan rincian 1010 hektar di Kabupaten Jayapura  dan 490 hektar di Kota Jayapura. Ini juga bagian dari komitmen Pemerintah Pusat dalam rangka mitigasi bencana, di mana kawasan yang telah rusak akibat bencana alam itu akan dipulihkan kembali dengan ditanami  pohon-pohon jenis lokal.

“Jenis pohon yang akan ditanam di kawasan penyangga dan cagar alam Cycloop terdiri dari 23 jenis pohon endemik khas pegunungan Cycloop. Pohon-pohon  tersebut disiapkan oleh masyarakat adat sendiri,” ujarnya.

Dia mengatakan, butuh waktu selama empat tahun terkait pemulihan kawasan cagar alam Cycloop pasca bencana banjir bandang itu. Program rehabilitasi  itu sudah mulai dijalankan sejak 2019, di mana saat itu dilakukan penyiapan pembibitan pohon oleh masyarakat adat.  Kemudian pada 2020 ini juga akan ditanam oleh masyarakat adat dari Sentani sampai di Bayangkara, APO, Klofkam, Buper, Doyo Baru, Kemiri, Sere, Kampung Harapan. Penanaman ini akan dilakukan  semuanya oleh masyarakat adat lokal dan tidak boleh dilakukan oleh masyarakat dari luar. Ini merupakan bagian dari pemberdayaan terhadap ekonomi masyarakat.

“Karena ini pihak ketiga, dilaksanakan oleh anak adat Sentani. Semuanya diberikan kepada putra asli daerah untuk merehabilitasi Cycloop ini,” katanya.

Menurutnya, rehabilitasi penanaman pohon di kawasan penyangga dan cagar alam Cycloop itu dilakukan selama 4 tahun. Di mana Tahun 2019 penyiapan bibit dan itu sudah dilaksanakan kemudian, Tahun 2020 ini mulai penanaman kemudian 2021 dan 2022 pemeliharaan. Program itu menelan anggaran biaya sebanyak Rp 56 miliar yang bersumber dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Pihaknya optimis, kegiatan pemulihan terhadap kawasan penyangga dan cagar alam pegunungan Cycloopitu akan berhasil jika tidak ada aktivitas berlebihan yang dilakukan oleh masyarakat, misalnya pembalakan liar dan melakukan aksi pembakaran terhadap kawasan penyangga dan cagar alam Cycloop itu.

“Kami optimis Cycloop ini akan berhasil hanya saja satu syaratnya, jangan dibakar dan jangan terbakar,” tambahnya.

Untuk itu, dia berharap kepada seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Jayapura dan sekitarnya supaya mendukung penuh program pemerintah. Salah satunya dengan tidak membakar atau merusak kawasan penyangga dan cagar alam hutan Cycloop. (roy/tho)