*TNI dan OPM Diminta Hentikan Kontak Tembak!

JAYAPURA- Kontak senjata antara TNI dan OPM di Kabupaten Intan Jaya sejak beberapa bulan terakhir, berimbas pada ratusan warga di Distrik Sugapa dikabarkan mengungsi ke Kabupaten Nabire.

Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Intan Jaya, Martinus Maisini mengatakan, pengungsian terjadi di dua kampung yakni kampung Ndugusiga dan Eknemba. Pengungsian terjadi sejak 24 Januari hingga saat ini.

“Ratusan warga di dua kampung tersebut mengungsi ketika terjadi penembakan terhadap dua anggota TNI yang dilakukan oleh OPM. Sehingga TNI melakukan penyisiran hingga ke pemukiman warga,” ucap Martinus saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya, Kamis (4/2).

Menurut Martinus, pengungsian bukan kali pertama dilakukan warga Intan Jaya. Sebelumnya warga yang ada di Distrik Agisiga dan Hitadipa terlebih dahulu sudah mengungsi sejak tahun 2020 lalu. “Warga Agisiga dan Hitadipa mengungsi pasca penembakan terhadap Pdt Jeremia Zanambani pada September tahun 2020,” terangnya.

 Terkait pengungsian yang terjadi di beberapa Distrik di Intan Jaya tersebut, Martinus meminta tim dari provinsi, pihak keamanan dan tim indenpenden untuk turun ke lokasi untuk mengeck langsung sehingga tidak membantah adanya pengungsian dan harus mengakui agar publik mengetahuinya.

Dikatakan, masyarakat yang ada di Intan Jaya dalam posisi dilematis. Dalam artian OPM dan TNI kerap datang mengancam masyarakat sipil. OPM mengancam masyarakat lantaran tidak diberi makan. Sementara TNI mengancam masyarakat dengan alasan memberi makanan kepada OPM.“Masyarakat ada di posisi dilematis dan merasa terancam. Termasuk kita pejabat juga diancam sehingga aktivitas pemerintahan di Intan Jaya tidak berjalan,” jelasnya.

 Dirinya meminta anggota TNI dan OPM menghentikan kontak tembak di Intan Jaya. Negara menurutnya  harus punya hitungan dan terbuka, apakah kontak senjata di Intan Jaya semata mata untuk kepentingan tambang blog wabu atau misi negara lainnya.

Sebab lanjut Martinus, Intan Jaya beberapa tahun lalu merupakan daerah yang aman dan kondusif. Anggota TNI organik yang ada di Intan Jaya saling kenal dengan masyarakat bahkan berbaur sehingga tidak ada kekacauan yang terjadi.

 “TNI non organik tidak mengenal kultur budaya orang Papua, sehingga menyamaratakan semua orang Papua adalah OPM. Perlu diketahui, pertikaian dua kubu antara TNI dan OPM berimbas ke masyarakat,” tegasnya.

 Sementara itu Dandim 1705/Paniai, Letkol Inf Beny Wahyudi menyebutkan selama ini antara TNI dan warga yang ada di Intan Jaya hidup berdampingan tanpa adanya masalah apapun.

 “Kita (TNI-red) ada di Intan Jaya sudah  bertahun dan biasa biasa biasa saja, warga tetap beraktivitas seperti biasa. Yang membuat masalah justru KSB datang membawa senjata yang sebenarnya dia tidak berhak membawa senjata,” tegasnya.

Dikatakan, yang menganggu keamanan dan kenyamanan di Intan Jaya justru KSB bukan TNI. Sebagaimana dengan kehadiran TNI masyarakat menjadi nyaman. “Kami hadir bertahun-tahun di Intan Jaya masyarakat tidak apa-apa, kalau tidak ada KSB kita juga tidak menembak sembarangan. Mendingan TPN-OPM serahkan senjata lalu kita bangun Intan Jaya bersama-sama,” pintanya.

Untuk situasi di Distrik Sugapa hingga saat ini rawan terkendali, sementara di Distrik Hitadipa masih siaga. (fia/nat)