Anggota Polres Jayawijaya saat mengamankan busur dan anak panah yang merupakan senjata tajam tradisional masyarakat Pegunungan Tegah Papua  pertigaan jalan Kampung Lantipo Distrik Wamena Kota, Senin (24/8) kemarin. ( FOTO: Denny /Cepos )

WAMENA-Ratusan senjata tajam  tradisional berupa panah, parang, kampak disita aparat  kepolisian dan Sub Denpom Wamena dari dua kelompok warga yang bertikai dari Distrik Pelebaga dan Hubikosi dalam razia di Kampung Lantipo Distrik Wamena Kota, Senin (24/8).  

   Kapolres Jayawijaya AKBP. Dominggus Rumaropen menyatakan pihaknya melakukan razia mengantisipasi hal -hal yang tak diinginkan, dimana kemarin ada dua kelompok warga yang datang ke Polres Jayawijaya   saling membawa alat tajam untuk membicarakan denda adat atas kematian Ismael Elopres dan Yairus Elopere dalam insiden kemarin.

   “Sebelum kita mempertemukan kedua belah pihak dari Kampung Wukahilapok dan Kampung Meagama kita lebih dulu melaukan razia di kampung Lantipo sebelum dua kelompok ini masuk ke Kota Wamena,” ungkapnya, Senin (24/8) kemarin.

   Menurutnya, hasil dari razia yang dilakukan jajaran fungsional dari Polres Jayawijaya ratusan senjata tajam berhasil diamankan dari tangan warga yang akan masuk ke Kota Wamena, sehingga alat tajam tersebut langsung diamankan anggota Polres Jayawijaya. Tak hanya itu warga yang menggunakan jalan tersebut juga tak luput dari pemeriksaan.

   “Kita fokus razia alat tajam, karena masalah ini belum selesai, meskipun dua kelompok ini sudah sepakat tak berperang tetapi untuk dialog membahas denda adat ini belum dilakukan, dan  dalam razia itu kami menemukan ratusan alat tajam tradisional yang dibawa oleh dua kelompok yang bertikai,”jelas Rumaropen.

   Ditambahkan bahwa  Polres Jayawijaya , FKUB dan LMA Jayawijaya kembali mempertemukan dua kelompok warga untuk berdialog menentukan denda adat sesuai dengan budaya Jayawijaya yang mempertemukan Kampung Wukahilapok dan Kampung Meagama, dalam pertemuan itu pihaknya tak mau ada sengketa lagi dalam masyarakat sehingga dilakukan razia.

  “Sebelum mempertemukan mereka kami razia , dan namanya masyarakat pasti datang dengan peralatan alat tajam tradisional, namun berkat gabungan fungsi operasional kita bisa mendapatka benda tajam yang cukup banyak dibawah oleh warga,”bebernya.

   Ia juga mengimbau kepada seluruh masyarakat Jayawijaya tanpa terkecuali untuk tidak lagi membawa alat tajam berupa busur, panah, parang dan kampak ke dalam Kota Wamena. Apabila tidak mengindahkan pesan ini, maka akan dilakukan tindakan kepolisian.

   “Kami minta seluruh warga untuk tidak lagi membawa alat tajam masuk ke Kota Wamena apabila ditemukan ada yang membawa alat tajam maka kita akan melakukan tindakan kepolisian, dan alat tajam itu kami akan sita untuk diamankan,”kata Rumaropen. (jo/tri)