MERAUKE- Pemerintah Kabupaten Merauke berniat melakukan lockdown secara lokal  apabila penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak dipatuhi masyarakat. “Ya, kalau PSBB ini tidak dipatuhi masyarakat dan kasus Covid terus meningkat, kemungkinan kita akan terapkan lockdown secara lokal,”  kata Wakil Bupati Merauke Sularso, S.Sos,  disela-sela peninjauan RSUD, Rabu (13/1).

  Wabup  Sularso  menjelaskan bahwa Bupati Merauke melalui surat edaran dengan penerapan PSBB. Dimana kerja ASN diatur untuk mengurangi kerumuman, dimana 25 persen masuk kantor dan 75 persen kerja  dari rumah. Begitu juga tempat-tempat usaha,  tempah hiburan malam dan kegiatan sosial budaya dibatasi.

   “Mudah-mudahan dengan surat edaran pak bupati, masyarakat juga bisa kerja sama untuk bisa melihat karena  ini kepentingan kita bersama bukan kepentingasn siapa-siapa  agar kita semua bisa memutus mata rantai Covid di Kabupaten Merauke. Itu harapan kami. Tapi kalau memang PSBB ini   tidak dijalankan dengan baik dan tingkat kasus Covid semakin terus tinggi maka apa boleh buat kita locdown saja nanti,” tandas  Wabup Sularso.

   Menurut Wabup Sularso, bahwa  pihaknya   akan melihat perkembangan dari penerapan PSBB tersebut selama 14 hari kedepan seperti apa pengetatan yang dilakukan tersebut. Namun jika kasus Covid masih terus meningkat, maka pihaknya bisa mengambil langkah lockdown lokal.

   “Jadi  kemungkinan  lockdwon lokal dulu. Kalau tidak bisa baru  kemungkinan lockdown kabupaten,’’ terangnya.

   Ditanya  mungkin pengawasan PSBB yang perlu ditingkatkan, Wabup Sularso  mengatakan bahwa perlu ada kerja sama baik Satgas Covid, semua stakeholder yang ada termasuk TNI dan Polri yang terlibat di dalamnya perlu pengawasan bersama. “Kedua, perlu kesadaran bersama. Tidak hanya pemerintah yang punya keinginan, tapi masyarakat tidak punya kesadaran, maka apa yang tujuan kita tidak mungkin tercapai. Karena memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini, harus ada kesadaran bersama. Pemerintah, masyarakat,” pungkasnya.

   Sementara itu, kasus kematian di Merauke  dalam 1 bulan terakhir ini terus meningkat. Jika   sebelumnya sudah ada 14 orang yang meninggal akibat Covid-19, jumlah  tersebut bertambah menjadi 16 orang. Ini setelah Rabu (13/1) kemarin, tercatat 2 pasien Covid meninggal dunia.   

   Juru Bicara  Tim Satgas Covid-19 Kabupaten Merauke  yang juga Plt. Kepala Dinas Kesehatan dr. Neville R. Muskita  dikonfirmasi terkait tambahan 2 orang yang meninggal karena Covid tersebut menjelaskan bahwa untuk kasus meninggal pertama adalah seorang laki-laki berumur 57 tahun merupakan rujukan dari Rumah Sakit Bunda Pengharapan (RSBP)  pada tanggal 9 Januari dengan keluhan  sesak napas dan saturasi O2 menurun. Kemudian langsung diperiksa TCM dan hasilnya terkonfirmasi positif Covid-19 dan dirawat di ICU RSUD Merauke.

  “Tapi karena hasil pemeriksaan laboratorium  ada gangguan fungsi ginjal maka pasien di Haemodialisa  atau cuci darah. Namun kondisi pasien terus memburuk dan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 12 Januari sekitar pukul 24.00 WIT,” katanya.

  Selanjutnya kasus meninggal kedua adalah seorang wanita berumur 87 tahun  merupakan rujukan dari RSBP pada tanggal 13 Januari 2021 sekitar  pukul 00.30 wit dengan sesak napas dan kesadaran menurun dengan hasil rapid test reaktif. ‘’Ada riwayat demam dan batuk sebelumnya sehingga langsung diperiksa TCM hasilnya terkonfirmasi positif Covid-19. Keadaan umum terus memburuk dan akhirnya pasien meninggal dunia pada hari ini Rabu (13/1) sekitar pukul 13.42 WIT,’’ terangnya.

   Selain 2 orang meninggal, juga dilaporkan penambahan kasus  terkonfirmasi Covid-19  sebanyak 17 kasus, yang sebelumnya berjumlah 418  kasus kumulatif menjadi 435 kasus. Meski ada   tambahan, namun ada juga yang sembuh sebanyak 7 orang, sehingga jumlah yang  sembuh secara kumulatif sebelumnya 303 menjadi orang  310 orang. Dengan begitu, jumlah yang dirawat  yang sehari sebelumnya berjumlah 101 menjadi 109 orang.  (ulo/tri)