Paguyuban Sukoharjo Makmur mengikuti karnaval budaya yang dimulai dari PTC dan finish di Lapangan Trisila Entrop Kamis (5/3) kemarin.  FOTO: Gamel/Cepos )

JAYAPURA – Pesatnya pembangunan di Kota Jayapura dengan berbagai dinamika yang muncul terus mewarnai laju perkembangan daerah. Bukan mudah mengurus kota yang memiliki lima distrik ini mengingat Jayapura menjadi wajah bagi Papua. Seluruh suku bangsa berbondong-bondong untuk bisa tinggal dan hidup di kota ini dan menurut Wali Kota Jayapura, DR Benhur Tomi Mano MM dalam kepemimpinannya PR besar yang dipikirkan adalah bagaimana menjaga keberagaman tersebut.

 “Yang paling berat adalah saya ingin menyatukan semua masyarakat di Jayapura baik yang Papua maupun masyarakat nusantara. Yang datang bekerja dan mengabdi. Saya ingin tunjukkan kita adalah bangsa Indonesia, bangsa yang besar dan tidak ada perbedaan baik itu Papua maupun non Papua,” kata Tomi Mano disela-sela acara pawai budaya port numbay di Lapangan Trisila, Jayapura, Kamis (5/3) kemarin. Ia menyatakan bahwa pembangunan dan keberagaman yang ada di Jayapura patut dijaga, patut  dirawat dan semua dalam bingkai NKRI.

 “Saya ingin semua bersatu membangun Indonesia dari Jayapura atau Papua. Kita harus bisa menerima dari suku, agama maupun ras dan ini modal dasar membangun Papua dan Jayapura sebagai rumah besar, sebagai istana dan honai bersama. Kalau sudah bersatu saya pikir mudah membangun daerah,” bebernya. Namun dirinya juga ingin dari pesatnya pembangunan jangan sampai masyarakat justru melupakan akar budaya. 

 Budaya merupakan jati diri dan tak boleh tercerabut dari akarnya sebab jika itu terjadi maka kita akan kehilangan jati diri. Kita tidak akan tahu siapa kita. “Ini juga yang menjadi harapan saya, daerah boleh berkembang tapi jangan sampai adat istiadat dan budaya itu dilupakan. Ini bagian dari upaya mengingatkan kembali jati diri tadi,” imbuhnya. Puncak acara HUT Kota sendiri akan digelar pada 7 Maret dan semua paguyuban diminta menghidangkan makanan khas daerah masing-masing. (ade/wen)