Sejumlah warga terlihat nongkrong di depan salah satu rumah dekat rumah dinas Bupati Intan Jaya untuk menyambut kedatangan bupati di Sugapa ibukota Kabupaten Intan Jaya, 6 Maret 2020 lalu. ( FOTO: Priyadi/Cepos)

JAYAPUR-Konflik yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya disinyalir tidak terlepas dari potensi sumber daya alam di daerah tersebut. 

Ketua Tim Kemanusiaan Untuk Intan Jaya Papua, Haris Azhar menyebutkan, daerah Intan Jaya memiliki potensi sumber daya alam yang cukup melimpah yang diatasnya ditinggali oleh masyarakat pemilik hak ulayat yang saat ini terjadi konflik bersenjata.

Haris Azhar menyebutkan sumber daya alam yang sangat potensial terutama kandungan mineral emas. “Dalam lokasi tersebut berada Kampung Yuparu, Sambili, Mamba, Yokatapa, Wandoga, Bilogai, Kumbalagupa, Unimba, Gamagai, Bioundoga dan Mindo. Semuanya berada di distrik Sugapa dan Igimba,” ungkap Haris Azhar saat konferensi pers Temuan dan Rekomendasi Tim Kemanusiaan Provinsi Papua untuk Kasus Kekerasan Terhadap Tokoh Agama di Kabupaten Intan Jaya, di Hotel  Horison Kota Jayapura, Kamis, (29/10).

Pendiri Kantor Hukum dan HAM Lokataru Foundation itu juga mengatakan bahkan potensi emas tersebut sudah pernah dieksplorasi oleh Freeport Indonesia sejak 1990 yang dimana menyimpan kandungan emas yang cukup melimpah.

“Hampir semua lokasi di atas pernah dilakukan eksplorasi tambang Freeport Indonesia sejak 1990 sampai dengan 2015. Lokasi tambang tersebut tidak lanjut dikelola oleh Freeport Indonesia,” ujarnya.

Akibat dari potensi sumber daya alam tersebut maka keterkaitannya dengan beberapa peristiwa kejadian pelanggaran HAM di wilayah Intan Jaya bisa dikatakan ada kaitanya.

“Potensi sumber daya alam di daerah ini sangat besar di mana Emas Wabu Pertama kali diidentifikasi pada April 1990 dan berjarak 35 Km garis lurus dari tambang Grasberg. Blok Wabu memiliki sumber daya emas sebesar 8,13 ton,” katanya 

Haris Azhar mengungkapkan terkait potensi sumber daya alam tersebut, ada sekitar 5 investor asing dari Tiongkok yang ingin mengelola tambang tersebut di atas tanah yang dimiliki masyarakat Intan Jaya.

Sementara itu, Sekretaris II Dewan Adat Papua,  John N.R Gobay yang selama ini banyak menulis soal tambang di Papua membenarkan soal potensi tambang yang dimiliki Intan Jaya. Bahkan jika digambarkan bentuk burung cenderawasih, dimana posisi Freeport saat ini berada di bagian bawah perut burung sedangkan Intan Jaya persis berada di bagian perut yang artinya memiliki potensi yang sangat menjanjikan. 

 Yang sudah terlihat selama ini dikatakan bentuknya adalah emas, belum mineral lainnya. “Catatan saya daerah Hitadipa maupun di Agisiga  di sana masyarakat sering mendulang emas secara tradisional dan perbatasan dari Waropen dan Intan Jaya juga ada potensi tambang,” kata John melalui ponselnya tadi malam. 

Dulu kata dia, Freeport sempat eksplorasi di sana. Base   dari PT Freeport ketika itu di Paniai namun lokasi survey atau eksplorasi dilakukan di dua titik tadi. “Tahun 2006 di Paniai memang ada 3 daerah yang dilakukan eksplorasi namun sebelumnya dilakukan di Paniai Barat, di Topo maupun Distrik Agadide termasuk daerah Biandoga atau ular merah hingga masuk ke Intan Jaya,” jelasnya.

 Nah masyarakat setempat sendiri terkadang melakukan pendulangan secara tradisional dari buangan Gunung Mbula di Intan Jaya. Yang jadi tujuan tentu emas namun belum diketahui jenis mineral lainnya.  Namun itu kata Gobay untuk kawasan Intan Jaya ini sejak 2006 sempat berhenti hingga di tahun 2011 ada eksplorasi lagi di daerah Agobaida di Paniai termasuk di Sugapa yang disebut Blok Wabu. Jadi di Paniai dihentikan dan eksplorasi difokus di Gunung Mbula (Blok Wabu) karena memang hasilnya nampaknya menjanjikan. 

 Hanya John melihat jika ukuran kawasan  yang akan digarap seluas 10.000 Ha maka yang dipertanyakan apakah Sugapa Ibukota Intan Jaya harus dipindahkan karena pasti terdampak. “Pikiran saya seperti itu, Sugapa pasti kena,” imbuhnya. Lalu John menyebut bahwa untuk lokasi di Intan Jaya saat ini dikelola oleh Mind Ide, dimana didalamnya ada Freeport, Inalum termasuk PT Antam jadi seperti merger.

 Hanya saja dari upaya eksplorasi tersebut menurut pria yang pernah menulis soal pertambangan rakyat ini sebuah investasi erat kaitannya dengan pengamanan militer dan itu bukan rahasia lagi. 

“Lihat di Timika seperti apa dan investasi lain akhirnya membuat masyarakat tidak nyaman tinggal di kampungnya lalu soal limbah. Intan Jaya tidak seperti hamparan Timika karena gunung – gunung. Mau buang limbah kemana apalagi masyarakat minum dari kali – kali tersebut,” wanti John Gobay. 

Karenanya ia berpendapat bahwa jika ingin mengelola lokasi tambang sebaiknya dalam konsep pertambangan rakyat.  “Kalau dilepas begitu saja tentu masyarakat lagi yang dirugikan, pendapat saja sebaiknya kalau mau dikelola oleh pemerintah maka bentuknya adalah pertambangan rakyat tadi,” pungkasnya. (oel/ade/nat)