JAYAPURA-Ulah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menyerang para pekerja jembatan PT. Papua Cremon hingga tewas di Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo pada Kamis (24/6) menyisakan luka bagi keluarga korban.

Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri menyampaikan, terkait kejadian di Kabupaten Yahukimo pihaknya masih melakukan penanganan dengan baik. “Kita sudah mempersiapkan tim untuk bagaimana melakukan pengamanan khususunya di Tempat Kejadian Perkara (TKP),” ucap Kapolda, kepada Cenderawasih Pos, Selasa (29/6).

Dalam kasus ini Kapolda telah mengirim Dansat Brimob ke Kabupaten Yahukimo untuk bersama Polres Yahukimo mendalami kasusnya. “Saya sudah meminta untuk mendalami semua kemungkinan, termasuk sumber yang membuat selalu menjadi persoalan yaitu tambang emas di daerah tersebut,” terangnya.

Menurut Kapolda, kejadian di Kabupaten Yahukimo berawal dari penganiayan dan pembunuhan terhadap anggota TNI dimana sekelompok orang mengambil senjata dan membuat kelompok baru.

“Itu divideokan dan saya yakin itu oknum KNPB garis keras, lalu video itu viral ke mana mana dan sengaja diekspos. Setelah itu mereka melakukan kekerasan dan pemerasan terhadap  karyawan pekerja jembatan. Mereka menggunakan cara sebagaimana kejadian PT Istaka Karya di Nduga,” bebernya.

Lanjut Kapolda, terkait dengan kejadian di Distrik Seradaka dimungkinkan para pelaku akan melakukan pemerasan. “Mungkin lantaran tidak diberikan akhirnya terjadi pembunuhan. Mereka mencari titik titik yang strategis yang kemungkinan aparat kesulitan untuk melakukan penindakan,” kata Kapolda.

Kendati demikian, Kapolda menegaskan aparat TNI-Polri pantang mundur untuk menyelesaikan persoalan ini. “Kami akan membentuk tim karena belum sempat kita lakukan olah TKP, sehingga bisa tuntas kasus ini dan kita kaitkan apakah ada unsur lain atau murni kriminal,” ucapnya.

Kapolda mengingatkan kepada masyarakat yang ada di titik titik rawan untuk tidak perlu bepergian mencari nafkah di tempat tempat kerja yang rawan, hal ini untuk keselamatan masyarakat itu sendiri. “Jangan takut minta perbantuan pengamanan, karena masyarakat sipil selalu akan menjadi korban kekerasan olah kelompok bersenjata,” tandasnya. (fia/nat)