Daerah-Daerah yang Akrab dengan Minuman Beralkohol (Selesai)

Semua ritual adat di NTT melibatkan sopi, jadi bukan tentang gaya-gayaan, apalagi mabuk-mabukan. Pemprov pun punya produk minuman sendiri yang dibanderol Rp 1 juta per botol.

INDRIA P., Surabaya- KRISTO EMBU, Kupang, Jawa Pos

SUDAH TRADISI: Felix Nesi memasak sopi di kampungnya di Insana, Timor Tengah Utara. Foto kanan, peluncuran Sophia di Kupang tahun lalu.

SOPI memang mengandung alkohol. Tapi, bukan efek memabukkannya yang dicari masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), melainkan dayanya untuk merekatkan manusia satu dan yang lain.
’’(Sopi itu) organik. Bagian dari tradisi dan kearifan lokal. Bagian dari ritual,’’ kata Felix Nesi, sastrawan yang juga pembuat sopi, ketika dihubungi Jawa Pos Senin lalu (30/11).
Maka, sopi pun hadir dalam nongkrong-nongkrong di segenap penjuru NTT. Tidak terkecuali di Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, tempat lelaki 32 tahun itu tinggal. Baik yang melibatkan anak muda maupun orang tua.
Maka, kalau Rancangan Undang-Undang Larangan Minuman Beralkohol yang isunya tengah beredar sampai memuat aturan melarang minuman tradisional seperti sopi, bagi Felix, itu jelas tidak bijaksana. Sebab, di NTT, ritual apa pun baru resmi atau sah kalau ada sopi.
’’Pigi minta maaf saja bawa sopi satu botol,’’ ujar sastrawan yang mengantongi gelar sarjananya dari Universitas Merdeka Malang itu.
Semua ritual adat selalu melibatkan sopi atau moke, minuman tradisional lain yang berpusat di Sikka, salah satu kabupaten di NTT. Mulai yang sifatnya perayaan sampai penghiburan kepada warga yang berduka.
Misalnya, tapoin anah atau ucapan syukur saat anak lahir, hel keta’ atau ritual sebelum pernikahan, dan neka’ lelab atau acara adat sebelum pemakaman.
’’Itu sudah turun-temurun dan harus dipertahankan,” kata Barthol Badar, salah seorang tokoh masyarakat NTT, kepada Timor Express (Grup Cenderawasih Pos).
Tidak hanya di Insana yang memang dikenal sebagai produsen sopi sejak 1965, masyarakat di desa-desa lain bahkan sampai di lereng pegunungan pun punya pemahaman yang sama.
Bahwasanya, sopi adalah tentang ritual. Bukan tentang gaya-gayaan. Apalagi mabuk-mabukan. ’’Tiap kali ada pembicaraan adat, harus ada sopi dan sirih pinang,’’ kata Dicky Senda.
Dalam semua ritual yang berhubungan dengan leluhur pun, wajib ada sopi. ’’Urusan denda adat, harus dudukkan satu botol sopi,’’ imbuh penggiat literasi yang tinggal di Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, itu.
Pada 19 Juni tahun lalu, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat juga telah meluncurkan Sophia. Pemerintah Provinsi NTT menggandeng Universitas Nusa Cendana (Undana) untuk memproduksi minuman tersebut. Juga pengusaha lokal untuk urusan tata niaga. Peluncuran Sophia itu diperkuat pula dengan Peraturan Gubernur Nomor 40 Tahun 2019 tentang Pemurnian dan Tata Kelola Minuman Tradisional Khas NTT.
Harganya tidak tanggung-tanggung. Per botol Sophia ukuran 750 mililiter dipatok Rp 1 juta. ’’Ini minuman berkelas dan harus dijual dengan harga mahal,” kata Viktor dalam sejumlah kesempatan, seperti dikutip Timor Express.
Rektor Undana Prof Fredrik L. Benu menerangkan, pihaknya mengeluarkan dua jenis Sophia, berwarna merah dan putih dengan kadar yang berbeda. ’’Kalau Sophia warna merah itu kadarnya 20 persen. Sedangkan yang warna putih itu kadarnya 40 persen,’’ ungkap Fredrik saat peluncuran Sophia.
Kini, Sophia mulai dijual di NTT, juga ke luar daerah. Namun, minuman lokal seperti moke dan sopi terus diproduksi masyarakat.
Sebab, minuman itu lebih dijangkau masyarakat menengah ke bawah. Dan, digunakan untuk urusan adat yang dilaksanakan setiap tahun.
Tapi, sopi tidak tersedia di desa tempat tinggal Dicky. Untuk memperolehnya, warga Taiftob harus membelinya ke desa lain di dataran rendah. Sebab, pohon lontar yang menjadi bahan utama memang tumbuh di dataran rendah.
Seperti di wilayah lain Indonesia, sopi di NTT pun diproduksi turun-temurun. Cara membuat dan resepnya diturunkan dari generasi ke generasi.
Felix yang menyebut dirinya sebagai sopimaker pun mewarisi resep dari leluhurnya. Itu dia tuliskan pada label sopi buatannya, Tua Kolo. ’’Fine drink from Nesi family recipe,’’ katanya sambil menunjukkan label yang dia maksud.
Lalu, apa yang membedakan sopi satu dan lainnya? ’’Akar-akar dan kulit kayu yang ditambahkan saat memasak sopi,’’ terang Felix.
Bumbu itulah yang menjadi ciri khas sopi produksi rumahan. Aroma dan rasa yang dihasilkan pun berbeda-beda sesuai takaran dan cara memasaknya.
Selain bumbu, menurut Felix, kunci penting lain dalam pembuatan sopi adalah bisa memanjat pohon lontar. Karena itu, dalam novelnya yang berjudul Orang-Orang Oetimu, dia memberikan porsi istimewa kepada Am Siki, sosok pembuat sopi yang jago memanjat pohon lontar.
Berbagai referensi menyebutkan bahwa ketinggian pohon lontar kira-kira 10–30 meter. Tapi, Am Siki bisa memanen bunga lontar (malai) dengan sangat cepat. Dia bisa mengiris malai dari dua belas pohon lontar hanya dalam waktu dua linting tembakau.
Padahal, peristiwa memanen lontar selalu melibatkan aksi panjat pohon. ’’Semua orang boleh memanjat pohon lontar siapa pun,’’ jelas Felix.
Karena itu, tidak harus punya pohon lontar dulu, baru bisa bikin sopi. Membuat nira dari lontar tetangga pun sah saja. Jika ingin ’’punya’’ pohon lontar sendiri, warga tinggal membersihkan pohon yang tumbuh di hutan. Maka, orang lain pun akan mengakui pohon lontar itu sebagai ’’milik’’ yang membersihkan dan memanjatnya.
Bisnis sopi, menurut Felix, juga sangat menguntungkan. Petani tradisional yang hanya punya satu periuk bisa mendapatkan uang sekitar Rp 180.000 per hari dari sopi. ’’Sebulan bisa dapat Rp 5 jutaan,’’ ujarnya.
Itu jumlah yang cukup untuk membiayai sekolah anak dan makan sehari-hari. Felix sendiri mengaku lebih asyik dengan identitas barunya sebagai pembuat sopi sekembalinya dari residensi di Belanda tahun lalu.
Menurut dia, memproduksi sopi rumahan sangatlah mudah. Alat yang dia butuhkan hanyalah periuk tanah alias panaf dan bambu. Pembuatan sopi membutuhkan waktu 2–3 hari. ’’Tapi, bikinnya tiap hari. Hari ini kumpulkan nira, besok masak sopi,’’ terangnya.
Satu panaf menghasilkan satu botol sopi kepala atau tua nakaf dan tujuh botol sopi biasa atau masepo’. Harga jual sopi kepala yang kadar alkoholnya sekitar 45 persen berkisar Rp 50.000. Sedangkan sopi biasa dibanderol Rp 20.000 paling murah. ’’Botolnya seukuran botol bir. Sekitar 620 mililiter,’’ imbuh Felix.
Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2018 itu juga menyebutkan, pemasaran sopi di NTT sangatlah mudah. Tidak semenantang proses memasaknya saat musim hujan.
Orang kota, lanjut dia, juga sering mencari sopi ke desanya. Insana, menurut dia, identik dengan sopi. Khususnya TNI alias Tua Nakaf Insana (sopi kepala Insana). Sampai ke Kota Kupang yang sekitar tujuh jam perjalanan dari desanya pun, menurut Felix, TNI sangat dikenal.
’’Teman minumnya PKI, Pio Kaliman Ikan,’’ ucapnya, lantas menambahkan bahwa Pio Kaliman Ikan artinya bawang, tomat, ikan alias ikan dan sambal.
Felix maupun Dicky menegaskan bahwa kebiasaan minum sopi sama sekali tidak melibatkan pemaksaan. Dan, hanya mereka yang sudah cukup umur yang boleh ikut minum hasil sulingan nira tersebut. ’’Tidak harus minum,’’ kata Dicky tentang tata krama nongkrong bersama sopi di lingkungannya.
Mereka yang tidak mau atau tidak ingin minum sopi pun tetap bisa nongkrong dengan nyaman. ’’Bisa incip sedikit sebagai bentuk penghormatan. Atau, cukup jari tangan menyentuh gelas sopi sebagai bentuk hormat. Tidak perlu minum,’’ terang pentolan Komunitas Lakoat Kujawas tersebut.
Bagi masyarakat bertutur, lanjut Dicky, ritual selalu mengandung hal magis. Dan, sopi kadang menjadi media menuju kemagisan itu. ’’Setelah minum sopi, biasanya tetua adat menjadi lebih lancar kalimat dan bahasanya saat memimpin ritual,’’ ungkapnya.
Karena itu, menurut dia, sebaiknya bukan minuman beralkoholnya yang dilarang. Tapi, memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat agar minum secara bertanggung jawab. Secukupnya saja.
Felix juga mengaku tidak sanggup jika harus membayangkan Insana tanpa sopi. Ada terlalu banyak kenangan yang tercipta bersama cairan berwarna agak kekuningan tersebut sejak dia masih muda belia.
Bukan hanya Felix dan Dicky, sebagian besar masyarakat NTT pun sepertinya merasa demikian. Mereka sudah terlalu terbiasa dengan sopi dan kehangatan yang diciptakannya. (*/c7/ttg/JPG)