Alphius Toam

SENTANI-Banjir yang kerap terjadi di depan SMPN 2 Sentani sampai di jalan depan Batalyon Infanteri (Yonif) Raider 751 masih menjadi ancaman serius bagi warga yang tinggal disekitar kawasan itu, termasuk para pengguna jalan. Kondisi air yang kerap mengalir di jalan utama kota Sentani itu akan muncul setiap kali hujan tiba. 

Kondisi  itu terjadi pasca terjadinya bencana banjir bandang pada 16 Maret 2019 lalu.  

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Jayapura, Alphius Toam mengatakan, persoalan banjir yang kerap melanda jalan depan Yonif Raider 751 hingga di SMPN 2 Sentani itu, karena terletak pada aliran sungai yang ada di belakang kawasan itu.

” Sebenarnya masalahnya bukan di jalan, tetapi permasalahannya ada di sungai,” jelas Alphius Toam saat dikonfirmasi media ini, Senin (5/4).

Sehingga persoalan itu menjadi tanggung jawab dari Balai Wilayah Sungai  (BWS) Papua. Terkait masalah itu, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Jayapura sudah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Papua. Dimana penjelasan dari mereka, tahun lalu sudah menganggarkan dana untuk normalisasi sungai yang ada di bagian atas kawasan itu. Yang mana dari sanalah air itu meluap dan pada akhirnya meluap ke jalan umum.

Rencananya ada dua sungai yang ada di belakang kawasan itu yang akan dialihkan kembali ke sungai besar yang ada disamping kediaman Wakil Bupati Jayapura. Selain itu, aliran air juga akan dinormalisasikan ke sungai yang mengalir di belakang Yonif Raider 751.

“Sungai yang ada di daerah Sosial itu semuanya akan dialihkan ke ke aliran sungai yang ada di belakang Yonif Raider 751,”tandasnya.

Dia mengatakan, pekerjaan tersebut ditunda lantaran BWS Papua juga mendapatkan refocusing anggaran.

Lanjut di, penanganan masalah itu bukan saja dari pihak Balai Wilayah Sungai Papua tetapi juga termasuk dari Dinas PU Provinsi Papua dan PU Kabupaten Jayapura.

“Di Kabupaten itu kita bahas mengenai perencanaan-perencanaan nya,”imbuhnya.

Dia menambahkan, ada tiga sungai yang ada di sekitar kawasan Perumahan Sosial dan sekitarnya yang jebol pasca bencana banjir bandang Maret 2019 selalu. Akibatnya air dari sungai tersebut tidak lagi mengalir sesuai alurnya dan mengalir ke badan jalan.

“Kalau di depan Saga itu, waktu dibangun kantor agama, salurannya dipersempit. Dari Balai Wilayah Jalan juga sudah buat drainase di bagian bawah, tapi mau dikembangkan di situ tidak bisa,”tambahnya. (roy/tho)