Melihat Upaya Pemprov Papua Dalam Mempercepat Percepatan Vaksinasi di Papua

Para wartawan tengah mengikuti program vaksinasi di Kantor Dinkes Provinsi Papua Jumat (12/3) lalu. ( FOTO: YOHANA/CEPOS)

Vaksin Covid-19, memiliki masa pemakaian yang pendek sehingga harus dihabiskan sebelum kadaluwarsa, Dinas Kesehatan provinsi Papua menargetkan sehari suntik 8.614 dosis. Bagaimana pelaksanaan vaksinasi tersebut?

Laporan Yohana

Berbagai upaya dilakukan Pemerintah dalam hal pencegahan dan penanggulangan Virus Covid-19 yang telah berjalan 1 tahun lebih di Papua. Mulai dari pembatasan jam operasional, penerapan protokol kesehatan sampai dengan mendatangan Vaksin Covid-19 di Papua.

 Vaksin Sinovac tersebut baru hadir di Papua sejak awal tahun 2021, diharapkan dapat memberikan kekebalan dalam tubuh manusia agar masyarakat bisa terhindar dari Pandemi Covid-19.

 Kehadiran vaksinasi Covid-19 di Papua juga menuai berbagai tanggapan dari masyarakat, maupun para pemangku kepentingan. baik tanggapan positif maupun negataif ikut mewarnai pengimplementasian vaksinasi Covid-19 di Papua.

Tidak heran dengan berbagai isu dan pendapat terkait vaksinasi tersebut membuat cakupan vaksinasi di Papua masih rendah khususnya pada tahap pertama.

 Namun dengan berbagai tantangan yang dihadapi Pemprov dalam hal ini Dinkes Provinsi Papua terus menggencarkan  sosialisasi vaksin kepada Nakes dan berkembang sampai kepada ASN pelayan publik dan juga masyarakat luas.

 Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Papua, cakupan vaksinasi Covid Provinsi Papua untuk para Fasyankes (Fasilitas Pelayanan Kesehatan) Vaksinasi tahap pertama mecapai 62,35% dari target 19.529 jiwa.

Pencapaian tersebut tidak berhenti sampai disitu, dr. Aaron Rumainum, M.Kes., Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Papua, mengatakan semua tenaga nakes di Kab/kota Provinsi Papua sudah melaksanakan vaksinasi meski dari sisi jumlah nakes belum mencapai target.

 Berdasarkan cakupan vaksinasi dosisi 1 untuk tenaga kesehatan (Nakes) bagi 10 Kabupaten/Kota 10 besar cakupan vaksinasinya yaitu, di Kab. Merauke 160,9%, Biak Numfor 98,7%, Mimika 98,4%, Paniai 90,7%, Asmat 80,3%, Keerom 77,7%, Nabire 73,2%, Kota Jayapura 64,8%, Jayawijaya 53,9%, Boven Digoel 51,7%.

 Tidak hanya berkonsentrasi menerapkan vaksinasi pada tenaga nakes, tetapi juga fokus dilakukan bagi ASN pelayanan publik dan lansia yang mulai dilakukan pada 1 Maret 2021.

“Kami tidak berhenti disitu, mulai dari 1 Maret -31 Juni, kita melakukan vaksinasi pada lansia dan pelayan publik, yang sampai dengan saat ini total dosis vaksinasi yang telah diterima sebanyak 149.660 dosis, yang mana Sinovac (1 vial = 0,5 cc) sebanyak 42.760 dosis, sementara SinovacBio (1 vial = 5cc) sebanyak 106.900 dosis,” jelasnya.

 Ia juga mengakui, meski sebelumnya vaksinasi sempat menjadi kendala di Papua dalam hal cakupan, karena masih banyak kendala yang dihadapi namun sampai dengan pertengahan Maret hingg akhir Maret permintaan vaksin meningkat.

 Bukan hanya tenaga kesehatan saja, pelayan publik, lansia bahkan masyarakat umum banyak yang ingin divaksin, bahkan Dinas Kesehatan sudah tidak lagi fokus pada mereka yang tidak ingin divaksin, melainkan lebih kepada mereka (masyarakat) yang ingin divaksin.

 Ia juga menjelaskan bahwa, kurang lebih 3 hari kedepan vaksin sinovac habis untuk beberapa daerah tertentu seperti Kab. Jayapura, Mimika dan Merauke, tidak hanya ketiga daerah tersebut, untuk Nabire, Paniai, Biak dan Waropen juga dalam waktu 1 minggu lagi vaksin sinovac habis.

 Bagi dirinya, ini sebuah capaian yang sangat luar biasa, bagi Papua, sepanjang sejarah baru kali ini Papua bisa kehabisan vaksin.

 dr. Aaron juga menjelaskan bahwa terkait kehabisan vaksin di Papua, jangan melihat dari  cakupan vaksin, tetapi lihat dari  jumlah vaksin yang diberikan, sebanyak 149.660 dosis yang telah diterima di Papua.

 “Vaksin yang diberikan bertahap sementara batas waktu kedaluwarsa vaksin Sinovac, hanya sampai bulan Agustus, vaksin Sinovac berbeda dengan AstraZeneca, jadi jika vaksinnya habis kami sangat senang, tandanya kita berhasil,” tambahnya.

Untuk menghabiskan vaksin Covid-19 ada beberapa upaya yang dilakukan pihaknya, yaitu penambahan alternatif interval penyuntikan dosis pertama dan kedua 28 hari, vaksin Covid-19 harus digunakan secepatnya karena memiliki masa pakai yang pendek yaitu 6 bulan sejak tanggal produksi.

 Optimalisasi indeks pemakaian vaksin yang tepat dapat menjaga mutu dari vaksin itu sendiri. “Artinya untuk penyuntikan vaksin sendiri harus dilakukan tepat waktu tidak boleh sampai vaksin rusak atau kedaluwarsa baru digunakan secara otomatis akan menggangu sistem kekebalan tubuh manusia, jadi kenapa kami mempercepat penyuntikan vaksin karena vaksinasi sendiri memiliki masa pakai yang pendek,” katanya lagi.

 Bahkan pihaknya mempersiapkan tim vaksinator 383 orang, dengan pembagian hari kerja 6 hari, sisa vaksin dosis 1 dan 2 sebanyak 51.682 dosis, yang ditargetkan sehari bisa menyuntik sekitar 8.614 dosis, hal ini akan mempercepat penyerapan vaksin diseluruh Papua. (*/wen)