Kisah Warga Bantu Warga di Masa Pandemi (1)

Makan siang gratis sangat membantu para buruh gendong perempuan di Jogjakarta yang pada masa PPKM darurat seperti ini hanya mengantongi Rp 15 ribu sehari. Berbagai pihak mengulurkan tangan, termasuk petani sayur yang lahannya tergusur sekalipun.

ILHAM WANCOKO, Jogjakarta, Jawa Pos

DI salah satu sudut Pasar Beringharjo, para buruh gendong perempuan itu meriung. Satu per satu mengambil jatah makan siang gratis yang diantar seorang relawan.

”Piye iki? Sesiang ini baru dapat Rp 2.000,” kata salah seorang buruh tersebut sembari mengunyah makanan. Rekan-rekannya segera menyemangatinya meski perolehan rata-rata mereka juga tak jauh dari itu. Sementara, sang relawan hanya bisa terdiam dan tercekat. Dia tahu sejuta kata penyemangat tetap bakal sulit menepis kegundahan si ibu tadi.

”Kami akhirnya lebih banyak diam. Antar makanan dan langsung pulang. Kalau cerita, tentunya akan banyak kesedihan,” tutur inisiator dan Co-coordinator Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan Jogjakarta M. Berkah Gamulya.

Setelah hampir 10 bulan mendirikan dapur umum itu, Berkah dan para relawan yang membantu hampir setiap hari mendengar kisah-kisah seperti yang dituturkan ibu buruh gendong di pasar di Kota Jogja tadi. Turunnya pendapatan jelas menjadi rasan-rasan paling banyak. ”Semua relawan sudah mengetahui, pendapatan buruh gendong perempuan ini turun drastis sekali,” ujarnya.

Sebelum pagebluk virus korona, seorang buruh gendong bisa membawa pulang setidaknya Rp 50 ribu setiap hari. Begitu memasuki pandemi, pendapatannya menjadi Rp 25 ribu akibat berbagai pembatasan mobilitas. ”Pendapatannya kembali turun Rp 15 ribu per hari dengan adanya PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) darurat,” jelasnya.

Semakin sedikit orang yang berbelanja di pasar. Sementara, jumlah tenaga buruh gendong bisa dibilang tetap. Anjloknya pendapatan sangat berdampak pada aktivitas buruh gendong. Selama pandemi ini, banyak sekali yang memutuskan tidur di emperan toko sekitar Malioboro. Padahal, banyak di antara mereka yang sudah lanjut usia. Penyebabnya jelas mudah ditebak, pendapatan Rp 15 ribu tak lagi cukup untuk biaya pulang ke rumah. Banyak buruh gendong perempuan yang tinggal di Gunungkidul dan Kulon Progo. Untuk menaiki bus saja, mereka harus mengeluarkan uang Rp 14 ribu. ”Akhirnya, mereka menginap beberapa hari sambil mengumpulkan uang,” ungkapnya.

Berbagai cerita pilu itu menegaskan kebenaran pilihan dari para relawan. Untuk memilih membantu buruh gendong perempuan yang termasuk kelompok rentan. ”Sebelumnya, kami relawan salah satu dapur umum dalam Solidaritas Pangan Jogja (SPJ),” jelas Berkah.

Dapur umum SPJ itu berjalan sekitar tujuh bulan sejak awal pandemi. Dalam setiap dapur umum yang bergantung pada donasi, otomatis semua harus siap kehabisan donasi dan tak bisa berkegiatan lagi. ”Nah, setelah SPJ itu, kami kembali bentuk dapur umum,” ujarnya.

Namun, dengan sasaran yang benar-benar akurat dan berdampak besar. Bila mereka membagikan bantuan dengan sembarangan seperti di pinggir jalan, tentu tak semua membutuhkannya. ”Yang tidak membutuhkan bisa dapat. Bahkan, satu orang bisa mendapat dua atau tiga porsi,” katanya.

Karena itu, relawan memilih buruh gendong perempuan. ”Jadi, tiap buruh gendong perempuan bisa merasa aman soal makan siang dan mengurangi pengeluaran mereka,” jelasnya.

Di awal dapur umum ini, para relawan mendapatkan cerita bahwa banyak buruh gendong yang ternyata menunggu sejak subuh. Memang buruh gendong ini terbagi sif, ada yang subuh dan ada yang siang. ”Yang subuh ini seharusnya pulang sekitar jam 10, tapi ternyata tetap menunggu demi mendapatkan makan siang,” ujarnya.

Karena itulah, saat ini dapur umum juga membagikan sarapan kepada buruh yang bekerja subuh. ”Kami tidak tega mereka harus terus menunggu untuk mendapatkan makan,” jelasnya kepada Jawa Pos kemarin (19/7).

Kendati berfokus untuk dapur umum, para relawan tetap tak menutup mata dan telinga. Mereka sempat mendapatkan keluhan tentang toilet pasar yang masih berbayar. ”Buruh gendong itu harus membayar Rp 2.000 tiap ke toilet,” katanya.

Padahal, akibat PPKM, pendapatan mereka sampai pukul 12.00 kerap kali hanya itu tadi, Rp 2.000. Tentu saja, para relawan merasa ada ketidakadilan. Karena itu, para relawan lantas menggunakan semua akses untuk meminta Pemerintah Kota Jogjakarta menggratiskan toilet bagi buruh gendong. ”Akhirnya, sekarang gratis,” ungkapnya.

Dengan mendengar kisah pilu itu, para relawan juga merasakan bahwa buruh gendong sama sekali tak mendapatkan perhatian pemerintah. Salah satunya terkait dengan standar tarif buruh gendong. ”Selama puluhan tahun, tidak ada standarnya,” ujarnya.

Akhirnya, kerap kali buruh gendong itu harus mengangkat beban 25 kilogram demi mendapatkan uang Rp 2.000. ”Jelas sekali, buruh gendong yang turut membantu roda perekonomian berputar ini tidak diperhatikan,” tegasnya.

Hingga saat ini, relawan Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan Jogja telah membantu buruh gendong di empat pasar. Yakni, Beringharjo, Giwangan, Gamping, dan Kranggan. Jumlah buruh gendong perempuan yang dibantu makan siang mencapai 218 orang. Jumlah itu bisa berkurang dan bertambah setiap hari.

Bukan hanya itu, dapur umum ini juga telah berkembang membantu tenaga medis di RSUP dr Sardjito. Ada 100 porsi makan siang yang dibagikan setiap hari di rumah sakit tersebut. ”Lalu, ada juga aktivis yang sedang isoman dengan jumlah 25 porsi per hari,” ujarnya.

Donatur dapur umum itu begitu beragam, dari Jogjakarta hingga seluruh Indonesia. Dari individu hingga kelompok. Bahkan, petani lahan pantai di Kulon Progo yang tergusur ikut membantu memberikan bahan baku sayuran.

Sayangnya, selama 10 bulan ini, tak ada seorang pun perwakilan pemerintahan yang membantu. Halo, bapak-bapak pejabat, Anda sehat? (*/c14/ttg/JPG)