Ngobrol Bareng Yudas Alep Itlay, Pemeran Utama Film Zerre Pendekar Ufuk Timur 

Tak pernah disangka jika dari hasil coba – coba casting akhirnya bisa lolos dan diterima bahkan terpilih menjadi pemeran utama sebuah film layar lebar. Yudas Alep Itlay menceritakan kisahnya menjadi actor film Zerre Pendekar Ufuk Timur

Laporan : Abdel Gamel Naser 

Tak ada yang menyangka jika perjalanan  selama kuliah di Jakarta yang seharusnya menjadi abdi negara layaknya siswa IPDN justru berbelok arah menjadi seorang actor film layar lebar yang akan dilakoni oleh Yudas Alep Itlay. Pemuda kelahiran Wamena ini justru ditawari menjadi pemeran utama dari sebuah film berjudul Zerre, Pendekar Ufuk Timur. Alhasil niat untuk pulang kampung seusai kuliah akhirnya tertunda karena harus melanjutkan casting. 

 Cenderawasih Pos sempat diajak nongkrong saat dilakukan meet and greet yang dilakukan di Pantai Hamadi dan disini seluruh pemain dikumpulkan dan menyapa para penggemar. Film yang disutradarai oleh R Jiwo Kusumo ini bertujuan membangkitkan semangat generasi muda, berpartisipasi mensukseskan PON dan film ini mengangkat olahraga pencak silat Papua dimana selama ini belum setenar Sepakbola. Pengambilan gambar juga dilakukan dilima kota, yaitu Kota Jayapura, Merauke, Timika, Wamena dan Biak. Produser sekaligus wanita yang berperan sebagai Yosefa atau kakaknya Drio, Ditha Widya Nova menjelaskan bahwa produksi film ini dimulai sejak Februari 2021 hingga Mei 2021 namun serangkaian produksi dimulai sejak Agustus tahun 2020. 

Film Zerre Pendekar Ufuk Timur ini menceritakan perjuangan pemuda Papua dalam meraih mimpi  dalam PON. Pemuda Papua yang ingin menjadi kebanggaan orangtuanya dan mengharumkan tempat kelahirannya. Zerre atau Yudas Alep Itlay diceritakan memiliki talenta beladiri silat dan untuk bisa lolos ke PON ternyata tidak mudah. Ia harus berhadapan dengan sindikat kejahatan human trafficking dan narkoba. Film ini disutradarai oleh Sad Purnadi dan film Zerre  disebut menarik karena memadukan unsur drama, aksi dan sport. Film ini juga menjadi media promosi PON XX dengan memasukkan unsur olahraga dalam filmnya. 

 “Jadi dalam film ada juga intrik dimana ada pemeran seorang gadis yang masih SMA bernama Hilda menjadi rebutan antara Zerre dan Drio, karena keduanya sama – sama memiliki keinginan untuk memiliki Hilda akhirnya baik Zerre dan Drio akhirnya berlatih silat,” jelas Ditha. Dari latihan keras ini ternyata bermuara pada sebuah event olahraga dan akhirnya itu digeluti. Sang sutradara, Jiwo menyampaikan bahwa ia ingin mencari sosok rising star dan karakter serta gerakan beladiri dari Yudas dikatakan bagus. 

 Jiwo sendiri mengatakan tidak melihat Yudas bermain film sehingga satu  niatnya adalah bagaimana melahirkan the rising star dari Papua terlebih untuk aktor laga.  Zerre juga dikisahkan sebagai korban bullying dimasa kecil. Namun, ia bisa bangkit dari traumanya dan berupaya menjadi pribadi yang bernilai saat dewasa. Klimaks film ini bakal menghadirkan aksi Zerre berhadapan dengan geng sindikat mafia Human Traficking dan narkoba pada saat berjuang untuk menjadi juara pencak silat PON Papua. “Saya sendiri tidak menyangka bakal diterima sebab  awalnya saya hanya diberi brosur dan diminta coba ikut casting dan saat dikatakan lolos saya bingung, apakah mau menangis atau ketawa tapi saya banyak belajar dari Mas Jiwo, beliau sangat membantu,” beber Yudas dalam Meet and Greet.

 Yudas menceritakan hal lucu dalam proses ia mencoba mengikuti casting dimana saat itu ia sudah lulus kuliah kemudian mau pulang dan saat itu ia sudah mengikuti casting. Yudas sempat berfikir bahwa ia sulit atau mungkin tidak akan tembus karena tidak memiliki bekal apapun dalam acting. Akhirnya ia tetap memesan tiket untuk pulang tapi akhirnya ia dinyatakan lolos bahkan menjadi pemeran utama. 

 “Tanggal 14 kami casting dan tanggal 21 saya disuruh kembali. Tapi kakak saya telepon suruh pulang ke Bintuni. Saat saya pamitan, mas Rinda yang menjadi mentor meminta tahan dulu tapi saya tetap memesan tiket untuk penerbangan tanggal 4 Desember. Eh tidak tahunya saya tanggal 30 November diumumkan lolos dan langsung disuruh menghadap sutradara,” kenang Yudas. Disini iapun percaya jika memang ada tekad dan usaha keras maka tak ada yang tak mungkin.

 “Saya ingin sampaikan kepada teman – teman untuk tidak minder, lakukan jika itu bisa dan jangan cepat putus asa serta tetap percaya diri karena siapa saja bisa mewujudkan cita-cita jika diniati,” tambahnya. Dalam pembuatan film ini juga banyak “menjual”potensi kekayaan dan keindahan alam Papua. Salah satu adegan aksi dalam film Zerre diambil di Teluk Youtefa  termasuk di Air Terjun Kampung Harapan, Bukit Buper Waena, serta Pantai Base G. Film ini sendiri akan diputar  perdana di layar lebar pada 7 Oktober mendatang. (*)